HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Chaidir Saleh Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Kini Cetak Petani Melon Milenial di Aceh Tamiang

Lentera24.com|ACEH TAMIANG – Berawal dari empat kali gagal panen dan harus menjalani hidup di atas kursi roda akibat stroke ringan, Chaidir...



Lentera24.com|ACEH TAMIANG – Berawal dari empat kali gagal panen dan harus menjalani hidup di atas kursi roda akibat stroke ringan, Chaidir Saleh (62) kini justru menjadi mentor utama bagi petani milenial dalam Program Smart Agriculture Melonesia yang digagas Pertamina EP Field Rantau. Dari kebun Melon Golden Alisha miliknya di Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, ia mentransfer pengalaman dan formula budidaya yang telah mengantarkannya menghasilkan melon berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Di kebun seluas tiga rante atau sekitar 1.200 meter persegi yang berada di dekat Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7), Chaidir membimbing para peserta Sekolah Lapang meski harus memberikan arahan dari atas kursi roda. Sore itu, dua perempuan muda tampak menggemburkan media tanam di dalam polybag sebagai persiapan penanaman pascabanjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025.

"Mereka sedang fermentasi tanah dengan sekam bakar dan pupuk kandang. Cukup digemburkan bagian atas polybag-nya saja," ujar Chaidir saat memberikan arahan kepada para peserta pelatihan.

Semangat Chaidir tidak pernah surut meski kesehatannya menurun sejak akhir 2024. Dengan sistem budidaya menggunakan polybag berukuran 50 x 60 sentimeter, jarak tanam yang teratur, serta teknik pemangkasan batang dan daun, ia berhasil menghasilkan Melon Golden Alisha F1 yang dikenal memiliki kualitas tinggi.

Perjalanan menuju keberhasilan itu tidak mudah. Selama tujuh tahun menekuni budidaya melon, Chaidir sempat mengalami empat kali gagal panen berturut-turut. Pada 2020, ia berhasil memanen buah, tetapi rasanya masih hambar sehingga harus dijual di bawah harga pasar. Pengalaman tersebut mendorongnya terus belajar hingga menemukan formula menghasilkan melon dengan tingkat kemanisan yang optimal.

Menurut Chaidir, salah satu kunci keberhasilan terletak pada waktu panen yang tepat, yakni 60 hingga 70 hari setelah tanam, disertai perawatan dan pemupukan yang disiplin sejak fase vegetatif hingga panen.

Keberhasilan itu membuat permintaan pasar terus meningkat, bahkan pesanan dari swalayan dan pusat perbelanjaan modern sering kali melampaui kapasitas produksi kebunnya. Hasil usaha tersebut juga mampu menopang perekonomian keluarga hingga mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Setelah terserang stroke ringan pada Desember 2024, aktivitas pertanian Chaidir sempat terhenti. Melihat dedikasi dan pengalaman yang dimilikinya, Pertamina EP Field Rantau kemudian menggandengnya sebagai mentor utama Kelompok Tani Melon Mutiara melalui Program Smart Agriculture Melonesia.

Dalam program tersebut, Chaidir membagikan teknik budidaya, formula menghasilkan melon berkualitas, serta inovasi media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam. Inovasi itu mampu menekan biaya penggunaan media tanam dari sekitar Rp8.000 menjadi hanya Rp400 hingga Rp500 per siklus.

Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari upaya regenerasi petani dan transfer pengetahuan kepada generasi muda.

"Bapak Chaidir Saleh punya pengalaman panjang menjadi petani sehingga memberikan materi formula budidaya melon. Nantinya akan ada 12 kali pertemuan Sekolah Lapang yang dimentori Pak Chaidir," ujarnya.

Menurut Iwan, program tersebut merupakan upaya nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi sekaligus menjadikan Melon Golden Alisha sebagai salah satu ikon baru pertanian Aceh Tamiang.L24.SWJ.