Ilustrasi | Google Oleh : Sayed Mahdi, SP.,M.Si Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supay...
![]() |
| Ilustrasi | Google |
Oleh : Sayed Mahdi, SP.,M.Si
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) : Surat Ar-Ruum Ayat 41.
Salah satu kelebihan manusia adalah adanya akal yang diberi Tuhan. Dan bergantung pada manusia itu sendiri untuk pandai menggunakan akal fikirannya dan tanggap terhadap lingkungan hidup. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 164 dikemukakan bahwa ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudh mati (kering) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkannya”.
Pada dasarnya akal fikiran manusia mengikuti irama kehidupan alam sekitar. Iklim dan musim menentukan apabila manusia dapat menanam, mengail ikan ataupun berburu. Dan akal manusia tumbuh berusaha memahami alam, menemukan keteraturan kejadian dalam alam, mencari hubungan kait-mengkait dan sebab akibat antara gejala alam satu dengan gejala alam lainnya.
Menurut Emil Salim (1989), akal fikiran manusia telah tumbuh bagaikan anak yang menjadi dewasa, dan kini telah mempunyai kemauan dan kehidupan sendiri. Berhasilnya manusia mengendalikan dan menundukkan alam menimbulkan cara penglihatan untuk melihat kedudukan manusia terlepas dari hubungan timbal balik dengan alam. Sumber-sumber alam diolah dan ditundukkan untuk memenuhi kebutuhan materiil manusia. Sebaliknya kebutuhan manusia semakin meningkat dan terdorong oleh kemungkinan-kemungkinan baru dalam mengolah dan menguras sumber-sumber alam.
Dengan nyata dapat kita lihat bagaimana upaya manusia dalam mengolah dan menguras sumber daya alam tanpa diimbangi dengan upaya melestarikan alam, sebagai contoh: bagaimana upaya masyarakat menghancurkan hutan mangrove untuk dijadikan tambak yang kemudian dibiarkan menjadi gersang dan tandus, demikian juga pembabatan mangrove untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, pembabatan hutan darat sampai pada kelerengan yang membahayakan, dan penyedotan kerikil dan pasir di sepanjang aliran sungai baik secara manual maupun menggunakan mesin bekapasitas besar siang dan malam.
Apa yang mereka lakukan tersebut bagi mereka yang miskin maka alam adalah satu-satunya sumber penghidupan. Sedangkan bagi mereka yang mampu maka alam adalah objek untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemakmuran di hari sekarang. Sehingga lahirlah kepincangan antara yang miskin dengan yang mampu, dengan akibat yang serupa yaitu alam yang rusak dan tidak lestari.
Allah berfirman dalam Surat Ar Ruum ayat 41, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dan sebagian dari akibat ulah perbuatan manusia dapat kita lihat bagaimana terjadinya banjir bandang di dataran tinggi Tangse yang terjadi pada bulan maret 2011 yang lalu, terjadinya banjir di Matang Kuli pada bulan Mei 2011 yang mencapai sampai tiga kali, banjir juga terjadi di Aceh Utara, Aceh Barat Daya dan Aceh Tenggara pada bulan Mei 2011, serta terjadinya longsor besar di jalan lintasan Aceh Tenggara – Gayo Lues juga pada bulan Mei 2011 dan juga masih banyak musibah-musibah lainnya yang terjadi akibat ulah manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan.
Melihat sederetan bencana pada 2011 di atas, maka manusia yang tadinya berkat perkembangan akal fikiran mewujudkan pembangunan yang mengeksploitasi alam dan lingkungan hidup, harus dipertautkan kembali dengan alam dan lingkungan hidupnya. Hal ini hanya mungkin apabila akal dan fikiran itu sendiri kembali bertaut dengan iman, jiwa dan rohani.
Dari itu maka pengembangan iman dan rohani perlu menjiwai pertumbuhan akal fikiran dalam lingkungan hidup yang secara sadar mempertautkan kembali manusia dengan alam dan keseluruhan ekosistemnya. Sehingga pengembangan iman dan rohani berjalan seiring dengan pengembangan kesadaran manusia untuk memelihara, menumbuhkan dan melestarikan lingkungan hidupnya serta sadar bahwa lingkungan hidup dan hutan adalah penyangga kehidupan sebagaimana tema hari Lingkungan Hidup Se-Dunia yang diperingati dunia tanggal 5 juni yang lalu, ”Hutan Penyangga Kehidupan”.
Dengan demikian maka akan terbinalah suatu sistim nilai dimana hutan tidak hanya dilihat sebagai gabungan pohon-pohon rindang, tidak pula dianggap sebagai sumber penahan air hujan, tetapi lebih dari pada ini, bahwa hutan merupakan anugerah Allah untuk melestarikan zat-zat hidup organis dan non-organis dalam alam, sehingga mampu menahan air hujan untuk dialiri di bumi dan menghidupi tanah kering bagi tumbuh-tumbuhan sebagai bahan pemakmur manusia dan masyarakat.
Inilah pentingnya mengedepankan iman dan rohani dan perlunya menjiwai pertumbuhan akal fikiran dalam melestarikan lingkungan hidup, tanpa ini maka Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) taupun Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) tidak akan bermanfaat dan berfungsi dalam melindungi serta melestarikan alam dan lingkungan.
Untuk itu siapapun dia, manusia sebagai khalifah di muka bumi wajib mejaga keseimbangan alam. Dan marilah kita jadikan usaha pelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari ibadah manusia untuk bersyukur dan memuja keesaan dan kebesaran Allah SWT. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Surat Ali Imran ayat 191).
Penulis adalah Ketua Bidang Litbang DPD Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO) Kab. Aceh Tamiang
