Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Pembahasan mengenai masa depan Kota Tua Kualasimpang sebagai kawasan warisan budaya ( heritage ) bukan sek...
Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Pembahasan mengenai masa depan Kota Tua Kualasimpang sebagai kawasan warisan budaya (heritage) bukan sekadar wacana baru. Jauh sebelum topik ini kembali hangat diperbincangkan, gagasan untuk merawat dan menata kawasan bersejarah tersebut sejatinya telah dirintis secara serius sejak akhir Oktober 2025.
Inisiatif tersebut lahir dari kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan Yayasan Nata Budaya Nusantara. Bukan sekadar rencana di atas kertas, upaya perintisan Kota Tua Kualasimpang diwarnai dengan survei lapangan, pendataan arsitektur kuno, hingga perancangan konsep ekonomi berbasis pariwisata sejarah.
Ketua Yayasan Nata Budaya Nusantara, Nuriza Auliatami, mengungkapkan bahwa langkah awal penataan Kota Tua Kualasimpang bermula dari komunikasi langsung dengan Bupati Aceh Tamiang saat itu, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H.
"Pada 20 Oktober 2025 sore, Bupati Armia Pahmi menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai niat beliau mengembangkan Kota Tua Kualasimpang menjadi kawasan heritage yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata sejarah daerah," kenang Nuriza.
Bagi Pemkab Aceh Tamiang dan Nata Budaya Nusantara, penataan Kota Tua Kualasimpang tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik bangunan tua, tetapi juga menyentuh denyut ekonomi masyarakat lokal. Salah satu gagasan utama yang digodok adalah penataan pedagang kaki lima melalui pemusatan aktivitas perdagangan di sekitar kawasan kota tua, lengkap dengan desain gerobak yang seragam agar selaras dengan identitas visual kawasan wisata sejarah. Sentuhan awal bahkan dirancang secara bertahap, mulai dari pembaruan warna fasad bangunan-bangunan lama yang masih berdiri.
Menyusuri 118 Bangunan Bersejarah
Komitmen tersebut ditindaklanjuti secara cepat. Tiga hari setelah pembicaraan awal—tepatnya pada 23 Oktober 2025—tim Yayasan Nata Budaya Nusantara turun langsung menyusuri sudut-sudut Kota Tua Kualasimpang. Kegiatan survei ini didampingi langsung oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Mustafa Kamal (Mustang Zevelin), beserta stafnya.
Tim melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap pertokoan dan bangunan lama yang masih tersisa. Hasil pendataan yang dipaparkan hingga sore hari mencatat bahwa terdapat 118 unit pertokoan lama yang dinilai memiliki potensi historis kuat untuk dijadikan inti dari kawasan heritage Kota Tua Kualasimpang.
"Sebanyak 118 ruas toko lama masih sangat potensial untuk dijadikan objek penting dalam pengembangan Kota Tua Kualasimpang. Sementara bangunan lainnya telah mengalami perubahan besar dan tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya," jelas Nuriza.
Keseriusan Pemkab Aceh Tamiang terlihat pada malam harinya. Usai menyelesaikan agenda kedinasan yang padat, Bupati Armia Pahmi menyempatkan diri mendatangi Kantor Sekretariat Daerah Aceh Tamiang untuk mendengarkan langsung pemaparan hasil survei. Pertemuan berlangsung hangat di ruang kerja Sekretaris Daerah, mengingat ruang kerja bupati saat itu sedang dalam proses renovasi.
Harapan yang Tertunda Bencana
Sayang, rencana besar untuk membawa rancangan Kota Tua Kualasimpang ke tingkat nasional sempat terhenti. Sekitar sebulan setelah survei dilakukan, Aceh Tamiang dilanda bencana banjir besar yang memaksa pemerintah daerah mengalihkan seluruh fokus pada penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.
Padahal, menurut Nuriza, saat itu agenda pertemuan antara Bupati Aceh Tamiang dan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta sudah berada dalam tahap penyusunan jadwal.
Kini, ketika wacana penataan dan pelestarian Kota Tua Kualasimpang kembali menguat, dokumentasi serta data rekam jejak Oktober 2025 tersebut menjadi pijakan penting. Hal ini membuktikan bahwa Pemkab Aceh Tamiang bersama Yayasan Nata Budaya Nusantara telah meletakkan pondasi awal yang nyata dalam merawat identitas dan warisan sejarah daerah. []L24.Sai
