Senyum lega para peserta UKW PWI Aceh Angkatan XXI (jenjang Muda dan Madya) saat foto bersama dengan Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, usai sere...
Lentera24.com | BANDA ACEH – Ketegangan yang menyelimuti ruang ujian di Hotel Amel, Banda Aceh, seketika pecah menjadi gemuruh tepuk tangan dan tawa lega pada Kamis sore, 16 Juli 2026. Wajah-wajah lelah dan kusut para kuli tinta yang telah berjuang selama dua hari penuh langsung sirna begitu hasil akhir diumumkan.
Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Aceh Angkatan XXI resmi ditutup dengan catatan manis: seluruh peserta dinyatakan lulus 100 persen dan menyandang status kompeten.
Koordinator Penguji sekaligus Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat, Nurchalis Basyari, mengapresiasi tinggi perjuangan para peserta. Dari 36 wartawan yang mendaftar, satu peserta di jenjang Madya terpaksa absen karena sakit, menyisakan 35 jurnalis yang bertarung membuktikan profesionalisme mereka di hadapan enam penguji nasional.
“Atas nama tim penguji, kami sangat mengapresiasi perjuangan rekan-rekan. Harus kami akui, ada momen di mana kami memberikan toleransi agar peserta memperbaiki kesalahan, dan mereka mampu mengikuti arahan dengan sangat baik. Hasilnya, setelah proses ketat, semua dinyatakan kompeten,” ujar Nurchalis disambut sorak bahagia.
Menundukkan Ego di Ruang Uji
Sisi humanis UKW kali ini tergambar jelas saat perwakilan peserta naik ke panggung untuk menyampaikan kesan mereka. Suasana yang semula formal berubah menjadi penuh keharuan sekaligus tawa.
Siti Hawa, peserta jenjang Muda asal PWI Aceh Tamiang, bahkan sempat kehilangan kata-kata karena saking bahagianya. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sang penguji.
“Terima kasih untuk Pak Iranda Novandi yang telah membimbing saya dengan sabar, sehingga saya bisa melewati semua arahan sulit di ruang uji,” ucap Siti.
Cerita menggelitik datang dari Ray Iskandar, jurnalis senior asal Langsa yang mengikuti jenjang Madya. Pengalamannya bertahun-tahun di lapangan ternyata sempat membuatnya "tertampar" saat diuji.
“Sebagai wartawan, selama ini saya merasa paling hebat kalau sudah di lapangan. Tapi setelah masuk ke ruang uji tadi, saya langsung merasa bukan apa-apa,” aku Ray jujur, yang langsung memicu tawa riuh dari para penguji dan Ketua PWI Langsa, Putra Zulfirman, yang setianya mendampingi.
Angkatan Wartawan Kompeten Aceh Bertambah
Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, saat menutup acara secara resmi menyampaikan bahwa kelulusan ini otomatis menambah amunisi jurnalis profesional di Serambi Mekah.
Kini, peta sebaran wartawan kompeten di bawah naungan PWI Aceh menjadi:
- Jenjang Muda: Bertambah menjadi 256 orang.
- Jenjang Madya: Meningkat menjadi 109 orang.
- Jenjang Utama: Tetap bertahan di angka 57 orang (tidak ada pendaftar pada angkatan ini).
Nasir mengingatkan bahwa status kompeten bukan sekadar gelar di atas kertas, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang besar terhadap publik.
“Kami berharap status ini benar-benar meningkatkan kualitas produk jurnalistik di Aceh. Pastikan setiap jurnalis bekerja di koridor UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan menaati Kode Etik Jurnalistik,” tegas Nasir.
Agenda besar ini sukses terlaksana berkat kolaborasi erat antara PWI Pusat, PWI Aceh, seluruh pengurus kabupaten/kota, serta dukungan penuh dari Pemerintah Aceh—yang pada pembukaan diwakili Staf Ahli Dr. Husnan, ST, MP—serta para mitra kerja dari dunia usaha.
