HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Huntara di Pante Rambong Disorot, Tim Investigasi Temukan Dugaan Ketidaksesuaian Spesifikasi

Tim Aliansi Pers Kawal Rehab - Rekon Pasca Banjir Aceh saat meninjau Pembangunan Huntara di Gampong Pante Rambong, Kec. Pante Bidari.(Dok.Le...

Tim Aliansi Pers Kawal Rehab - Rekon Pasca Banjir Aceh saat meninjau Pembangunan Huntara di Gampong Pante Rambong, Kec. Pante Bidari.(Dok.Lentera24.com/Safrizal)

Lentera24.com | ACEH TIMUR — Puluhan unit Hunian Sementara (Huntara) di Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, menjadi sorotan setelah Tim Investigasi Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir menemukan sejumlah dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis dalam pembangunan unit tersebut.


Ketua Aliansi Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Masri, mengatakan temuan itu diperoleh dalam peninjauan lapangan yang dilakukan pada Senin, 26 Januari 2026 oleh tim aliansi.


"Hasil pengamatan awal menunjukkan adanya perbedaan antara kondisi fisik bangunan di lapangan dengan spesifikasi yang tercantum dalam dokumen perencanaan proyek," ujar Masri, Selasa 27 Januari 2025.


Seorang penerima Huntara di Dusun Tualang, Gampong Pante Rambong, yang meminta identitasnya tidak disebutkan, mengaku lantai rumahnya mulai rusak meski baru beberapa hari ditempati.


"Kami tidak tahu kenapa secepat itu bisa rusak, padahal baru beberapa hari kami tempati," ujar warga tersebut.


Pengakuan itu diperkuat oleh keterangan seorang tukang yang terlibat dalam pekerjaan Huntara dan juga meminta namanya dirahasiakan karena khawatir berdampak pada pekerjaannya. Ia menyebutkan bahwa untuk pengecoran lantai berukuran sekitar 4 x 6 meter dengan ketebalan kurang lebih 4 sentimeter, pihak rekanan hanya menyediakan empat sak semen.


"Kami hanya diberikan empat sak semen oleh rekanan untuk cor lantai. Berapa yang diberikan itu yang kami gunakan," katanya.


Berdasarkan salinan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang ditunjukkan kepada tim investigasi, kebutuhan semen untuk satu unit Huntara tercantum sebanyak delapan sak. Masri menegaskan bahwa temuan ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui audit teknis independen.


Dari hasil pemeriksaan fisik bangunan di Pante Rambong, tim mencatat sejumlah kondisi yang dinilai perlu perhatian. Pada struktur bangunan, tidak ditemukan pondasi serta tidak ada pengikat antara rangka baja dengan tanah. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas bangunan apabila terjadi angin kencang.


Pada bagian lantai, tim juga menemukan permukaan yang dinilai rapuh, mudah terkelupas, dan berpasir. Jika terkena air, lantai berubah menjadi becek dan berlumpur.


"Menurut keterangan calon penerima, lantai tersebut baru menggunakan empat sak semen dan direncanakan akan ditambah tiga sak semen lagi," ucap Masri.


Masri menilai penambahan tersebut perlu dikaji secara teknis agar tidak menimbulkan persoalan baru, seperti hambatan pada pintu atau kegagalan ikatan antara lapisan lama dan lapisan baru.


Selain itu, ditemukan ketidaksamaan kondisi teras, di mana sebagian rumah memiliki teras sementara sebagian lainnya tidak. Pada bagian dinding, tim menemukan penggunaan Calsiboard (calcium silicate board) yang dinilai tipis. Berdasarkan pengakuan tukang, kualitas material tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan kalsiboard tipis yang umum beredar di pasaran, sehingga berpotensi mudah pecah jika terkena benturan.


Temuan serupa juga diperoleh di Dusun Alue Rincong, Gampong Pante Rambong. Berdasarkan pantauan lapangan dan wawancara dengan warga setempat, pembangunan Huntara di dusun tersebut belum ada yang siap 100 persen dan belum ditempati oleh penerima manfaat. Progres kesiapan tertinggi diperkirakan baru mencapai sekitar 70 persen.


Diketahui pembangunan Huntara di lokasi tersebut dikerjakan oleh CV Trieng Jaya. Tim mencatat lima dugaan persoalan utama, yakni pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai gambar kerja, spesifikasi pekerjaan yang diduga tidak konsisten, kualitas bahan material, perbedaan ongkos tukang, serta keterlambatan material.


Untuk poin pertama, tim menemukan rangka bangunan yang tidak sesuai gambar kerja, terutama pada rangka tengah antar tiang yang tidak terpasang di beberapa unit. Pada poin kedua, spesifikasi lantai semen dinilai tidak konsisten karena dari delapan sak semen yang tercantum dalam RAB, di lapangan hanya digunakan sekitar enam hingga tujuh sak per unit. Pada poin ketiga, tim menemukan.[]L24.Zal