HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Aceh Timur "Dihantam" Badai Debu: Rakyat Tercekik ISPA, Pemerintah Dinilai Lamban Berbenah!

Badai debu pekat yang menerjang pemukiman warga di Kecamatan Pante Bidari, mulai dari Gampong Blang Seunong hingga Pante Rambong.(Dok Lentee...

Badai debu pekat yang menerjang pemukiman warga di Kecamatan Pante Bidari, mulai dari Gampong Blang Seunong hingga Pante Rambong.(Dok Lenteea24./Safrizal).


Lentera24.com | ACEH TIMUR – Pasca-bencana ekologis yang melumpuhkan Aceh Timur, penderitaan rakyat bukannya berakhir, justru memasuki babak baru yang mematikan. Endapan lumpur sisa banjir yang dibiarkan mengering kini menjelma menjadi "badai debu" pekat yang menerjang pemukiman warga di Kecamatan Pante Bidari, mulai dari Gampong Blang Seunong hingga Pante Rambong.

Kondisi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan potret nyata pengabaian pasca-bencana. Tiga minggu cuaca ekstrem dan lalu lintas kendaraan telah mengubah sisa lumpur menjadi partikel halus yang merusak paru-paru warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat.

Data di lapangan menunjukkan alarm bahaya yang nyata. Di Dusun Peulalu, dari 55 warga yang memeriksakan kesehatan, mayoritas mutlak mengeluhkan batuk hebat dan gangguan pernapasan.

"Masker hanya bantuan jangka pendek. Anak-anak yang sekolah di tenda darurat setiap hari 'menelan' debu ini. Kita butuh solusi permanen, bukan sekadar basa-basi bantuan logistik," tegas Nuraki, seorang relawan di lokasi, Rabu (11/02/2026).

Penyebaran debu ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga melumpuhkan sendi kehidupan sosial dan spiritual.

Ancaman ISPA & Penyakit Kulit, lansia dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang kini bertaruh nyawa di bawah kepulan debu.

Lumpuhnya Ritual Keagamaan: Masjid-masjid di pinggir jalan tidak lagi suci dari kotoran debu masuk ke ruang shalat, mengganggu kekhusyukan ibadah warga.

Upaya warga menyiram jalan pun nihil hasil karena sumur-sumur mereka masih tertimbun material lumpur yang tak kunjung dibersihkan secara total.

Publik kini mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur dan BPBD dalam proses pemulihan. Warga mendesak agar pembersihan total sisa lumpur dilakukan segera, bukan menunggu hingga jatuh korban jiwa akibat infeksi pernapasan.

Tuntutan keras pun dialamatkan pada penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca-bencana (R3P). Isu lingkungan tidak boleh hanya menjadi catatan kaki, melainkan harus menjadi prioritas utama agar bencana serupa tidak berulang dan masyarakat tidak terus-menerus hidup dalam "paru-paru yang berdebu".

Bencana banjir mungkin sudah surut, namun pengabaian terhadap residu lumpur membuktikan bahwa manajemen pasca-bencana di Aceh Timur masih jauh dari kata becus. Pemerintah tidak boleh hanya hadir saat air pasang, tapi menghilang saat debu menyerang.[]L24.Zal