HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Menanti 'Lebaran di Gubuk Derita': Nestapa Blang Seunong dan Janji Palsu BNPB yang Terbengkalai

Potret kelalaian BNPB  puluhan keluarga di Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, justru terjebak dalam pusaran ketidakp...

Potret kelalaian BNPB puluhan keluarga di Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, justru terjebak dalam pusaran ketidakpastian yang memilukan mereka terpaksa bertahan di bawah tenda darurat.(photo dok Lentera24.com/Syafrizal)

Lentera24.com | ACEH TIMUR – Sementara sebagian besar orang sibuk mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan, puluhan keluarga di Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, justru terjebak dalam pusaran ketidakpastian yang memilukan. Empat bulan pasca-banjir bandang dan tanah longsor, janji pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyediakan Hunian Sementara (Huntara) berakhir menjadi monumen kegagalan.

Proyek Mangkrak: Antara Kontraktor Kabur dan Birokrasi Macet

Di lokasi yang seharusnya menjadi tumpuan harapan, hanya tampak rangka kayu yang mulai melapuk. Tiang-tiang setengah jadi itu berdiri layaknya nisan bagi janji-janji manis birokrasi. Informasi yang dihimpun mengungkap tabir gelap di balik mangkraknya proyek ini: pekerja belum dibayar.

Kepala Dusun Peulalu, Amran, mengungkap fakta pahit bahwa para kontraktor meninggalkan lokasi bukan tanpa alasan. "Mereka mengaku belum dibayar oleh pihak BNPB. Akibatnya, pekerjaan dihentikan paksa dan kontraktor melarikan diri," tegas Amran.

Ironisnya, bukan hanya bangunan yang ditinggalkan, para pekerja tersebut dikabarkan meninggalkan hutang di kedai-kedai warga setempat. Ini adalah tamparan keras bagi integritas pengawasan proyek bencana di bawah naungan lembaga sekelas BNPB.

Ketidakhadiran Negara di Tengah Lumpur

Warga merasa seolah dianaktirikan oleh Pemerintah Daerah maupun Pusat. Pendataan demi pendataan telah dilakukan, namun hasilnya nihil. Ribuan lembar formulir tampaknya lebih cepat menumpuk daripada satu unit hunian layak.

"Kami lelah hanya dijadikan objek pendataan. Banyak yang datang melihat, tapi tidak ada yang benar-benar berbuat. Pemerintah tolong, di sini ada anak-anak yang harus tidur di bawah terpal setiap malam," keluh Murtini, seorang warga yang suaranya bergetar menahan tangis.

Bertahan dengan Sisa Reruntuhan

Intan Putriyani adalah potret ketegaran sekaligus kegagalan perlindungan negara. Ia terpaksa memungut kayu bekas banjir untuk menyambung hidup di atas gubuk darurat. Baginya, Huntara bukan sekadar bangunan, melainkan martabat yang dirampas oleh lambatnya koordinasi antara BNPB dan pelaksana di lapangan.

Warga kini dihadapkan pada kenyataan pahit: merayakan Lebaran di bawah tenda darurat yang panas menyengat di siang hari dan dingin menusuk di malam hari. Ketidakpastian mengenai transisi dari Huntara menuju Hunian Tetap (Huntap) semakin memperpanjang daftar trauma mereka.

Sebagai catatan Catatan: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Tragedi Blang Seunong bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan bencana kemanusiaan akibat kelalaian administratif. BNPB sebagai garda terdepan penanggulangan bencana berhutang penjelasan transparan kepada 40 KK di Peulalu:

Mengapa alokasi anggaran bisa tersendat hingga menyebabkan kontraktor kabur?

Di mana fungsi pengawasan Pemkab Aceh Timur terhadap proyek vital bagi pengungsi ini?

Rakyat tidak butuh kunjungan seremoni; mereka butuh atap yang nyata sebelum hujan berikutnya turun, atau sebelum gema takbir bergema di balik terpal lusuh mereka.[]L24.Zal