Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Ada yang beda nih di Desa Ujung Tanjung, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang pada Jumat (10/7/202...
Bukan di hotel bintang lima atau ruang rapat ber-AC yang kaku, sebuah revolusi kesehatan pangan justru dimulai langsung dari teras rumah warga dan tepi dermaga. Circle nelayan setempat kedatangan tamu spesial yang siap sharing ilmu daging!
Demi merombak total sektor perikanan biar lebih sehat dan maju, Prof. Dr. Ir. Sudjana, PhD, Staf Ahli Kepresidenan Bidang Kelautan dan Perikanan, memilih untuk turun langsung menyapa akar rumput di Kabupaten Aceh Tamiang. Nggak tanggung-tanggung, profesor yang juga sang penemu formula keren ini datang buat mendemonstrasikan bumbu penyegar ikan alami bernama 'aTmatsya'.
Satset Nggak Pake Lama: Cuma Butuh 3 Menit!
Kalau beberapa hari lalu pengenalan produk baru ini cuma sebatas teori formal di atas kertas, kali ini Prof. Sudjana pengen para nelayan, pedagang, dan emak-emak pengolah ikan melihat langsung buktinya secara riil. No hoax, no gimmick!
Di depan sekitar 50 peserta—mulai dari nelayan, masyarakat pesisir, penyuluh, staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sampai Sekretaris Dinas Pangan Kelautan dan Perikanan (DPKP) Aceh Tamiang, Syukri, SP., M.Si.—Prof. Sudjana langsung menyingsingkan lengan baju. Beliau mempraktikkan betapa simple-nya menjaga kesegaran ikan. Cukup ikuti langkah satset ini:
Ambil wadah, lalu isi dengan air asin (air laut) yang bersih. Campurkan bumbu penyegar alami aTmatsya ke dalam air. Masukkan ikan laut yang baru ditangkap, lalu rendam sekitar 3 menit saja. Angkat ikan, terus tata rapi di dalam peti es atau cool box.
"Cuma butuh waktu tiga menit perendaman, tapi dampaknya luar biasa karena mampu menjaga kualitas protein, tekstur, dan kesegaran ikan hingga 40 hari ke depan. Yang paling penting, ini 100 persen bahan alami, tanpa setetes pun bahan kimia!" ujar Prof. Sudjana sambil tersenyum lebar dan memamerkan ikan hasil rendaman kepada warga.
Jaga Kesehatan Sekaligus Bikin Dompet Nelayan Happy
Edukasi di lapangan ini terasa hidup banget karena komunikasinya berjalan dua arah. Warga nggak cuma nonton pasif, tapi juga diajak berdialog santai. Momen ini jadi langkah penting buat memutus mata rantai penggunaan bahan pengawet berbahaya kayak formalin dan boraks yang selama ini bikin cemas masyarakat.
Lebih dari sekadar urusan kesehatan, inovasi aTmatsya ini juga jadi angin segar buat kestabilan finansial para nelayan. Selama ini, musuh terbesar nelayan adalah waktu. Ikan yang cepat membusuk bikin harga jual langsung anjlok pas didistribusikan ke tempat jauh.
Nah, dengan kesegaran ikan yang bisa bertahan jauh lebih lama, risiko kerugian bisa ditekan sampai titik terendah. Efeknya? Nilai jual ikan tangkapan otomatis melonjak dan bikin pendapatan mereka makin stonks!
Titik Balik Kebangkitan Pesisir Manyak Payed
Sekretaris DPKP Aceh Tamiang, Syukri, SP., M.Si., yang hadir langsung untuk membuka dan memantau jalannya acara, memberikan apresiasi setinggi-tingginya buat antusiasme warga yang luar biasa. Beliau berharap demonstrasi ini bukan sekadar acara seremonial yang formalitas belaka, melainkan jadi titik balik bangkitnya industri perikanan di Kecamatan Manyak Payed.
Lewat sentuhan sains modern yang berpadu selaras dengan kearifan lokal, Desa Ujung Tanjung hari ini resmi menanam benih perubahan. Sebuah langkah kecil namun berdampak besar dari pesisir Kabupaten Aceh Tamiang untuk menyajikan ikan yang sehat, aman dikonsumsi, dan pastinya menyejahterakan masyarakat luas.[]L24.SWJ


