HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Klaim "Sukses" di Atas Puing: Tokoh Masyarakat Aceh Tamiang Bongkar Kebohongan Publik Presiden Prabowo

Murtala Lentera24.com | BANDA ACEH – Narasi keberhasilan pemulihan bencana di Aceh yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto ibarat menyir...

Murtala

Lentera24.com | BANDA ACEH – Narasi keberhasilan pemulihan bencana di Aceh yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto ibarat menyiram garam di atas luka masyarakat. 


Tokoh Masyarakat Aceh Tamiang Murtala yang juga Mantan Anggota Juru Runding GAM tahun 2002 Join Security Comite (JSC), ini menilai pernyataan Presiden bukan sekadar kekeliruan data, melainkan sebuah "pembohongan publik" yang dirancang secara sistematis.


Dalam pernyataan yang memicu kontroversi tersebut, Presiden mengklaim bahwa proses pemulihan pascabencana di Bumi Serambi Mekkah telah mendekati angka 100 persen dan tidak ada lagi warga yang mendekam di tenda pengungsian. Namun, fakta di lapangan justru bicara sebaliknya: sebuah realitas pahit yang jauh dari gemerlap angka statistik Jakarta, Murtala yakin apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo ada hasil yang beliau terima dari BNPB yang ingin menyenangkan Presiden, tuding Murtala.

Sejumlah warga Dusun Damai Kampung Barang Ara Kecamatan Bandar Pusaka masih tinggal di bawah tenda 

Ketajaman kritik Murtala menyasar pada jomplangnya perbandingan antara klaim pemerintah dengan progres fisik di lapangan. Hingga saat ini, pembangunan Hunian Sementara (Huntara), apalagi Hunian Tetap (Huntap), tercatat belum mencapai separuh dari total jumlah pengungsi yang membutuhkan.


Kondisi ini diperparah dengan carut-marutnya manajemen proyek di lapangan. "Bagaimana bisa diklaim hampir 100 persen, sementara banyak rekanan kontraktor yang justru 'angkat kaki' meninggalkan pekerjaan karena tersendatnya kucuran dana?" ujar Murtala  dengan nada getir. Alih-alih mendapatkan rumah permanen, warga justru terjebak dalam ketidakpastian proyek mangkrak.


Salah satu poin paling krusial yang diungkap mantan anggota juru runding GAM tahun 2002 Join Security Comite (JSC), ini adalah dugaan rekayasa kondisi saat kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang untuk pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lalu. Muncul tudingan pedas bahwa terjadi upaya "pembersihan visual" secara paksa.


"Masyarakat diminta keluar dari tenda pengungsian dan tenda-tenda dibongkar seketika hanya agar situasi terlihat seolah-olah sudah pulih total di depan mata Presiden," ungkap Murtala.


Upaya menciptakan kesan "Aceh telah bangkit" ini dinilai sebagai langkah manipulatif yang sengaja menutupi penderitaan korban yang sebenarnya masih bertahan di bawah terpal dan sisa-sisa reruntuhan.


Murtala menilai pola komunikasi yang menyesatkan ini bukan sekali ini terjadi, melainkan tren yang sudah terbaca sejak bencana melanda wilayah Sumatera, mulai dari Sumatera Utara hingga Sumatera Barat. Tanpa transparansi dan kemauan untuk melihat kenyataan pahit di lapangan, narasi sukses ini hanya akan menjadi bom waktu bagi kepercayaan publik terhadap pemerintah.


Bagi Murtala dan para penyintas, keberhasilan bencana tidak diukur dari pidato di podium, melainkan dari kunci rumah yang diserahkan ke tangan rakyat miskin—sesuatu yang hingga kini masih menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.[]L24.Sai