HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Membumikan Garuda: Eksistensi dan Vitalitas Pancasila di Tengah Arus Modernitas Masyarakat Indonesia

Anandhyta Tamanna (251011500057)  Fakultas : kerguruan dan ilmu pendidikan  Program studi : pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Institu...

Anandhyta Tamanna (251011500057) 
Fakultas : kerguruan dan ilmu pendidikan 
Program studi : pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Institusi : universitas pamulang 
Dosen pengampu : Dr.Herdi Wisman Jaya.,S.Pd.,M.H

Abstrak

Lentera24.com - Perubahan zaman yang bergerak eksponensial membawa disrupsi di berbagai lini kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia dihadapkan pada tantangan mempertahankan integrasi sosial di tengah gempuran polarisasi, intoleransi, dan budaya digital yang instan. Artikel ini mengkaji eksistensi Pancasila bukan sekadar sebagai dokumen sejarah yang statis, melainkan sebagai ideologi terbuka yang dinamis dan humanis. Melalui pendekatan literatur, tulisan ini menegaskan bahwa kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa reposisi Pancasila dari sekadar slogan seremonial menjadi tindakan nyata (living ideology) melalui ruang pendidikan, keluarga, dan ruang digital adalah kunci utama menjaga relevansinya demi membimbing moral bangsa di masa depan.

Kata Kunci: Pancasila, Ideologi Dinamis, Humanisme, Eksistensi, Masyarakat Modern.

1. Pendahuluan: 

Menatap Indonesia dalam Pusaran Zaman

Kita sedang hidup di era di mana perubahan tidak lagi berjalan merangkak, melainkan melompat. Di tengah derasnya arus modernitas, globalisasi, dan transformasi digital yang begitu cepat, bangsa Indonesia kerap dihadapkan pada pertanyaan mendasar: Di manakah kita harus berpijak agar tidak limbung? Jawabannya berada pada fondasi filosofis kita sendiri, yaitu Pancasila. Sebagai ideologi nasional, Pancasila bukanlah monumen kaku dari masa lalu, melainkan kompas hidup (living guidance) yang terus relevan menavigasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia dikaruniai struktur sosial yang unik—sebuah mosaik raksasa yang dirajut dari ribuan suku, beragam agama, kebudayaan lokal, hingga spektrum pandangan politik yang luas. Keragaman ini adalah kekayaan yang tak ternilai, namun di sisi lain, ia menyimpan potensi gesekan horizontal yang besar jika tidak diikat oleh nilai-nilai kebangsaan yang kokoh. Dalam ruang kultural yang majemuk inilah, Pancasila hadir bukan sebagai pemaksa keseragaman, melainkan sebagai perekat sosial yang humanis. Ia menegaskan kembali pentingnya memanusiakan manusia melalui toleransi, musyawarah, dan keadilan sosial.

2. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka dan Dinamis

Salah satu kekuatan terbesar Pancasila yang membuatnya mampu melintasi zaman adalah sifatnya sebagai ideologi terbuka. Harefa (2014) dalam kajiannya mengenai Pancasila sebagai ideologi dinamis menegaskan bahwa Pancasila memiliki fleksibilitas universal untuk merespons tuntutan zaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai hakiki yang terkandung di dalamnya. Sifat dinamis ini membuat Pancasila selalu menemukan ruang aplikatifnya, mulai dari kurikulum pendidikan, tata kelola pemerintahan, sistem ekonomi berbasis kerakyatan, hingga etika berkomunikasi di ruang digital.

Pancasila tidak boleh dipahami sebagai doktrin beku atau dogma politik yang mengekang kebebasan berpikir. Sebaliknya, Pancasila adalah nilai yang hidup (lebensform). Sila-sila di dalamnya bersifat saling menjiwai:

Aspek spiritualitas (Sila I) menjiwai komitmen kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila II).

Semangat kemanusiaan tersebut menjadi modal utama untuk menjaga persatuan (Sila III).

Persatuan nasional kemudian diwujudkan melalui mekanisme musyawarah yang demokratis (Sila IV).

Semua proses tersebut bermuara pada satu tujuan luhur: keadilan sosial bagi seluruh rakyat (Sila V).

Ketika ditarik ke dalam ranah kontemporer, internalisasi nilai-nilai ini menuntut pendekatan yang lebih humanis—pendekatan yang menyentuh nurani dan akal sehat, bukan melalui indoktrinasi satu arah yang kaku.

