HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Mewarnai Senyum di Tualang Cut: Aksi Seru Dosen UNSAM Pulihkan Ceria Anak Pasca Banjir

Lentera24.com | ACEH TAMIANG , 14 Februari 2026 – Trauma pasca bencana seringkali menjadi luka tak kasat mata bagi anak-anak. Menyadari hal ...

Lentera24.com | ACEH TAMIANG, 14 Februari 2026 – Trauma pasca bencana seringkali menjadi luka tak kasat mata bagi anak-anak. Menyadari hal tersebut, tim dosen PGSD dan mahasiswa lintas jurusan Universitas Samudra (UNSAM) hadir membawa keceriaan di SD Negeri 02 Tualang Cut, Manyak Payed. Lewat kolaborasi bersama LPPM UNSAM, mereka menyulap ruang kelas menjadi arena bermain kreatif yang penuh tawa.


Menghapus Mendung dengan Kreativitas

Bagi anak-anak di Tualang Cut, suara guntur dan rintik hujan yang deras sempat menjadi sumber kecemasan. "Apakah takut kalau hujan datang?" tanya salah satu tim pengabdi. Jawaban polos penuh kekhawatiran dari para siswa menjadi alasan kuat mengapa kegiatan trauma healing ini sangat krusial.


Dosen dan mahasiswa UNSAM mengambil peran garda terdepan dalam mendampingi adik-adik ini. Melalui metode Bermain Kreatif, mereka mengajak anak-anak menumpahkan segala emosi melalui warna. Menggunakan konsep alam, anak-anak diajak mewarnai kanvas dengan pesan mendalam: jika kita menjaga alam, maka alam akan memberikan keindahan.


Keseruan yang Tak Terlupakan

Tak hanya sekadar mewarnai, suasana semakin pecah saat mahasiswa memandu berbagai kegiatan interaktif:


Ice Breaking Enerjik: Gerak dan lagu yang membuat anak-anak lupa sejenak akan sisa-sisa banjir.


Story Telling Ajaib: Dosen membawakan cerita-cerita inspiratif yang membangkitkan keberanian (resiliensi) mereka.


Permainan Ketangkasan: Berbagai games seru yang melibatkan kerja sama tim dan tawa lepas.


Bingkisan Ceria: Sebagai penutup, setiap anak membawa pulang bingkisan spesial sebagai kenang-kenangan bahwa mereka tidak sendirian.


  • "Kami ingin mereka tahu bahwa setelah hujan badai, selalu ada pelangi. Melalui warna-warni krayon di atas kanvas, kami melihat harapan baru tumbuh di mata mereka," ujar Arifah Prima Satrianingrum, mewakili tim dosen (Wahyu Agus Styani, Helmi Ghoffar, dan Adrian Yudha Bangsa).


Aksi nyata ini membuktikan bahwa pemulihan psikososial melalui pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam menyentuh hati anak-anak. Dosen dan mahasiswa bukan hanya hadir sebagai pengajar, tapi sebagai kakak, teman bermain, dan pelipur lara bagi generasi masa depan Aceh Tamiang.[] L24Arifah Prima Satrianingrum