Nasruddin, SE, (Baju Hitam) Program Manager Yayasan Geutanyoe, terlihat bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga bes...
![]() |
| Nasruddin, SE, (Baju Hitam) Program Manager Yayasan Geutanyoe, terlihat bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar warga yang sedang berduka.(Dok. Lentera24.com) |
Lentera24.com | ACEH TIMUR – Di balik tumpukan 787 paket bantuan yang disalurkan ke pedalaman Aceh Timur, terselip sebuah pemandangan yang menyentuh hati. Di Kecamatan Serbajadi, sosok Nasruddin, SE, Program Manager Yayasan Geutanyoe, terlihat bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar warga yang sedang berduka.
Langkah kakinya yang berlumur lumpur saat menyusuri Desa Lokop hingga Bunin menjadi bukti nyata bahwa bantuan terbaik tidak hanya datang dalam bentuk barang, tetapi juga dalam bentuk kehadiran dan ketulusan.
Menghapus Batas: Saat Pemimpin Menjadi Pelayan
Berita ini bukan sekadar tentang distribusi logistik, melainkan tentang edukasi moral bagi kita semua. Nasruddin membuktikan bahwa gelar dan jabatan harus ditanggalkan ketika berhadapan dengan penderitaan manusia. Di sela-sela pembagian hygiene kit hasil kolaborasi Yayasan Geutanyoe dan Save the Children, ia duduk bersama warga di atas tikar lusuh, mendengarkan rintihan hati mereka tanpa ada jarak.
"Bagi saya, warga Serbajadi adalah guru tentang ketabahan. Tidak ada batas antara kami dan mereka. Kami hadir untuk merasakan apa yang mereka rasakan, memastikan mereka tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian di tengah sisa-sisa banjir ini," ungkap Nasruddin dengan nada rendah hati.
Seringkali, bantuan bencana hanya dianggap sebagai angka dan statistik. Namun, melalui aksi nyata ini, Yayasan Geutanyoe dan Save the Children mengedukasi publik bahwa kebersihan diri adalah bagian dari martabat manusia.
- Bukan Sekadar Sabun: Bagi warga seperti Zulkarnaini di Desa Sunti, paket yang berisi sampo, sabun, dan pembalut wanita adalah kemewahan yang mengembalikan rasa kemanusiaan mereka setelah berbulan-bulan mandi hanya dengan sabun colek seadanya.
- Empati yang Mendalam: Nasruddin memahami bahwa memberikan sikat gigi kepada seorang anak yang sudah lama tak menyikat gigi dengan layak, atau memberikan pembalut kepada ibu-ibu di pengungsian, adalah cara menjaga kehormatan mereka sebagai manusia.
"Kehadiran Pak Nasruddin yang mau memeluk kami, mendengar cerita kami, itu lebih dari sekadar bantuan sabun. Beliau membuat kami merasa dianggap sebagai manusia lagi," ujar salah satu ibu di Desa Bunin dengan mata berkaca-kaca.
Menembus Medan Ekstrem demi Harapan
Medan berat yang harus ditempuh tim relawan selama berjam-jam tidak menyurutkan semangat. Bagi Nasruddin dan timnya, setiap keringat yang jatuh adalah bagian dari ibadah kemanusiaan. Mereka menembus akses yang terputus demi memastikan 787 paket tersebut sampai ke enam desa: Lokop, Umah Taring, Sunti, Jreung, Loat, dan Bunin.
Pesan Edukasi dari Serbajadi:
Kepedulian sejati tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang difoto di depan kamera, melainkan dari seberapa dalam kita mampu menyatu dengan mereka yang sedang jatuh. Nasruddin, SE, bersama Yayasan Geutanyoe dan Save the Children, telah menunjukkan bahwa penyeka air mata terbaik adalah tangan yang mau merangkul, bukan sekadar memberi dari kejauhan.
Berita ini diharapkan menjadi panutan bagi pegiat kemanusiaan dan pembaca bahwa dalam menolong, hati harus lebih dulu sampai sebelum bantuan fisik menyentuh tangan.[]L24.Sai
