Lentera24.com | ACEH TIMUR – Bayangkan harus menahan buang air seharian di sekolah, atau terpaksa pulang ke rumah saat jam istirahat hanya ...
Lentera24.com | ACEH TIMUR – Bayangkan harus menahan buang air seharian di sekolah, atau terpaksa pulang ke rumah saat jam istirahat hanya demi mencari seteguk air bersih. Selama hampir delapan bulan terakhir, pemandangan getir itulah yang akrab di kehidupan siswa-siswi di Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, pasca-banjir besar menerjang wilayah mereka pada November 2025 lalu.
Namun, cerita duka itu kini mulai berganti senyum. Berkat kolaborasi kemanusiaan antara Yayasan Geutanyoe dan Save the Children, penantian panjang para siswa berakhir. Sebanyak empat unit tower dan tandon air bersih kini telah tegak berdiri di sekolah-sekolah yang paling parah terdampak banjir.
Adapun sekolah yang menerima bantuan penunjang sanitasi ini meliputi:
SMPN 2 Peunaron
SDN 2 Peunaron
SDN 3 Peunaron
SDN 5 Peunaron
Kehadiran tandon-tandon air ini seketika mengakhiri kebiasaan lama para siswa yang selama ini harus berebut air di sumur atau terpaksa bolos di tengah jam pelajaran untuk pulang ke rumah.
Lebih dari Sekadar Menyalurkan Air
Bantuan yang disalurkan ternyata jauh melampaui sekadar menaikkan air ke dalam tandon. Kedua lembaga ini terjun langsung membenahi infrastruktur sanitasi dasar yang rusak total akibat rendaman banjir tahun lalu.
Di SDN 2 Peunaron, dua unit MCK (Mandi, Cuci, Kakus) baru dibangun agar siswa memiliki tempat sanitasi yang lebih layak dan higienis. Sementara itu, SMP Darussalam juga ikut kecipratan berkah lewat pembangunan bak air permanen untuk menunjang kebutuhan harian para santri dan siswanya.
"Bahkan di SDN 3, tidak hanya mendapatkan tower saja, tetapi kami juga melakukan pembersihan sumur dan pembangunan paving block (platet) sekolah. Hal yang sama juga terjadi di SMPN 2 yang mendapatkan rehabilitasi total untuk fasilitas MCK mereka," ujar Program Manager Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, kepada media, Minggu (22/6/2026).
Mengembalikan Hak Anak untuk Belajar Sehat
Nasruddin menekankan bahwa dalam situasi pasca-bencana, urusan air bersih dan MCK yang layak sering kali luput dari prioritas pemulihan. Padahal, dua elemen ini merupakan fondasi utama yang menentukan semangat belajar sekaligus kesehatan anak-anak di sekolah.
"Anak harus belajar dengan sehat. Kalau dari kecil mereka sudah terbiasa hidup bersih, insya Allah mereka akan lebih semangat ke sekolah dan risiko penyakit bisa kita tekan sedini mungkin," ungkap Nasruddin penuh harap.
Banjir November 2025 memang sempat melumpuhkan aktivitas pendidikan di Aceh Timur. Rusaknya sumur, hancurnya MCK, dan tersumbatnya saluran air memaksa guru dan siswa bertahan dalam kondisi darurat yang serba terbatas selama berbulan-bulan.
Melalui program pemulihan ini, Yayasan Geutanyoe dan Save the Children ingin mengirimkan pesan kuat: hak anak atas pendidikan dan kesehatan tidak boleh kalah oleh bencana.
Ke depan, gerakan ini diharapkan menjadi pemantik bagi pihak-pihak lain bahwa pemulihan pasca-bencana yang sejati harus menyentuh kebutuhan paling mendasar dari anak-anak. Karena dari sekolah yang sehat, barulah akan lahir generasi masa depan yang kuat.[]L24.Sai

