Aulia Aisyah Azka Mahasiswi Semester 2 Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulla...
Lentera24.com | Sudah cukupkah menjual hasil panen produk pertanian begitu saja? Ibarat menjual emas mentah, lalu hanya menjualnya sebagai bongkahan batu biasa. Nilainya tetap ada, tetapi potensi nilai tambah terjadi saat emas diolah menjadi barang bernilai estetika dengan branding yang kuat.
Begitu pula pada hasil produk pertanian Indonesia. Singkong, ubi, sagu, serta komoditas lainnya selama ini masih banyak dijual dalam kondisi mentah. Padahal di balik setiap kilogramnya tersimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar, jika dikelola dengan kreativitas. Inilah yang dimaksud diversifikasi pangan bukan hanya sekedar strategi ketahanan pangan, melainkan juga sebagai strategi pembangkit perekonomian.
Berdasarkan data Direktori Konsumsi Pangan Nasional tahun 2024 yang diterbitkan Badan Pangan Nasional (NFA) menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat terhadap beras lebih mendominasi daripada komoditas pangan lainnya. Tingkat konsumsi beras mencapai 92 kg per kapita per tahun, sedangkan konsumsi pangan karbohidrat lainnya, seperti singkong hanya 8,5 kg, kentang 2,5 kg, sagu 0,6 kg, dan ubi jalar 3,1 kg per kapita per tahun.
Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan komoditas pangan dari pola konsumsi masyarakat belum beragam dan dapat menimbulkan kerentanan pangan. Ketimpangan pola konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang menjadikan beras sebagai makanan pokok utama. Akibatnya, pilihan makanan masyarakat tidak variatif, sehingga masyarakat cenderung mengonsumsi nasi sebagai makanan harian.
Sejalan dengan data tersebut, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Nasional (NFA), Rinna Syawal, dalam forum FAO di Jakarta pada Mei 2025 menegaskan bahwa kunci dari strategi memperkuat pertahanan pangan Indonesia adalah diversifikasi pangan dengan memanfaatkan pangan lokal. Selain itu, diversifikasi konsumsi pangan juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan UMKM, inovasi produk lokal, dan pembentukan pasar pangan alternatif.
Menurut penulis, pernyataan tersebut sangat relevan untuk mengembangkan komoditas pangan yang masih minim dikonsumsi masyarakat. Diversifikasi pangan harus dijalankan dalam bentuk inovasi kreatif agar dapat menarik masyarakat dan menciptakan nilai tambah. Setiap kilogram komoditas pangan memiliki potensi dalam meningkatkan nilai tambah. Pengolahan pangan yang sesuai minat masyarakat dapat meningkatkan pola konsumsi masyarakat terhadap komoditas selain beras, sehingga komoditas pangan lainnya lebih bermanfaat.
Meskipun potensi pertanian di Indonesia sangat besar, sebagian hasil pertanian masih banyak yang dijual dalam bentuk mentah tanpa melalui pengolahan inovasi keberlanjutan. Hal ini yang menjadikan posisi tawar petani rendah. Sehingga banyak petani yang lebih memilih bergantung kepada tengkulak. Kondisi ini disebabkan dari minimnya modal dan akses petani untuk mengolah lebih lanjut komoditas yang mereka garap.
Pengolahan hasil pertanian menjadi langkah strategis dalam menarik masyarakat untuk mengonsumsi berbagai jenis pangan lokal dan meningkatkan nilai tambah. Hal ini sebagai bentuk diversifikasi pangan yang memberikan dampak bagi ekonomi nasional. Produk pertanian yang sudah diolah akan memberi kesan lebih berharga sehingga meningkatkan nilai jual. Pengolahan produk mentah akan jauh lebih menguntungkan karena para petani bisa bebas dari ketergantungan terhadap tengkulak yang menekan harga tawar kepada petani.
