HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

SDN Malabar II, Jejak Sekolah Rakyat Tertua di Jawa Barat yang Dirawat PTPN Group

Lentera24.com | Pangalengan, Bandung – Di tengah hamparan hijau perkebunan teh Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, berdiri salah satu jejak ...


Lentera24.com | Pangalengan, Bandung – Di tengah hamparan hijau perkebunan teh Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, berdiri salah satu jejak penting sejarah pendidikan nasional yang hingga kini tetap terawat di kawasan operasional PTPN I, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero). Bangunan panggung yang kini dikenal sebagai SD Negeri Malabar II tersebut bukan sekadar fasilitas pendidikan, melainkan saksi perjalanan panjang upaya mencerdaskan masyarakat yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Jum'at 19 Juni 2026

Sekolah yang pada awalnya bernama Vervoloog Malabar itu didirikan pada tahun 1901 oleh pionir perkebunan teh Malabar, Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha. Kehadiran sekolah tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat pribumi, khususnya anak-anak karyawan dan buruh perkebunan, pada masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas.

Kini, sekolah tersebut berstatus sebagai SD Negeri Malabar II dan dikelola oleh pemerintah. Meski demikian, jejak sejarah yang melekat pada bangunan dan perjalanan sekolah tetap terjaga. Sejumlah dokumentasi dan foto kegiatan belajar mengajar masa lampau masih tersimpan sebagai pengingat perjalanan panjang pendidikan di kawasan perkebunan Malabar.

Sebagai bagian dari warisan sejarah bangsa, sekolah tersebut menjadi salah satu aset bersejarah yang pernah berada dalam lingkungan perkebunan dan kini tetap dijaga nilai-nilai historisnya oleh PTPN I. Selain sekolah, berbagai aset bersejarah lainnya seperti pabrik, rumah dinas, dan artefak peninggalan masa lalu juga terus dirawat sebagai bagian dari upaya menjaga memori kolektif perjalanan industri perkebunan dan pembangunan bangsa.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menegaskan bahwa komitmen menjaga warisan sejarah tersebut sejalan dengan peran sosial perusahaan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia.

"PTPN I hadir tidak hanya sebagai penggerak ekonomi wilayah, tetapi juga berkomitmen aktif dalam mencerdaskan generasi penerus, baik putra-putri karyawan maupun masyarakat di sekitar perkebunan. Ini adalah warisan moral yang menegaskan bahwa sejak dulu perusahaan peduli dengan pendidikan," kata Teddy.

Menurutnya, menjaga keberadaan SDN Malabar II merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah sekaligus investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan dan literasi masyarakat.

Nilai historis sekolah tersebut masih membekas kuat dalam ingatan para alumninya. Asep (85), pensiunan karyawan Pabrik Teh Malabar, mengenang masa-masa ketika dirinya bersekolah di bangunan panggung tersebut pada era 1950-an.

"Dulu saya sekolah di sana sekitar tahun 1950-an. Menurut orang-orang, Tuan Bosscha sangat berani membuka sekolah bagi kaum pribumi, khususnya wong cilik. Padahal saat itu pemerintah kolonial Belanda melarangnya. Saya sendiri tidak ketemu sama beliau," tutur Asep.

Kenangan serupa disampaikan Maman (86), atau yang akrab disapa Abah Uci. Alumni sekolah yang kini masih aktif sebagai penarik ojek pangkalan di kawasan Pintu Malabar itu mengingat sekolah tersebut sebagai pusat pendidikan utama masyarakat Pangalengan pada masanya.

"Tahun 1958 abah sudah lulus dari SR Ciemas. Sekolah ini dulu dibangun oleh Bosscha. Kondisinya dulu mah bagus, terawat. Sekarang bangunan panggungnya terlihat kusam, sayang belum ada bantuan pemugaran apa pun dari pemerintah,” ungkap Abah Uci.

Ia menambahkan bahwa sekolah yang kala itu dikenal sebagai Sekolah Rakyat (SR) Ciemas menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari berbagai wilayah di Pangalengan. Bahkan, pendidikan di sekolah tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya.

“Zaman abah masuk SR mah kan kita sudah merdeka. Tetapi orang tua hingga kakek abah dulu juga sekolahnya di sana. Setelah lulus, orang tua abah bekerja di rumah pegawai perkebunan yang orang Belanda," lanjutnya.

Berdasarkan catatan sejarah perkebunan, Abah Uci menempuh pendidikan di SR Malabar pada masa kepemimpinan Administratur Van Deer Meer (1945–1948) hingga Administratur Brewer (1955–1958). Sementara generasi sebelumnya dalam keluarganya diperkirakan telah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut sejak masa kepemimpinan KAR Bosscha dan para administratur penerusnya.

Pada awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki empat ruang belajar sederhana berukuran 5 x 6 meter. Bangunannya berdinding bilik bambu dengan lantai kayu jati yang kokoh. Di ruang-ruang sederhana tersebut, para murid belajar menggunakan sabak dan gerip dengan beralaskan tikar.

Seiring berjalannya waktu, sekolah ini berkembang dan melahirkan banyak lulusan yang tidak hanya bekerja di lingkungan perkebunan, tetapi juga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung.

Perjalanan sekolah ini turut mencerminkan dinamika sejarah Indonesia. Dari Vervoloog Malabar pada masa kolonial, berubah menjadi Sekolah Rendah setelah kemerdekaan, kemudian Sekolah Rakyat (SR), hingga kini berstatus sebagai Sekolah Dasar Negeri (SDN).

Pada tahun 1955, manajemen perkebunan menambah tiga ruang permanen untuk mendukung kebutuhan administrasi dan pembelajaran akibat meningkatnya jumlah siswa. Meski perannya kemudian berkurang setelah berdirinya SDN Malabar 4 pada tahun 1982, keberadaan sekolah bersejarah ini tetap menjadi simbol penting perjalanan pendidikan masyarakat perkebunan di tanah Priangan.

Melalui PTPN I sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, komitmen untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah tersebut terus dilakukan agar nilai-nilai perjuangan, pendidikan, dan kepedulian sosial yang telah diwariskan lintas generasi tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini maupun masa depan.(*)


Keterangan Lebih Lanjut:
Holding Perkebunan Nusantara
PT Perkebunan Nusantara III (Persero)
Telp: +6221 29183300
Ponsel: +6281370835057
email : s
ekretariat@holding-perkebunan.com