HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Distanak Aceh Tamiang Gelar Pascapanen Padi Pola SRI

Foto: Medanbisnis ACEH TAMIANG | STC -  Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Aceh Tamiang merangkai berbagai kegiatan pe...

Foto: Medanbisnis
ACEH TAMIANG | STC -  Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Aceh Tamiang merangkai berbagai kegiatan pertanian, salah satunya pascapanen padi pola SRI pada hamparan sawah seluas 200 hektare di Desa Cinta Raja, Kecamatan Bendahara, Kamis (12/9). 

Areal seluas itu tergolong lahan sawah pasang surut, namun hasil tanaman padinya cukup menggembirakan.Kepala Distanak, M Yunus mengatakan, pascapanen dari pola SRI dengan capaian produksi padi 10 ton/hektare ini, hendaknya dapat tingkatkan pada masa yang mendatang, dengan terus mengikuti penyuluhan dan petunjuk tehnis penyuluh pertanian.

Teknologi pertanian yang harus digunakan adalah pemakaiaan benih unggul yakni parietas unggul tahan wereng (PUTW), kemudian memperhatikan umur semai bibit dengan standar 7 sampai 10 hari dan jarak tanam 20x30 cm satu batang per louang dengan menggunakan pupuk organik.

“Hasil ubinan produksi mencapai 9,9 ton/hektare dengan varietas yang digunakan Migkongga, yang merupakan jenis padi PUTW dari bantuan pemerintah daerah,” katanya.Turut hadir pada acara tersebut, Bupati H Hamdan Sati, Wakil Ketua DPRK Ida Nora Nita dan Kepala Bappel Ir Fuady.Bupati di hadapan masyarakat dan kelompok tani menyatakan, melihat hamparan sawah di kawasan pesisir tersebut, dia menilai cocok untuk pengembangan sawah areal  pasang surut. 

“Tentunya perlu  ditingkatkan dengan pembangunan pertanian yang saling mendukung serta seimbang dengan kondisi alam sekitar,” katanya.Di tempat terpisah sebelum melaksanakan pascapanen padi tersebut, rombongan bupati dan dinas pertanian menyempatkan hadir pada acara kenduri sawah di Desa Raja, Kecamatan Bendahara, sebagai suatu tradisi musyawarah adat petani desa itu untuk menetapkan jadwal tanam serta peratuaran dan resam (kearifan lokal) yang berlaku di daerah tersebut.

“Kenduri sawah yang dilakukan masyarakat ini perlu dilestarikan, sebagai upaya memperkuat jalinan silaturahmi petani dan terciptanya kerukunan,” kata M Yunus. ( Medanbisnis )