Dalam konteks pertanian, nilai tambah dapat dipahami sebagai peningkatan nilai jual suatu produk melalui proses pengolahan. Biasanya proses tercapainya nilai tambah berada pada sub sistem hilir pada bagian pengolahan pascapanen. Sebagai contoh, singkong mentah yang dijual oleh petani diberi harga relatif sangat rendah. Namun, ketika singkong diolah menjadi keripik atau tepung mocaf, nilai jualnya dapat meningkatkan secara signifikan.
Banyak sekali camilan ringan yang sering kita temukan di supermarket maupun minimarket yang berbahan dasar dari singkong. Keripik singkong yang berada di supermarket memiliki branding yang kuat dan rasa yang unik, sehingga produk keripik singkong berani bersaing dengan produk camilan lainnya. Selain itu, tepung mocaf juga dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu untuk berbagai jenis olahan makanan serta bebas dari gluten.
Diversifikasi pangan memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dengan adanya nilai tambah. Selain itu, diversifikasi pangan membuka lapangan kerja dari proses pengolahan pangan, lalu mengurangi ketergantungan pada satu komoditas pangan, serta mengurangi kerugian pascapanen karena produk sudah diolah dan daya simpan jauh lebih lama.
Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan diversifikasi pangan sebagai nilai tambah produk pertanian masih menghadapi tantangan. Hambatan utama yang dihadapi petani adalah keterbatasan modal dalam mengembangkan usaha produk pertanian. Dari keterbatasan modal, maka muncul hambatan lainnya, seperti keterbatasan teknologi dan alat pengolahan yang tidak memadai. Selain itu, minimnya pengetahuan terhadap pasar akan membuat produk kalah saing dan branding produk menjadi lemah.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, maka diperlukan peran aktif dari berbagai pihak. Pemerintah dapat memberikan dukungan berupa pelatihan pengolahan pangan, penyuluhan terkait pasar pangan, bantuan alat produksi, serta akses permodalan bagi pelaku usaha. Selain itu, penguatan sektor UMKM dapat dilakukan dengan memberikan informasi terkait pasar, pengembangan inovasi, serta kreativitas untuk mendukung keberlanjutan dari usaha produk pertanian.
Peran generasi muda sangat penting dalam mendorong diversifikasi pangan untuk menciptakan nilai tambah dan ketahanan pangan. Di tengah sengitnya persaingan pasar digital, generasi muda lebih terbuka terhadap tren sehingga pemasaran jauh lebih efektif dan dapat bersaing dengan produk lainnya. Dengan mengandalkan kepandaian generasi muda dalam mengoperasikan teknologi digital dan kreativitas, produk olahan pangan lokal dapat dikembangkan secara inovatif dan lebih kompetitif di pasar digital.
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor pertanian yang mempunyai berbagai pangan lokal tersebar di seluruh pulau. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal karena sebagian besar hasil pertanian masih banyak dijual dalam bentuk mentah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengolahan hasil pertanian masih perlu ditingkatkan agar mampu memberikan manfaat besar bagi ekonomi para petani maupun pelaku usaha produk pertanian.
Pengolahan hasil pertanian menjadi berbagai jenis produk pertanian menjadi langkah strategis yang seharusnya tidak diabaikan. Data juga menunjukkan bahwa komoditas beras masih mendominasi pola konsumsi masyarakat, sedangkan pangan lokal lainnya seakan-akan masih tertidur. Maka dari itu, komoditas pangan lain harus dikembangkan melalui inovasi dan kreativitas untuk meningkatkan kembali pola konsumsi masyarakat dan terciptanya nilai tambah.
Oleh karena itu, diversifikasi pangan lokal tidak hanya mampu meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga membuka peluang usaha dan mendorong ekonomi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Maka diperlukan kesadaran dan upaya bersama dari berbagai pihak agar sektor pertanian tidak hanya sebagai sektor produksi. Tetapi juga sebagai sumber nilai tambah untuk memperkuat dan keberlanjutan perekonomian nasional.(*)
