Lentera24.com | KARANG BARU – Suasana FN Kafe Kampung Dalam pada Sabtu (25/4/26) terasa berbeda. Ratusan pahlawan tanpa tanda jasa berkumpu...
Lentera24.com | KARANG BARU – Suasana FN Kafe Kampung Dalam pada Sabtu (25/4/26) terasa berbeda. Ratusan pahlawan tanpa tanda jasa berkumpul dalam semangat kekeluargaan pada Konferensi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-23 Kabupaten Aceh Tamiang. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan simbol kebangkitan dan penguatan kesejahteraan pendidik di Bumi Muda Sedia.
Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, SE.I., hadir membuka acara dengan pesan yang menyentuh hati. Ia menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, melainkan mitra strategis pemerintah yang berdiri paling depan, bahkan saat badai bencana melanda daerah.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah respon Wabup terhadap aspirasi para guru. Menjawab kerinduan akan identitas profesi, Ismail secara resmi memperbolehkan para guru mengenakan atribut batik kebanggaan mereka setiap hari Rabu.
“Pada hari Rabu mendatang, silakan Bapak/Ibu mengenakan baju batik guru,” ucapnya disambut hangat oleh para peserta.
Namun, bukan hanya soal seragam, perhatian pemerintah tertuju pada "dapur" para pendidik. Di tengah proses pemulihan daerah, Wabup mengungkapkan komitmen nyata pemerintah daerah dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk honorarium PPPK paruh waktu.
- "Kami sadar kondisi ini belum ideal. Namun, ini adalah langkah nyata pemerintah untuk terus berupaya mencari solusi terbaik secara bertahap. Kami mohon Bapak dan Ibu sedikit bersabar sembari kita bersama-sama menjemput kebijakan yang lebih baik di masa depan," tutur Ismail dengan nada penuh empati.
Ismail juga menegaskan bahwa guru harus merasa aman dan nyaman dalam mendidik. Melalui dukungan Forkopimda, pemerintah menjamin perlindungan bagi guru agar dapat bekerja secara proporsional dan sesuai regulasi. Sinergi ini diharapkan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, sehingga transformasi menuju Indonesia Emas bukan sekadar slogan, tapi dimulai dari ruang kelas yang bahagia.
PGRI: Dari Kemanusiaan Menuju Transformasi
Ketua PGRI Aceh, Al Munzir, turut memberikan apresiasi atas gerak cepat PGRI Aceh Tamiang yang tak hanya fokus pada urusan internal, tapi juga sosial. Ia memaparkan bagaimana organisasi ini telah menyalurkan bantuan bagi korban banjir hingga ke Sumatera Utara.
Hal senada disampaikan Ketua PGRI Aceh Tamiang, M. Nurdin. Ia melaporkan bahwa organisasi kini semakin solid dengan kepengurusan yang telah terbentuk di 12 kecamatan.
"Kami hadir lewat posko bencana, mendata anggota, dan memastikan bantuan sampai ke tangan guru serta siswa yang membutuhkan. PGRI adalah rumah besar bagi kita semua," lapor Nurdin.
Konferensi ke-23 ini mengusung misi besar: "Transformasi PGRI Menuju Indonesia Emas". Di bawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta instansi terkait lainnya, diharapkan lahir kepengurusan baru yang mampu merumuskan strategi kesejahteraan guru yang lebih komprehensif.
Pertemuan ini ditutup dengan semangat kolaborasi. Bahwa di balik setiap kebijakan, ada harapan ribuan guru untuk hidup lebih sejahtera, dan di balik kesejahteraan itu, ada jutaan anak didik yang siap membangun Aceh Tamiang menjadi lebih gemilang. []L24.Sai

