Lentera 24.com | BATAM -- Saat ini Indonesia sudah tidak lagi disebut sebagai Negara kaya minyak dan gas (migas), namun cadangan migas Indo...
Lentera24.com | BATAM -- Saat ini Indonesia sudah tidak lagi disebut sebagai Negara kaya minyak dan gas (migas), namun cadangan migas Indonesia sudah mengalami hingga kepada tingkat krisis migas, ujar Kepala Urusan Administrasi dan Keuangan SKK Migas, Supriono, Kamis (2/11/2017).

Ungkapan dimaksud dinyatakan Supriono saat membuka kegiatan Edukasi Wartawan media cetak dan elektronik Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (SKK Migas-KKKS) wilayah Sumbagut di Swiss-belHotel, Batam.
Supriono mengatakan, produksi migas ditanah air sudah tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan. Produksi minyak Indonesia rata-rata mencapai 800.000 barel perhari, sedangkan kebutuhan minyak dalam negeri sebesar 1,6 juta barel (BOPD). Ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan ujarnya.
Di Indonesia, lanjut Supriono, minimal harus mengimpor lagi 800 ribu barel minyak bumi, untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi dalam negeri. Bahkan impor minyak bumi bisa lebih dari jumlah tersebut. Diungkapkannya, sebagian minyak bumi yang dihasilkan atau dieksplorasi di dalam negeri, sebagian minyak masih di eskpor ke luar negeri.
“Sangat besar impor minyak yang kita lakukan, rata-rata sekitar 800.000, bahkan bisa lebih karena sebagian minyak kita diekspor keluar karena tidak bisa dilakukan pengeloaan di dalam negeri," imbuh Supriono.
Supriono melanjutkan, Indonesia kini menempati posisi 29 dari negara penghasil minyak bumi dengan cadangan hanya 0,2 persen dari total yang dimiliki dunia. Sementara untuk gas bumi, Indonesia menempati di posisi 14 dari negara penghasil gas bumi, dengan rata-rata cadangan gas 1,5 persen dari total cadangan dunia.
Hal ini dinyatakan Supriono berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak Indonesia per Mei 2016 sebesar 832.000 barel per hari, setara sekitar satu persen produksi minyak dunia.
“Untuk itu, perlu dilakukan eksplorasi ataupun penelitian untuk mencari energi terbaharu. Sehingga Indonesia dapat terlepas dari ketergantungannya terhadap energi minyak bumi,”. Ungkap upriono. [] L24-002
Ungkapan dimaksud dinyatakan Supriono saat membuka kegiatan Edukasi Wartawan media cetak dan elektronik Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (SKK Migas-KKKS) wilayah Sumbagut di Swiss-belHotel, Batam.
Supriono mengatakan, produksi migas ditanah air sudah tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan. Produksi minyak Indonesia rata-rata mencapai 800.000 barel perhari, sedangkan kebutuhan minyak dalam negeri sebesar 1,6 juta barel (BOPD). Ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan ujarnya.
Di Indonesia, lanjut Supriono, minimal harus mengimpor lagi 800 ribu barel minyak bumi, untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi dalam negeri. Bahkan impor minyak bumi bisa lebih dari jumlah tersebut. Diungkapkannya, sebagian minyak bumi yang dihasilkan atau dieksplorasi di dalam negeri, sebagian minyak masih di eskpor ke luar negeri.
“Sangat besar impor minyak yang kita lakukan, rata-rata sekitar 800.000, bahkan bisa lebih karena sebagian minyak kita diekspor keluar karena tidak bisa dilakukan pengeloaan di dalam negeri," imbuh Supriono.
Supriono melanjutkan, Indonesia kini menempati posisi 29 dari negara penghasil minyak bumi dengan cadangan hanya 0,2 persen dari total yang dimiliki dunia. Sementara untuk gas bumi, Indonesia menempati di posisi 14 dari negara penghasil gas bumi, dengan rata-rata cadangan gas 1,5 persen dari total cadangan dunia.
Hal ini dinyatakan Supriono berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak Indonesia per Mei 2016 sebesar 832.000 barel per hari, setara sekitar satu persen produksi minyak dunia.
“Untuk itu, perlu dilakukan eksplorasi ataupun penelitian untuk mencari energi terbaharu. Sehingga Indonesia dapat terlepas dari ketergantungannya terhadap energi minyak bumi,”. Ungkap upriono. [] L24-002