HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Kehangatan Tarian Papua dan Diskusi Kritis: Nobar Film "Pesta Babi" di Yogyakarta Soroti Realita Pembangunan dan Literasi Informasi

Lentera24.com​ | YOGYAKARTA – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Goebog Resto, Kompleks Ruko Tandan Raya, Bantul, Rabu (10/6/20...


Lentera24.com​ | YOGYAKARTA – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Goebog Resto, Kompleks Ruko Tandan Raya, Bantul, Rabu (10/6/2026) malam. Di sela-sela riuhnya kota pelajar, SHG Advokat bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Raja Ampat (IPMARAM) berkumpul menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi publik. Mengangkat tajuk “Film Pesta Babi: Antara Realita dan Agenda Pembangunan”, acara ini menjadi ruang pameran budaya sekaligus mimbar akademik yang humanis.

​Sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum larut dalam rangkaian acara. Malam itu tidak hanya diisi dengan adu argumen, tetapi dibuka dengan momen kebersamaan yang hangat melalui makan malam bersama.

​Simfoni Budaya Penjaga Identitas

​Sebelum layar bioskop mini diturunkan, ruang acara berganti rupa menjadi panggung pelestarian budaya. Anggota IPMARAM dengan penuh semangat membawakan Tarian Pangkur Sagu. Gerakan yang dinamis dan sarat makna filosofis ini menjadi pengingat bagi seluruh hadirin tentang kekayaan adat yang harus tetap hidup di tengah arus modernisasi.

​Setyo Hadi Gunawan, penyelenggara sekaligus pendiri SHG Advokat, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi ini. Ia berharap acara ini bisa menjadi jembatan dialog yang sehat.

​Usai penampilan tari, lampu ruangan redup. Selama satu jam, mata peserta terpaku pada pemutaran film dokumenter Pesta Babi, sebuah karya yang memotret dinamika kehidupan dan pembangunan di tanah Papua.

​Menakar Fakta, Menolak Provokasi

​Masuk ke sesi diskusi, suasana interaktif semakin terasa hangat di bawah panduan Charlien Tania, S.Psi. Mahasiswa Profesi Psikologi UGM sekaligus Miss Papua Barat 2013 ini mengajak peserta menyelami pentingnya literasi media di era digital.

​"Kita harus kritis. Penting sekali untuk bisa membedakan mana yang fakta, dugaan, atau sekadar pendapat personal agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks," tegas Charlien.

​Menyambung hal tersebut, tokoh agama asal Papua, Pdt. Beni Dimara, menitipkan pesan mendalam bagi para generasi muda Papua yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

​“Mahasiswa Papua harus terus belajar, memperluas wawasan, dan mengasah ketajaman berpikir. Diskusi seperti ini menjadi sarana penting untuk memahami berbagai perspektif secara komprehensif,” ujar Pdt. Beni.

​Pembangunan yang Berwajah Kemanusiaan

​Dari sudut pandang ketahanan pangan dan sosial, Dekan Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Dr. Ir. Yunianta, M.P., memaparkan bahwa program megaproyek pertanian di Papua harus berwajah inklusif. Menurutnya, pembangunan kawasan pangan berskala besar wajib melibatkan peningkatan kualitas SDM setempat dan komunikasi yang menyentuh hati masyarakat.

​“Setiap program pembangunan harus memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan agar manfaatnya dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh masyarakat adat,” jelas Yunianta.

​Sementara itu, dari kacamata estetika dan komunikasi visual, Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn. (Dosen Film dan Televisi ISI Yogyakarta) mengingatkan penonton agar bijak membaca sebuah dokumenter.

​“Film dokumenter itu bukan sekadar rekaman fakta objektif, melainkan sebuah karya yang menghadirkan perspektif subjektif pembuatnya melalui cara bercerita yang dirancang secara sinematik,” urai Pius.

​Di akhir sesi, sebuah benang merah berhasil ditarik bersama: Pembangunan di Papua adalah sebuah keniscayaan demi kesejahteraan, namun jalannya harus inklusif, partisipatif, dan menaruh hormat setinggi-tingginya pada hak masyarakat adat. Keseimbangan antara ekonomi, pelestarian alam, dan budaya adalah kunci utama meredam konflik sosial.

​Para peserta yang mayoritas mahasiswa juga sepakat bahwa senjata terbaik mereka hari ini adalah pendidikan, perluasan jejaring, dan peningkatan kapasitas diri agar kelak bisa pulang membangun daerah.

​Malam yang panjang itu akhirnya ditutup dengan penuh kegembiraan. Ketukan ritme Tarian Yospan (Yosim Pancar) dan alunan vokal merdu dari anggota IPMARAM melepas kepulangan para peserta. Sebuah malam di Yogyakarta yang berhasil mengawinkan nalar akademis dengan kehangatan rasa persaudaraan Papua. []L24.Sai