HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Membina Karakter Sejak Dini: SSB Muda Sedia Juara Perseka Cup I 2026, Bukti Sepak Bola Efektif Putus Mata Rantai Narkoba

Lentera24.com | LANGSA – Pembinaan atlet usia dini bukan sekadar urusan mencetak gol dan mengangkat trofi di lapangan hijau. Lebih dari itu...


Lentera24.com | LANGSA – Pembinaan atlet usia dini bukan sekadar urusan mencetak gol dan mengangkat trofi di lapangan hijau. Lebih dari itu, lapangan sepak bola adalah ruang kelas pertama bagi anak-anak untuk belajar disiplin, tangguh, dan membentengi diri dari pengaruh negatif lingkungan, termasuk ancaman bahaya narkoba.

Esensi pembinaan karakter inilah yang sukses ditunjukkan oleh Sekolah Sepak Bola (SSB) Muda Sedia Aceh Tamiang kelompok usia 14 tahun (U-14). Menghadapi ujian ganda—mulai dari rusaknya fasilitas latihan akibat terjangan banjir hingga ketatnya kompetisi—mereka berhasil membuktikan diri dengan keluar sebagai juara pada ajang Festival SSB Perseka Cup I 2026 yang digelar di lapangan Kampung Alue Beurawe, Kota Langsa, Minggu (17/5/2026).

Membina Generasi Emas, Menjauhkan dari Narkoba

Di tengah kekhawatiran maraknya peredaran narkotika yang menyasar usia remaja, aktivitas positif seperti sepak bola menjadi tameng emosional dan fisik yang paling efektif. Melalui latihan rutin, energi masa muda anak-anak dialihkan untuk mengejar prestasi, sehingga secara otomatis memutus mata rantai dan ruang gerak peredaran narkoba di lingkungan mereka.

Hal ini diamini oleh Ketua Panitia Festival, Suhairi. Ia menegaskan bahwa festival sepak bola usia dini adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi masa depan bangsa.


“Ini adalah festival untuk anak-anak, jadi keteladanan dari para pelatih dan manajer sangat penting. Melalui sepak bola, kita tidak hanya membentuk fisik yang sehat, tetapi juga karakter yang kuat. Anak-anak yang sibuk mengejar prestasi di lapangan sepak bola secara otomatis akan menjauh dari lingkaran setan narkoba,” tegas Suhairi.

Ia juga mengapresiasi seluruh manajer dan pelatih yang konsisten menjaga nilai-nilai fair play selama turnamen yang diikuti oleh 20 SSB dari berbagai daerah ini.

Kisah SSB Muda Sedia dalam turnamen berformat 8 lawan 8 pemain ini melahirkan decak kagum. Beberapa waktu lalu, home basecamp tempat mereka biasa berlatih di Aceh Tamiang sempat terendam banjir besar yang merusak lapangan dan fasilitas latihan. Namun, di bawah asuhan tangan dingin pelatih Zulfikar AB dan asisten Aidil Ghifari, mental anak-anak ini tidak ikut tenggelam.

Dengan memanfaatkan sisa ruang yang ada, Zulfikar terus menempa fisik dan mental anak asuhnya. Hasilnya terlihat jelas di lapangan:

Fase Grup & 16 Besar: Lolos dari Grup C setelah menang 1-0 atas Langsa Kids dan imbang 0-0 dengan Embun Pagi Langsa, lalu menumbangkan sesama tim Aceh Tamiang, SSB Busing, dengan skor 1-0.

Mental Baja di Babak Gugur: Kematangan mental anak-anak U-14 ini diuji lewat drama adu penalti yang menguras emosi. Mereka sukses menundukkan SSB Elang Biru Langsa (2-0) di perempat final dan SSB Tupah (3-2) di semifinal setelah kedua laga berakhir kacamata di waktu normal.

Drama Koin Jelang Magrib

Di partai puncak, SSB Muda Sedia dijadwalkan bersua tuan rumah SSB Perseka Langsa. Namun, karena pertandingan semifinal yang ketat menguras waktu hingga memasuki azan Magrib, panitia mengutamakan nilai-nilai religius dan keselamatan dengan tidak melanjutkan laga demi menghormati waktu ibadah.

Lewat kesepakatan bersama, penentuan juara dilakukan melalui tos koin. Keberuntungan pun berpihak kepada SSB Muda Sedia yang resmi dinobatkan sebagai Juara Pertama, lengkap dengan raihan medali serta uang pembinaan.

Pesan Edukasi dari Sang Arsitek Tim

Meski pulang membawa piala, pelatih SSB Muda Sedia, Zulfikar AB, tetap memprioritaskan esensi pembinaan ketimbang euforia semata.


“Kami sangat bersyukur. Anak-anak telah memperlihatkan semangat juang tinggi, bangkit dari keterbatasan fasilitas pasca-banjir. Namun, perjalanan mereka masih panjang. Ini adalah masa pembinaan, mereka harus lebih rajin berlatih agar terhindar dari pergaulan negatif dan bisa meraih prestasi yang lebih tinggi di masa depan,” ujar Zulfikar dengan bijak.

Lewat turnamen ini, festival sepak bola usia dini kembali membuktikan fungsinya: bukan sekadar tempat mencari pemenang, melainkan sebuah gerakan kemanusiaan untuk menyelamatkan anak-anak dari ancaman narkoba dan mencetak generasi yang tangguh di segala kondisi. []L24.Sai