HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Tragedi Aceh Tamiang Jadi Alarm Keras bagi Orang Tua dan Pengelola Kolam Renang

Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Riuh rendah tawa anak-anak di sebuah kolam renang seketika berubah menjadi jerit duka yang memilukan. Senin ...

Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Riuh rendah tawa anak-anak di sebuah kolam renang seketika berubah menjadi jerit duka yang memilukan. Senin (6/7/2026) sore, sekitar pukul 14.00 WIB, menjadi momen kelam bagi sebuah keluarga di Kampung Semadam, Dusun Harum Sari. Putri kecil mereka, NA, yang baru berusia 9 tahun, mengembuskan napas terakhir setelah tenggelam di Kolam Renang Folenda, Desa Bukit Rata.

Tragedi ini kembali menghentak kesadaran publik: sejauh mana ruang rekreasi ramah anak benar-benar menjamin keselamatan, dan seberapa ketat pengawasan yang kita berikan?

Kronologi yang Menyayat Hati

Sore itu, NA datang ke kolam renang dengan gembira, didampingi oleh kedua orang tuanya, H dan SH. Layaknya anak-anak yang menyukai air, NA langsung berbaur, asyik bermain dan berlomba menyelam bersama teman-temannya.

Namun, petaka mengintai di balik jernihnya air. Diduga karena luput dari pengawasan orang dewasa, keceriaan itu berubah menjadi senyap. Pengurus kolam dan pengunjung tiba-tiba dikejutkan oleh tubuh bocah malang tersebut yang sudah mengambang tak bergerak di permukaan air.

Seorang pengunjung yang sigap langsung melompat untuk memberikan pertolongan pertama. Di saat yang sama, ayah korban yang awalnya tidak mengetahui kegaduhan apa yang sedang terjadi, melangkah mendekat. Bak disambar petir di siang bolong, sang ayah mendapati sosok yang tengah terbujur kaku di tepi kolam adalah darah dagingnya sendiri.

"Ayah korban syok karena korban sudah dalam keadaan tidak bergerak," ungkap Kepala Desa Kampung Semadam, Musrianto, saat mengonfirmasi musibah memilukan tersebut.

Meskipun korban sempat dilarikan ke RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang demi secercah harapan, takdir berkata lain. Tim medis menyatakan NA telah tiada. Isak tangis pun pecah saat jenazah korban dibawa pulang menuju rumah duka.

Evaluasi Bersama: Antara Kelalaian Orang Tua dan Tanggung Jawab Pengelola

Kematian NA bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan. Ini adalah potret nyata dari bahaya tersembunyi yang kerap diabaikan. Peristiwa ini menjadi teguran keras bagi dua pihak utama:

Bagi Orang Tua: Air bisa menjadi tempat bermain yang mematikan hanya dalam hitungan detik. Pengawasan melekat (active supervision) mutlak diperlukan. Memastikan anak tetap dalam jangkauan pandangan adalah benteng pertama keselamatan mereka.

Bagi Pemilik Usaha Kolam Renang: Keuntungan bisnis tidak boleh di atas keselamatan nyawa. Pengelola wajib menyediakan tim penyelamat (lifeguard) yang bersertifikat, terlatih, dan fokus berjaga di tepi kolam, bukan sekadar menjaga loket tiket. Kerap terjadinya musibah di tempat rekreasi air harus dihentikan dengan standardisasi keamanan yang ketat.

Kini, riak air di Kolam Renang Folenda telah tenang, namun duka mendalam di hati keluarga NA akan membekas selamanya. Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir, dan menjadi pelajaran mahal bagi setiap orang tua serta pelaku usaha demi melindungi nyawa anak-anak kita.[]L24 Sai