HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Di Bawah Langit Tamiang, Isak Haru Paskibraka dan Pesan Mendalam Wabup Ismail: Pancasila Bukan Sekadar Pajangan Dinding

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE, I Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Pagi itu, Senin (1/6/2026), halaman Pendopo Bupati Aceh Tamiang tam...

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE, I

Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Pagi itu, Senin (1/6/2026), halaman Pendopo Bupati Aceh Tamiang tampak berbeda. Suasana khidmat begitu terasa ketika ratusan pasang mata tertuju pada satu titik: bendera Merah Putih yang berkibar gagah. Di tengah kedisiplinan barisan aparatur sipil, TNI, Polri, dan para pelajar, Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE, I., melangkah tegap mengemban amanah sebagai Inspektur Upacara (Irup) Peringatan Hari Lahir Pancasila.

Mengusung tema besar "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", momen ini bukan sekadar rutinitas seremonial saban tahun. Bagi Ismail, peringatan ini adalah alarm pengingat tentang bagaimana merawat sebuah rumah besar bernama Indonesia.

Berdiri di podium, Wakil Bupati Ismail membacakan sambutan hangat dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI. Suaranya yang tegas bergaung, mengingatkan seluruh peserta bahwa di tengah dunia yang makin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian, Indonesia tetap berdiri sekokoh batu karang.

"Indonesia adalah bukti nyata kepada dunia. Bagaimana mungkin negeri dengan belasan ribu pulau dan ratusan etnik bisa disatukan dalam satu ikatan batin yang begitu kuat? Jawabannya adalah Pancasila," ujar Ismail dengan penuh penekanan.

Ia mengibaratkan Pancasila sebagai "bintang penuntun" sekaligus "jangkar moral". Di era digital ketika disrupsi teknologi dan dinamika politik global kerap mengguncang emosi masyarakat, Pancasila-lah yang menjaga bangsa ini agar tidak oleng dan kehilangan arah.

Sisi humanis dari pidato sang Wakil Bupati memuncak saat ia melemparkan pandangannya kepada barisan generasi muda yang hadir. Dengan nada yang lebih menyentuh, Ismail mengajak anak-anak muda Aceh Tamiang untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology).

"Jangan biarkan nilai-nilai luhur Pancasila hanya berakhir sebagai pajangan mati di dinding kantor, atau sekadar deretan teks yang dihafal dalam buku sejarah," tutur Ismail mengingatkan.

Lebih dari itu, ia menitipkan pesan mendalam kepada jajaran birokrasi dan pembuat kebijakan yang hadir, mulai dari Forkopimda hingga para Kepala OPD. Ismail menegaskan bahwa setiap kebijakan publik yang lahir harus memiliki "hati" yang berlandaskan keadilan sosial.

"Pastikan kebijakan kita menjamin hak masyarakat terkecil. Jangan biarkan ada satu pun rakyat kita yang merasa ditinggalkan atau tidak didengar. Kita harus terus bergandengan tangan melawan intoleransi dan radikalisme demi menjaga harmoni di bumi Tamiang ini," tambahnya.


Upacara yang berlangsung tertib dan syahdu tersebut dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, serta tokoh masyarakat.

Namun, atmosfer hangat dan emosional justru memuncak tepat setelah upacara pembubaran barisan selesai. Rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan yang menandai berakhirnya masa tugas anggota Paskibraka tahun 2025. Ada senyum bangga sekaligus binar haru di wajah para pemuda-pemudi terpilih tersebut, menutup hari lahir Pancasila di Aceh Tamiang dengan sebuah pembuktian nyata tentang bakti, disiplin, dan cinta pada tanah air. []L24.Sai