HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Ironi Jantung Kota: 10 Tahun Jalan Rumah Mertua Wakil Walikota Langsa Bak Kubangan Kerbau, Warga: Kami Seperti Anak Tiri

Lentera24.com | LANGSA –  Di balik gemerlap dan dinamisnya pusat Kota Langsa, tersimpan sebuah ironi kelam yang harus ditelan bulat-bulat o...

Lentera24.com | LANGSA – Di balik gemerlap dan dinamisnya pusat Kota Langsa, tersimpan sebuah ironi kelam yang harus ditelan bulat-bulat oleh warga Dusun 3, Jalan H.M. Amin, Gampong Meutia, Kecamatan Langsa Kota. Sudah satu dekade atau 10 tahun lamanya, akses jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer di wilayah strategis ini dibiarkan rusak parah tanpa tersentuh perbaikan. Kondisinya memprihatinkan—becek, berlubang, dan tak ubahnya bak kubangan kerbau saat hujan tiba.

​Anehnya, jalur yang menyerupai kubangan ini justru merupakan akses utama menuju kediaman mertua dari Wakil Walikota Langsa sendiri. Sebuah fakta mencolok yang memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: Bagaimana bisa infrastruktur sepanjang 1 KM di lingkar eksekutif justru luput dari perhatian?

​Diperparah Banjir Hidrometeorologi, Warga Taat Pajak Terasa Diperlakukan bak 'Anak Tiri'

​Penderitaan warga kian memuncak setelah wilayah tersebut dihantam bencana banjir hidrometeorologi pada akhir November tahun lalu. Sisa-sisa terjangan banjir tersebut menyisakan kerusakan yang jauh lebih parah, memperdalam lubang-lubang jalan, dan mengikis lapisan tanah yang membuat akses transportasi warga kian lumpuh.

​Ironi ini terasa kian menyakitkan bagi warga setempat. Sebagai masyarakat yang hidup di pusat kota, mereka mengaku selalu menunaikan kewajiban membayar pajak sama seperti warga Kota Langsa lainnya. Namun, hak mereka untuk menikmati fasilitas jalan yang layak seolah dirampas oleh waktu.

​"Lihatlah bang, jalan di dusun kami ini sudah lebih dari 10 tahun rusak tanpa pernah diperbaiki. Setidaknya ditimbunlah di bagian yang berlubang parah dan becek," ujar seorang warga dengan nada kecewa, menunjukkan sisa-sisa genangan air yang mengotori pemukiman mereka.


​Sisi humanis dari persoalan ini kian kentara saat hujan mengguyur Kota Langsa. Air tidak hanya menggenangi jalanan sepanjang hampir 1 KM yang rusak tersebut, tetapi kerap meluap hingga masuk ke dalam rumah-rumah warga. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun, menciptakan kesan kumuh dan tertinggal di tengah-tengah kawasan yang seharusnya menjadi etalase kota.

​"Kami merasa seperti anak tiri. Daerah ini terkesan kumuh dan tertinggal, sama sekali tidak ada perhatian. Setiap hujan, air tergenang di seluruh jalan bahkan masuk ke dalam rumah. Ini sudah terjadi bertahun-tahun," keluh warga emosional, menggambarkan betapa melelahkannya menjadi korban kelambanan pembangunan.

​Alasan Klasik Anggaran dan Janji Manis Rekonstruksi di Tahun 2027

​Di sisi lain, lambannya respons pemerintah daerah kerap berlindung di balik dinding birokrasi dan "alasan klasik". Pemerintah Kota Langsa melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta perangkat Gampong mengklaim bahwa usulan perbaikan jalan ini sebenarnya sudah diajukan sejak beberapa tahun lalu melalui berbagai tahapan perencanaan.


Namun, keterbatasan anggaran daerah dan pergeseran skala prioritas selalu menjadi kambing hitam mengapa jalan Dusun 3 ini terus-menerus tergeser dari daftar realisasi.

​Menanggapi keluhan yang kian memuncak, Kepala Dinas PUPR Kota Langsa, Muzammil, S.STP, MSP, melalui Kabid Bina Marga, Umar Vartiono, ST, memberikan klarifikasi saat dihubungi. Umar menjelaskan bahwa kerusakan di lokasi tersebut sudah masuk dalam tingkat kronis yang tidak bisa lagi sekadar "ditambal sulam".

​"Kami sudah melakukan survei langsung ke lokasi. Jalan tersebut memang tidak bisa lagi dilakukan perbaikan biasa (pemeliharaan), sehingga masuk dalam kategori rekonstruksi atau pembuatan ulang total," jelas Umar.

​Pihak PUPR pun kembali melempar janji segar untuk masa depan. Kali ini, proyek pengerjaan jalan tersebut ditargetkan baru akan menyentuh tanah pada tahun depan.

​"Dalam hal ini, kami sudah mengajukan (anggaran) untuk tahun 2027 melalui Dana Otsus Aceh (DOKA). Insya Allah, pada APBK Perubahan ini kami akan ajukan dokumen perencanaannya terlebih dahulu. Kami akan kawal terus agar tahun 2027 bisa dilakukan rekonstruksi total," pungkas Umar optimis.

​Menanti Pembuktian, Bukan Sekadar Rencana

​Masyarakat Gampong Meutia kini hanya bisa memegang janji tersebut sembari tetap harus melewati kubangan air sepanjang 1 KM setiap hari. Bagi netizen dan publik Kota Langsa, kasus Jalan H.M. Amin ini menjadi catatan merah sekaligus ujian bagi komitmen Pemerintah Kota Langsa.

​Apakah janji rekonstruksi di tahun 2027 benar-benar akan terealisasi, ataukah warga Dusun 3 harus kembali merayakan "ulang tahun" kerusakan jalan mereka yang ke-11 dalam balutan genangan air dan lumpur pasca-banjir? Publik akan terus mengawal.[]L24.Sar