HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Parit Beton Bermotif Ular Berenang di Bukit Tempurung Patah

Foto | Soeparmin Proyek parit beton dikawasan jalan Kualasimpang-Rantau cara pembangunannya terkesan di...

Foto | Soeparmin
Proyek parit beton dikawasan jalan Kualasimpang-Rantau cara pembangunannya terkesan dibuat asal asalan saja. Pasalnya, beton yang baru saja dibuka papan mal nya tersebut didapati patah. Bahkan bukan hanya sekedar patah dan retak, bangunan yang menyerap anggaran dana otsus tahun  2011 tersebut memiliki ciri khas unik dan khusus, yakni  model gaya ular berenang.

Dengan adanya pembangunan saluran pembuangan air hingga ke parit (titi) putih, masyarakat kampong Bukit Tempurung Kecamatan Kota Kualasimpang dan sekitarnya, awalnya menyambut dengan penuh rasa gembira. Namun setelah mengetahui bentuk serta kualitas bangunan, akhirnya masyarakat didaerah itu  merasa kecewa layaknya menelan pil pahit.

Sangat layak jika masyarakat kecewa terhadap kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, sebab beton tembok paret yang berada bawah titi salah satu kios penjual pulsa didusun II Kenanga patah setelah dilakukan pembukaan papan mal sekitar 3 hari lalu. Bahkan dilokasi yang bertepatan persis depan gang Rukun sekitar 3 meter dari yang patah tersebut juga terjadi keretakan.

Yusuf, salah seorang warga Kampung Bukit Tempurung mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap rekanan yang mengerjakan pembangunan saluran tersebut. Kepada Orbit, Selasa (1/11) Yusuf mengatakan, hasil dari pembuatan parit dikampungnya itu menunjukkan bukti bahwa pekerjaan dimaksud bukan dikerjakan oleh tenaga skill dan professional.

“Kalau kontraktor professional, tentu tidak mau mencari tukang bangunan asal sembarangan saja. Lagi pula yang membuat saya bertambah heran, pengawas lapangan dari dinas PU apa tidak melihat saat tukang bangunan sedang memasang papan mal yang seolah tidak menggunakan benang agar letak mal nya lurus. Ini bukan membuat enak dipandang mata, tetapi malah sebaliknya, mata menjadi sakit kalau melihat hasil kerja mereka”, ungkap Yusuf.
Tentang tanggapan warga tersebut, Pejabat Pengendali Teknis Kegiatan (PPTK) untuk dimintai keterangannya via selularnya, Selasa (1/11) kemarin sekitar pukul 14.00, namun nomor Hp milik Ade Saputra,ST tidak dapat dihubungi karena diluar jangkauan. Sedangkan pada Senin yang baru lalu, melalui ponselnya, Ade Saputra mengatakan sedang ada urusan di Banda Aceh. (Soeparmin).