HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Premanisme di Jantung Penegakan Hukum: PPWI Aceh Timur Kecam Brutalitas di Polda Metro Jaya

Ketua PPWI Aceh Timur, Zulkifli Aneuk Syuhada Lentera24.com | ACEH TIMUR – Kabar memilukan sekaligus memalukan datang dari markas kepolisia...

Ketua PPWI Aceh Timur, Zulkifli Aneuk Syuhada

Lentera24.com | ACEH TIMUR – Kabar memilukan sekaligus memalukan datang dari markas kepolisian. Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Aceh Timur melayangkan kecaman keras atas insiden penganiayaan brutal yang menimpa Faisal (50), warga Aceh Timur, di ruang penyidik Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.

Faisal, yang sejatinya hadir memenuhi undangan resmi aparat untuk proses konfrontasi dengan itikad baik, justru menjadi sasaran amuk massa di tempat yang seharusnya menjadi benteng perlindungan hukum.

Insiden ini mencoreng wajah kepolisian karena terjadi di dalam institusi negara. Di ruang penyidikan—titik yang semestinya steril dari intervensi fisik—Faisal dihajar secara membabi buta oleh lebih dari 20 orang yang diduga kelompok preman.

Aksi tersebut berlangsung tanpa hambatan berarti. Yang lebih mencengangkan, tindakan anarkis ini terjadi seolah tanpa pencegahan dari aparat yang berada di lokasi. Korban seakan kehilangan hak perlindungan hukumnya tepat di depan hidung para penegak hukum.

Pernyataan Sikap PPWI Aceh Timur

Ketua PPWI Aceh Timur, Zulkifli Aneuk Syuhada, menegaskan bahwa peristiwa ini adalah kegagalan fatal negara dalam melindungi warganya.

"Ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah tamparan keras bagi supremasi hukum di Indonesia. Bagaimana mungkin kekerasan brutal bisa terjadi secara terang-terangan di dalam institusi hukum?" tegas Zulkifli, Senin (30/3/2026).

Beberapa poin tuntutan tajam yang disampaikan oleh PPWI Aceh Timur antara lain:

Mendesak penangkapan segera terhadap seluruh pelaku (lebih dari 20 orang) dan dalang di balik aksi tersebut.

Meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di lingkungan Polda Metro Jaya.

Penanganan kasus harus dilakukan secara terbuka agar kepercayaan publik yang saat ini merosot dapat dipulihkan.

Masa Depan Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Zulkifli memperingatkan bahwa jika kasus ini dibiarkan menguap tanpa penyelesaian serius, publik akan terus mempertanyakan komitmen negara dalam menjaga rakyatnya.

"Ketika ruang penyidik tidak lagi aman dari premanisme, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan Faisal, melainkan masa depan kepercayaan masyarakat terhadap hukum itu sendiri," tambahnya.

PPWI Aceh Timur menyatakan berdiri tegak dalam solidaritas untuk Faisal dan akan terus mengawal kasus ini hingga korban mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. []L24.Zal