Oleh: Hanan Pratama Putra Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta) Lentera24.com | Pendidikan adalah kompas utama ...
Oleh: Hanan Pratama Putra Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta)
Lentera24.com | Pendidikan adalah kompas utama yang menentukan arah masa depan sebuah bangsa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, diskursus pendidikan di Indonesia mengalami pergeseran menarik. Fokus kita tidak lagi melulu soal utak-atik kurikulum atau metode pembelajaran di kelas, melainkan sudah menyentuh aspek yang sangat mendasar: kesejahteraan jasmani peserta didik.
Di titik inilah, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dan menyita perhatian publik. Secara konseptual, program ini membawa misi yang sangat mulia, yakni mengintervensi kualitas gizi anak sekolah demi mengoptimalkan proses belajar. Namun, di balik keriuhan pelaksanaannya, sebuah pertanyaan kritis menyeruak dari kegelisahan masyarakat: Apakah program ini benar-benar didesain untuk mendongkrak kualitas manusia, atau sekadar formalitas demi memoles citra politik?
Menatap Konsep: Sebuah Harapan Menuju 2045
Secara teoretis, mengaitkan kesehatan fisik dengan capaian akademik bukanlah hal yang keliru. Pemerintah sadar betul bahwa ruang kelas yang nyaman tidak akan banyak berarti jika diisi oleh anak-anak yang menahan lapar atau kekurangan gizi. Anak yang mengalami malnutrisi cenderung memiliki konsentrasi rendah, cepat lelah, dan terhambat secara kognitif.
Ucu Agustini dalam kajian akademiknya di Jurnal Kiprah Pendidikan menegaskan bahwa program seperti MBG berpotensi besar meningkatkan konsentrasi belajar, menekan angka bolos sekolah, dan menjadi batu pijakan penting dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Bahkan, jika kita menengok ke luar negeri, negara-negara maju sudah lama menerapkan program makan siang sekolah sebagai pilar strategi pendidikan mereka. Jika dieksekusi dengan tepat, MBG bukan hanya soal membagikan makanan, melainkan sebuah investasi sosial jangka panjang yang mampu memutus rantai stunting sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu.
Realita Lapangan: Antara Ambisi dan Kesiapan Teknis
Namun, keindahan di atas kertas sering kali membentur tembok realitas yang keras. Persoalan utama MBG hari ini bukan terletak pada ide tulusnya, melainkan pada karut-marut implementasinya di lapangan. Kita harus jujur mengakui bahwa kesiapan teknis program ini masih jauh dari kata matang.
Di berbagai daerah, program ini masih dihadapkan pada rapor merah:
Distribusi yang timpang: Akses yang belum merata antara sekolah di perkotaan dan daerah pelosok.
Rendahnya standar keamanan pangan: Pengawasan yang longgar memicu ancaman higienitas.
Minimnya pelatihan petugas: Pengelola makanan di tingkat lokal sering kali berjalan tanpa panduan gizi yang ketat.
Lemahnya sistem evaluasi: Ketidaktransparan pengawasan membuat celah kebocoran anggaran menjadi sangat lebar.
Dampak dari lemahnya pengawalan ini bukan lagi sekadar spekulasi. Di beberapa daerah, kita dikejutkan oleh laporan kasus keracunan massal yang menimpa para siswa akibat buruknya kualitas pangan yang didistribusikan. Ini adalah alarm keras. Ketika kualitas makanan dikorbankan demi mengejar target kuantitas dan seremoni serah-terima, maka esensi dari program ini telah gagal pada tahap paling awal.
Dilema Skala Prioritas dan Sentuhan Humanis
Sebagai mahasiswa, kita juga tidak bisa menutup mata dari jeritan dunia pendidikan di akar rumput. Di saat anggaran besar digelontorkan untuk sepiring makanan gratis, kita masih melihat atap-atap sekolah di daerah terpencil yang bocor, ruang kelas yang hampir roboh, guru-guru honorer yang menjerit karena upah tak layak, hingga minimnya akses internet dan fasilitas belajar.
Masyarakat wajar jika bertanya-tanya: Mana yang lebih mendesak?
Pendidikan yang berkualitas tidak bisa diselesaikan hanya dengan urusan perut. Ia membutuhkan guru yang sejahtera dan kompeten, fasilitas yang manusiawi, serta sistem pembelajaran yang stabil. Tanpa perbaikan pada akar masalah tersebut, program MBG terancam hanya menjadi kosmetik yang menutupi wajah bopeng pendidikan kita.
Perspektif PAI: Memanusiakan Manusia Secara Utuh
Jika ditinjau dari kacamata Pendidikan Agama Islam (PAI), pendidikan adalah proses komprehensif untuk membangun manusia secara kaffah (utuh)—baik jasmani maupun rohani. Islam memandang fisik yang sehat sebagai sarana untuk beribadah dan menuntut ilmu, namun fisik yang kuat tanpa dibekali karakter yang luhur akan kehilangan maknanya.
Oleh karena itu, program MBG seharusnya tidak berhenti pada aktivitas "membagi dan memakan" semata. Momentum ini harus diintegrasikan sebagai sarana pendidikan karakter (akhlakul karimah). Di sana ada ruang untuk mengajarkan adab makan, membiasakan hidup bersih, menumbuhkan rasa syukur, disiplin, hingga empati sosial. Jika dimensi spiritual dan moral ini diabaikan, maka program ini tak lebih dari sekadar proyek katering raksasa milik negara.
Kesimpulan: Menolak Formalitas
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah gagasan yang lahir dengan niat baik, tetapi niat baik saja tidak pernah cukup untuk mengurus negara. Pemerintah perlu melakukan evaluasi total dan besar-besaran. Pastikan setiap rupiah yang keluar dari anggaran negara benar-benar menjelma menjadi makanan yang aman, bergizi, dan tepat sasaran.
Kita tidak boleh membiarkan generasi muda kita menjadi objek eksperimen politik yang mengutamakan citra ketimbang dampak nyata. Keberhasilan sebuah kebijakan tidak dihitung dari seberapa megah peluncurannya di media massa, melainkan dari seberapa besar manfaat rijal yang dirasakan oleh anak-anak di ruang kelas.
Jangan sampai, program yang digadang-gadang sebagai penyelamat masa depan ini justru berakhir sebagai formalitas kebijakan yang layu sebelum berkembang. Perut anak-anak bangsa harus diisi, tetapi akal dan martabat mereka juga harus tetap dijaga.(*)
