HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dalam bidang E-commerce

Ilustrasi  Lentera24.com  - Tren belanja online menjadi suatu aktivitas biasa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak pandemi Covid-1...

Ilustrasi 

Lentera24.com - Tren belanja online menjadi suatu aktivitas biasa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak pandemi Covid-19 menghambat penjualan yang bersifat offline atau konvensional (Kompas.com, 2023). Peningkatan tren belanja online ini disebabkan pula oleh masyarakat Indonesia makin malas untuk berbelanja offline, apalagi di era industri 5.0 yang mana teknologi sudah canggih, serta pertumbuhan internet yang kian cepat menambah kemalasan masyarakat dalam berbelanja secara offline, sehingga berbelanja online menjadi pilihan tepat (Okezone.com, 2023).

Adanya kemudahan dalam mengakses di era digital ini, banyak memunculkan media yang dapat menjadi tempat untuk jual beli sehingga persaingan bisnis pun kian ketat (Franchisek24.com. 2024). Persaingan paling ketat bagi para pelaku bisnis datang dalam bentuk ekonomi digital dengan berkembangnya teknologi, sehingga para pelaku bisnis perlu memperhatikan fenomena tersebut dan mengetahui serta menguasai pemasaran digital. Digitalisasi proses jual beli ini memudahkan pengusaha untuk mempromosikan merek dan menjual produknyasebagai contoh apabila pada tahun 2000-an para pedagang sulit mencari supplier, kini semua barang mudah ditemukan di platforme-commerce(Aditya, 2023).

Pengguna internet di Indonesia juga semakin berkembang setiap tahun yang berdampak pada kegiatan pengguna dalam melakukan belanja online. Menurut laporan terbaru We Are Socialpada Januari 2024 menunjukkan bahwa sekitar 56,1% pengguna internet di seluruh dunia biasa melakukan kegiatan belanja online setiap pekan. Pernyataan tersebut didukung oleh data yang mengatakan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-9, dengan proporsi pengguna internet yang belanja onlinesetiap pekan 59,3%, sama dengan India. Menurut We Are Social, secara global, kegiatan berbelanja online ini lebih sering dilakukan oleh para kaum perempuan daripada kaum laki-laki. Kelompok usia yang biasa berbelanja online setiap akhir pekan adalah usia 35–44 tahun (62,3%) dan 25–34 tahun (61,5%) (Ahdiat, 2024).

E-commerce menjadi tempat paling diminati masyarakat Indonesia dalam berbelanja online. Berdasarkan Statista Market Insights, jumlah pengguna e-commercedi Indonesia sampai pada akhir tahun 2023 telah mencapai 196,47 juta pengguna, bahkan tren kenaikan jumlah pengguna e-commerce ini diprediksi masih akan terjadi hingga empat tahun ke depan, di mana Statista memprediksi jumlah pengguna e-commerce di Indonesia mencapai 244,67 juta pengguna pada tahun 2027 mendatang (Financedetik.com. 2023).

Hasil riset Populix pada tahun 2023 diperoleh perilaku konsumen di Indonesia termasuk ke dalam kategori impulse buying di mana sebagian besar konsumen cenderung membeli barang di luar dari daftar belanja yang telah dibuat (Infobanknews.com, 2023). CEO Populix mengatakan pula kecenderungan pembelian impulsif di Indonesia didorong oleh keinginan untuk memiliki barang yang sudah lama diinginkan, serta sebagai bentuk apresiasi untuk diri sendiri (self-reward). Hasil survei diketahui sebanyak 63% cenderung melakukan impulse buying pada platform online dengan alasan hemat waktu dan tenaga, mendapatkan cashback, pengiriman gratis, banyaknya opsi metode pembayaran, serta karena ulasan terkait produk yang diinginkan (Infobanknews.com, 2023).


Berdasarkan ulasan tersebut, seseorang yang awalnya malas untuk berbelanja menjadi sangat menyukai berbelanja karena hadirnya shopee dan kemudahan dalam menggunakannya sehingga adanya positive emotionmengenai suatu produk atau layanan tertentu mampu meningkatkan impulse buyingseseorang, Penelitian terdahulu mengenai pengaruh positive emotion terhadap impulse buying telah dilakukan oleh Sucidha (2019) denganSuwanti, Hadi, danHaris (2023) yang menyatakan bahwa positive emotion berpengaruh positif dan signifikan terhadapimpulse buying. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sopiyan dan Kusumadewi (2020) yang menyatakan bahwa positive emotion tidak berpengaruh terhadap impulse buying.

Oleh Sekar Nayla Destiana, Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen.