HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Akses Vital Terabaikan, Warga Manerampak Bahu-Bahu Bangun Jembatan Darurat

Lentera24.com | ACEH TIMUR — Semangat gotong royong membumbung tinggi di pinggiran sungai penghubung Gampong Manerampak dan Gampong Lhok Ra...

Lentera24.com | ACEH TIMUR — Semangat gotong royong membumbung tinggi di pinggiran sungai penghubung Gampong Manerampak dan Gampong Lhok Rambong, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Tanpa menunggu kepastian yang tak kunjung datang, puluhan warga turun tangan merangkai batang demi batang kayu, merajut kembali urat nadi kehidupan mereka yang sempat terputus.

Jembatan utama yang menjadi tumpuan mobilitas warga roboh diterjang derasnya arus banjir sejak akhir November 2025 lalu. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda penanganan permanen dari pihak terkait. Enggan melipat tangan dan pasrah pada keadaan, warga Dusun Paya Seuke melangkah bersama membangun jembatan darurat secara swadaya.

Bagi mereka, jembatan ini bukan sekadar kayu yang melintang di atas sungai, melainkan jembatan harapan bagi denyut ekonomi dan pendidikan anak-anak desa.

"Jembatan ini merupakan akses penting bagi warga Dusun Paya Seuke menuju pusat pemerintahan desa. Selain itu, jembatan ini juga menjadi satu-satunya akses bagi anak PAUD, pelajar SD, SMP hingga SMA untuk menuju sekolah mereka, sekaligus penghubung menuju Gampong Lhok Rambong," ungkap Keuchik Gampong Manerampak, Badruzzaman, Rabu (12/8/2026).

Bertahan dalam Keterbatasan

Di bawah terik matahari dan dorongan rasa kebersamaan, material seadanya yang dikumpulkan dari kantong warga sendiri disulap menjadi laluan sementara. Badruzzaman menyadari betul, struktur kayu darurat yang mereka dirikan memiliki keterbatasan dan tidak akan mampu bertahan lama menghantam cuaca.

Ketahanan Terbatas: Jembatan swadaya ini diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 3 hingga 4 bulan.

Ancaman Banjir Susulan: Ketahanan jembatan sangat bergantung pada debit air sungai di musim mendatang.

Harapan Pembangunan: Warga sangat mendesak adanya respons cepat dari pemerintah daerah sebelum jembatan ini kembali ambruk.

"Secara bergotong royong kami membangun jembatan darurat ini. Namun, kemungkinan hanya bertahan tiga sampai empat bulan. Kami sangat berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan berbagai pihak agar jembatan permanen bisa segera dibangun," tutur Badruzzaman dengan nada penuh harap.

Menanti Kepedulian Nyata

Kekhawatiran senada diungkapkan oleh Ajad, salah seorang warga yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya pada akses tersebut. Menurutnya, anak-anak sekolah dan warga yang hendak mengangkut hasil pertanian menjadi pihak yang paling terdampak jika akses ini kembali terputus.

"Kami sangat berharap ada kepedulian nyata. Jembatan ini adalah urat nadi aktivitas kami sehari-hari. Jangan sampai anak-anak kami terhambat sekolahnya hanya karena jembatan yang tak kunjung diperbaiki," tegas Ajad.

Kini, raut lelah warga berbalut harapan besar. Merpati darurat telah dibentangkan lewat keringat swadaya, namun kepastian penanganan permanen dari pemerintah tetap menjadi doa utama yang mereka tunggu realisasinya.[]L24.Zal