3. Tantangan Nyata di Era Disrupsi dan Polarisasi

Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas empiris di lapangan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Ponorogo mengingatkan bahwa era globalisasi membawa residu berupa ancaman disintegrasi yang nyata jika eksistensi Pancasila tidak dirawat secara serius. Di era sekarang, tantangan nyata terhadap eksistensi Pancasila hadir secara simultan melalui tiga fenomena sosiologis yang saling berkaitan.

Pertama, maraknya fenomena intoleransi dan polarisasi politik di tengah masyarakat yang secara perlahan mulai mengikis empati serta semangat gotong royong. Kedua, adanya ketimpangan sosial yang kian menganga; hal ini menjadi sumbu pendek yang memicu kecemburuan sosial sekaligus mereduksi nilai keadilan yang dicita-citakan bangsa. Ketiga, penetrasi budaya instan di ruang digital yang cenderung memudarkan semangat tabayyun (konfirmasi) dan kebijaksanaan dalam menyerap informasi.

Media sosial, yang sejatinya bisa menjadi ruang silaturahmi digital, sering kali berubah menjadi inkubator caci maki dan benturan opini yang tajam. Ketika gotong royong mulai luntur dan digantikan oleh individualisme ekstrem, Pancasila sedang berada dalam ancaman sosiologis yang serius. Risiko terbesar muncul ketika Pancasila hanya direduksi menjadi slogan seremonial. Ia dihafalkan dalam upacara dan dikutip dalam pidato resmi, namun dikhianati dalam praktik sehari-hari. Jika ini terus terjadi, Pancasila akan kehilangan daya hidup dan daya pikatnya di mata generasi muda.

4. Strategi Humanis: Membumikan Pancasila sebagai Tanggung Jawab Bersama

Menjaga eksistensi Pancasila di tengah dinamika masyarakat modern bukanlah tugas tunggal negara atau aparat pemerintah. Ini adalah ikhtiar kolektif, sebuah tanggung jawab kebudayaan yang bertumpu pada seluruh elemen bangsa. Kita membutuhkan strategi pembumian yang lebih segar, partisipatif, dan menyentuh sisi kemanusiaan.

1. Transformasi Pendidikan dan Lingkungan Keluarga

Sekolah dan institusi pendidikan tinggi harus mendesain pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang dialogis. Mahasiswa dan pelajar tidak boleh hanya menjadi objek hafalan, melainkan subjek yang diajak membedah masalah sosial dan mencari solusinya berbasis nilai Pancasila. Di tingkat mikro, keluarga harus menjadi madrasah pertama dalam menanamkan karakter empati, berbagi, dan menghargai perbedaan.

2. Aktualisasi di Ruang Publik dan Media Massa

Media massa dan para pembuat konten (content creator) di ruang digital memiliki peran krusial. Narasi-narasi gotong royong, toleransi, dan prestasi anak bangsa harus lebih banyak diproduksi untuk mengkaunter konten-konten destruktif. Nilai Pancasila perlu "diterjemahkan" ke dalam bahasa visual yang menarik, populer, dan mudah dicerna oleh generasi Z dan Alpha.

5. Kesimpulan: Warisan yang Menjadi Kekuatan Masa Depan

Pancasila bukanlah warisan masa lalu yang disimpan rapi di dalam museum sejarah. Ia adalah energi masa depan yang harus terus mengalir dalam darah dan nadi setiap manusia Indonesia. Eksistensinya di tengah dinamika zaman tidak ditentukan oleh seberapa megah lambang Garuda Pancasila dipajang, melainkan oleh seberapa konsisten nilai-nilainya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjadikan Pancasila sebagai kekuatan moral yang hidup, dinamis, dan humanis, bangsa Indonesia akan tetap tegak berdiri. Kita akan mampu melangkah dengan percaya diri menghadapi fajar masa depan, menjadi bangsa modern tanpa pernah kehilangan kehangatan karakter jati diri kita sendiri.(*)

Daftar Pustaka

Harefa, Amstrong. (2014). Pancasila sebagai Ideologi Dinamis. Neliti. Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/195807-ID-pancasila-sebagai-ideologi-dinamis.pdf

Tim Redaksi Jurnal. Menjaga Eksistensi Pancasila dan Penerapannya bagi Masyarakat di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Diakses dari: https://journal.umpo.ac.id/index.php/JPK/article/view/307/