HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Antara Pasrah dan Harapan: Hasanuddin Tak Bisa Sekolah Bersama Kembarannya karena Berjuang Melawan Epilepsi

Lentera24.com | ACEH TIMUR – Riuh rendah tawa anak-anak menyambut tahun ajaran baru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sore itu. Di sebuah...

Lentera24.com | ACEH TIMUR – Riuh rendah tawa anak-anak menyambut tahun ajaran baru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sore itu. Di sebuah sudut Dusun Lingkar Alam, Desa Rambong Lop, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, seorang bocah berusia lima tahun bernama Akbaruddin tampak gagah dengan seragam barunya. Ia bersiap melangkah menjemput masa depan.

Namun, di dalam sebuah rumah sederhana tak jauh dari sana, suasana mendadak senyap. Air mata Mawarni, sang ibu, pecah tak terbendung. Di pelukannya, Hasanuddin—saudara kembar Akbaruddin—hanya bisa duduk lemah. Tatapannya kosong menembus dinding rumah, sementara tubuh mungilnya tiba-tiba menegang kaku.

Sepasang anak kembar, lahir dari rahim yang sama, tumbuh di bawah atap yang sama, namun kini takdir membawa mereka ke jalan hidup yang teramat berbeda. Di saat Akbaruddin bersiap memegang pensil dan bernyanyi bersama teman-temannya, Hasanuddin harus bertaruh nyawa melawan badai di dalam kepalanya sendiri.

Ketika Badai Banjir Mengubah Segalanya

Kehidupan Hasanuddin berubah drastis sejak akhir tahun 2025. Bencana banjir besar yang melanda Aceh Timur saat itu rupanya menjadi awal dari mimpi buruk yang panjang. Sudah hampir satu setengah tahun, bocah malang ini didera serangan kejang yang datang bertubi-tubi tanpa kenal waktu.

"Setiap hari kejangnya bisa datang 10 sampai 20 kali. Tubuhnya menegang kaku, matanya melirik ke atas, lalu badannya langsung lemas," tutur Mawarni dengan suara bergetar menahan tangis, Sabtu (18/7/2026).

Hari demi hari, penyakit itu perlahan merenggut keceriaan Hasanuddin. Perlahan tapi pasti, dunianya mulai menggelap. Penglihatannya mengabur, kata-kata yang dulu mulai bisa ia ucapkan kini menghilang menjadi gumaman tak jelas. Bahkan, untuk sekadar duduk tegak menopang tubuhnya sendiri, ia sudah tidak mampu. Jangankan berlari mengejar kembarannya, menapakkan kaki di lantai pun menjadi kemewahan yang mustahil baginya saat ini.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di RSUD Zubir Mahmud Idi Rayeuk, Hasanuddin didiagnosis menderita epilepsi yang telah memicu gangguan fungsi saraf dan kejiwaan. Tim dokter memberikan satu-satunya jalan keluar: Hasanuddin harus segera dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin di Banda Aceh demi mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.

Tembok Kemiskinan dan Ujian yang Bertubi-tubi

Surat rujukan sudah di tangan, namun langkah keluarga ini terhenti pada sebuah tembok besar bernama kemiskinan. Rencana membawa Hasanuddin ke Banda Aceh terpaksa tertahan.

Ujian hidup keluarga ini kian berlipat ganda. Sang ayah, Munawir Saputra, yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sebagai buruh bangunan, kini justru tak berdaya. Dua bulan terakhir, ia terbaring lemah akibat pembengkakan jantung dan paru-paru. Jangankan mencari nafkah untuk biaya berobat anaknya, untuk dirinya sendiri pun ia kesulitan.

"Kami sudah berusaha semampunya. Menjual apa yang bisa dijual, meminjam ke saudara. Tapi untuk biaya berobat ke Banda Aceh, ongkos perjalanan, dan biaya hidup selama di sana, kami benar-benar tidak sanggup," bisik Mawarni sambil menyeka air mata yang terus meleleh di pipinya.

Sepotong Harapan di Tengah Kepasrahan

Melihat Akbaruddin berangkat ke sekolah sendirian tanpa saudara kembarnya adalah sayatan terdalam di hati Mawarni dan Munawir. Harusnya ada dua pasang sepatu baru, dua tas kecil, dan dua tawa yang menghiasi rumah mereka setiap pagi. Namun kini, yang tersisa hanyalah keheningan dan doa-doa yang dirapalkan di sela-sela napas berat Hasanuddin.

Di antara rasa pasrah atas himpitan ekonomi dan kondisi fisik yang kian melemah, secercah harapan menolak untuk padam di hati kedua orang tua ini. Mereka menolak menyerah pada takdir.

"Apa daya kami selain berdoa dan berharap. Kami hanya ingin anak kami selamat, bisa sembuh, punya masa depan, bisa sekolah dan tumbuh seperti anak-anak lainnya," ucap Mawarni penuh harap.

Kisah Hasanuddin bukan sekadar cerita tentang penyakit, melainkan potret perjuangan berdarah-darah sebuah keluarga di pelosok Aceh Timur yang sedang mengetuk pintu langit dan hati para dermawan. Mereka hanya bermimpi, suatu hari nanti, Hasanuddin bisa kembali menggandeng tangan kembarannya, Akbaruddin, berjalan beriringan menuju sekolah.[]L24.Zal