HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Lebaran di Balik Terpal: Nestapa 4 KK Kampung Bundar di Depan Mata Wakil Rakyat

Lentera24.com | KARANG BARU – Gema takbir yang mulai bersahutan menyambut Idul Fitri 1447 H (2026) tak membawa sukacita bagi Renda Yanti (3...


Lentera24.com | KARANG BARU
– Gema takbir yang mulai bersahutan menyambut Idul Fitri 1447 H (2026) tak membawa sukacita bagi Renda Yanti (38) dan belasan warga lainnya. Di saat sebagian besar warga Aceh Tamiang sibuk menyiapkan hidangan Meugang, empat Kepala Keluarga (17 jiwa) warga Kampung Bundar justru masih harus bertaruh nasib di bawah tenda darurat BNPB yang berdiri kaku di pinggir Jalan Lintas Sumatera, tepat di depan Kantor DPRK Aceh Tamiang.


Pemandangan ini menjadi ironi yang menyayat hati. Persis di hadapan gedung tempat para wakil rakyat merumuskan kebijakan, masih ada warga yang "terlupakan" di bawah terpal plastik.

Ironi Huntara yang "Penuh" dan "Jauh"

Renda Yanti, salah satu penghuni tenda, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Bekerja sebagai buruh cuci pakaian, ia merasa akses tempat tinggal adalah urat nadi ekonominya. Ia mempertanyakan transparansi pembagian Hunian Sementara (Huntara) di belakang Kantor DPRK (Huntara II).


"Kami sangat kecewa. Katanya sudah penuh, tapi malah warga kampung lain yang dapat di situ. Kami yang di depan mata mereka (perangkat desa) seolah tidak terlihat," ungkap Yanti dengan nada bergetar.


Baginya, pindah ke lokasi yang jauh bukan sekadar pindah tempat tidur, tapi berarti kehilangan mata pencaharian karena keterbatasan transportasi. Hingga hari ini, janji pembangunan rumah baru yang kabarnya dilakukan pasca-lebaran, serta bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) maupun bantuan PMI, tak kunjung mampir ke tangannya.


Bayang-bayang Pengosongan demi Protokoler

Persoalan kian pelik dengan rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan melaksanakan salat Id di Masjid Darussalam. Tenda-tenda di pinggir jalan diminta dikosongkan demi estetika dan keamanan protokoler.


Wakil Ketua DPD II KNPI Aceh Tamiang, Omar Ahsyad, menilai solusi relokasi sementara ke Gedung Olahraga (GOR) bukanlah jawaban yang manusiawi untuk merayakan hari kemenangan.


"Kalau dipindah ke GOR, mereka harus bergabung dengan orang asing, tidak nyaman. Solusinya percepat realisasi Huntara yang sudah siap, jangan tunggu habis lebaran. Bagaimana mereka mau menerima tamu atau bertamu jika rumah saja tidak punya?" tegas Omar.


Mengetuk Hati BNPB dan Pemerintah Daerah

Meskipun langkah Bupati Armia Pahmi dianggap sudah di jalur yang benar, namun lambatnya eksekusi di lapangan membuat warga "terpanggang" matahari di siang hari dan menggigil saat malam.


Omar secara khusus mengetuk hati BNPB Pusat dan daerah untuk memberikan perhatian ekstra, setidaknya dalam bentuk santunan atau Tunjangan Hari Raya (THR) bagi mereka yang masih bertahan di tenda.


"Sudahlah rumah tidak punya, masa uang (santunan) pun tidak ada? Rata-rata mereka petani dan pekerja kasar. Hal-hal kecil seperti santunan ini yang bisa membuat mereka sedikit tersenyum di hari lebaran," tambahnya.


Versi Pemerintah: Masalah Jarak dan Lokasi

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Imam Suheri, mengakui bahwa keluarga Ahmad Karyadi dan tiga KK lainnya masih di tenda darurat. Menurutnya, kendala utama adalah keengganan warga untuk pindah karena alasan lokasi yang jauh dari aktivitas harian mereka.


"Kami berharap warga mau pindah ke Huntara yang sudah disediakan agar pekerja bisa lebih leluasa membangun Hunian Tetap (Huntap) mereka nanti," ujar Imam singkat.


Namun bagi warga seperti Yanti, pindah bukan sekadar urusan jarak, melainkan soal kelangsungan hidup sebagai buruh cuci di tengah kemiskinan yang kian menghimpit tepat di ambang pintu Idul Fitri.


Ini Daftar Keluarga di Tenda Depan Kantor DPRK:
Renda Yanti (38)
Surya (43)
Ahmad Karyadi (57)
Dahniar (56)