Sumber Foto: Dok. HUMAS US Lentera24.com | BANDA ACEH – Limbah kulit manggis yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata mampu d...
![]() |
| Sumber Foto: Dok. HUMAS US |
Lentera24.com | BANDA ACEH – Limbah kulit manggis yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata mampu disulap menjadi inovasi teknologi pengolahan air. Terobosan tersebut berhasil dikembangkan oleh tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) melalui riset yang memanfaatkan senyawa alami xanthone sebagai agen antibakteri pada membran penyaring air.
Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 yang digagas oleh tim mahasiswa beranggotakan Adisti Juliani selaku ketua, bersama Adzkia Syahra dan Jihan Sakinah Alwi, di bawah bimbingan Prof. Dr. Nasrul, S.T., M.T.
Riset tersebut mengusung judul "Inovasi Membran Antifouling dan Antibakteri Polietersulfon Termodifikasi Polietilenglikol-Graphene Oxide Berbasis Xanthone Kulit Manggis untuk Penyisihan Logam Timbal pada Air."
Dalam penelitian ini, tim memanfaatkan xanthone yang terkandung dalam kulit manggis sebagai agen antibakteri. Pemanfaatan limbah pertanian tersebut tidak hanya memberikan nilai tambah pada kulit manggis, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih ramah lingkungan dalam pengembangan teknologi penyaringan air.
Untuk meningkatkan performa membran, tim memadukan polietilenglikol (PEG) guna memperbaiki sifat hidrofilik sehingga proses penyaringan berlangsung lebih optimal. Sementara itu, penambahan graphene oxide (GO) berfungsi meningkatkan kemampuan membran dalam menyisihkan logam berat, khususnya timbal (Pb).
Perpaduan material tersebut menghasilkan membran yang memiliki sifat antibakteri, lebih tahan terhadap penyumbatan (antifouling), serta efektif dalam mengolah air yang tercemar logam berat.
"Kami berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan teknologi penyaringan air yang lebih efektif di masa depan, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas air sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan," ujar Adisti.
Tim memilih logam timbal sebagai target penyisihan karena logam tersebut merupakan salah satu polutan perairan yang banyak berasal dari limbah industri. Keberadaan timbal dalam air dapat membahayakan kesehatan manusia sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem apabila tidak ditangani secara tepat.
Selain menjalankan penelitian di laboratorium, tim juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknologi membran serta perkembangan riset melalui akun Instagram @pkmre.pegostin, sehingga publik dapat mengikuti proses inovasi yang sedang dikembangkan.
Melalui semangat riset dan kolaborasi, tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia USK berharap inovasi berbasis limbah kulit manggis ini mampu menjadi kontribusi nyata dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya di Aceh.L24.SWJ.
