HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Digital Sila: Menjadikan Pancasila sebagai "Operating System" Jempol Kita

Lentera24.com - Pernahkah Anda merasa heran? Di dunia nyata, orang Indonesia dikenal sebagai bangsa paling ramah di dunia murah senyum dan ...


Lentera24.com - Pernahkah Anda merasa heran? Di dunia nyata, orang Indonesia dikenal sebagai bangsa paling ramah di dunia murah senyum dan suka menolong. Namun, begitu masuk ke kolom komentar media sosial, seolah ada saklar yang berpindah. Keramahan itu sering kali berganti menjadi caci maki, penyebaran hoaks, hingga perundungan siber (cyberbullying).

​Laporan Digital Civility Index (DCI) sering kali menempatkan netizen Indonesia di peringkat rendah dalam hal kesopanan digital. Padahal, data tahun 2024-2025 menunjukkan kita menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari menatap layar ponsel. Artinya, sebagian besar hidup kita sudah pindah ke dunia digital, tapi sayangnya, etika kita sering kali tertinggal di dunia nyata.

Pancasila: Kompas di Tengah Badai Algoritma

​Menerapkan Pancasila di era digital bukan lagi soal hafalan di kelas, melainkan bentuk Bela Negara yang paling nyata. Tantangan kedaulatan kita hari ini bukan lagi soal perbatasan fisik, melainkan serangan terhadap mental dan persatuan bangsa melalui layar 6 inci.

​Agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah arus informasi tanpa filter, mari kita instal "Pancasila" sebagai sistem operasi dalam setiap interaksi digital kita:

1. Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa

Logika Digital: CCTV Tuhan melampaui mode Incognito.

Berinternet adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta. Kesadaran ini membuat kita berpikir dua kali sebelum bertindak.

  • Aksi Nyata: Menghindari konten judi online, pornografi, atau materi yang menistakan keyakinan orang lain. Ingat, jejak digital adalah jejak amal.

2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Logika Digital: Ada manusia nyata di balik setiap username.

Seringkali karena tidak bertatap muka, kita lupa bahwa akun yang kita serang adalah manusia yang punya perasaan.

  • Aksi Nyata: Berhenti melakukan doxing (menyebar data pribadi), menjauhi cyberbullying, dan belajar mengapresiasi karya orang lain daripada sekadar mencari celah untuk mencela.

3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Logika Digital: Jadilah jembatan, bukan pemecah belah.

Algoritma media sosial cenderung menciptakan "gelembung" yang membuat kita hanya melihat apa yang kita sukai, sehingga memicu polarisasi.

  • Aksi Nyata: Selalu melakukan filter sebelum share. Jangan menjadi "kurir" berita bohong (hoaks) yang bisa memicu konflik SARA. Gunakan jempolmu untuk merajut kembali persaudaraan yang retak karena beda pilihan politik.

4. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

Logika Digital: Tabayyun dulu, komentar kemudian.

Jangan terjebak dalam cancel culture atau penghakiman massal hanya berdasarkan potongan video 15 detik yang belum tentu benar.

  • Aksi Nyata: Kedepankan diskusi yang rasional dan santun. Jika tidak setuju dengan pendapat orang lain, sampaikan dengan argumentasi yang sehat, bukan dengan melakukan report massal atau sabotase akun.

5. Sila Kelima: Keadilan Sosial

Logika Digital: Internet sehat untuk semua.

Keadilan digital berarti memastikan teknologi membawa manfaat bagi orang banyak, bukan justru menjadi alat penindasan atau penipuan.

  • Aksi Nyata: Ikut membantu mengedukasi keluarga atau teman tentang bahaya phishing dan pinjol ilegal. Bagikan informasi yang edukatif agar literasi digital merata hingga ke pelosok.

Penutup: Integritas Adalah Gaya Hidup Baru

​Pancasila tidak perlu selalu dikutip pasalnya, cukup tunjukkan melalui sikap. Menjadikan Pancasila sebagai "Digital Sila" berarti kita berani memilih untuk menjadi netizen yang bermartabat.

​Setiap komentar yang kita ketik dan setiap informasi yang kita bagikan adalah kontribusi kita terhadap ketahanan nasional. Mari kita ubah wajah internet Indonesia: dari ruang penuh caci maki, menjadi ruang gotong royong digital yang penuh inspirasi.

Jempolmu, Harimaumu. Pancasila, Kompasmu.

Penulis Hasna Muhibatul Hasanah
Semester 2
Universitas Islam Negri Siber Syekh Nurjati Cirebon


Daftar Pustaka

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). (2022). Pancasila dalam Tindakan: Membumikan Nilai Ideologi di Era Digital. Jakarta: BPIP Press.

Kementerian Kominfo. (2021). Modul Literasi Digital: Etis Bermedia Digital. Jakarta: Kemkominfo & Siberkreasi.

Nasrullah, R. (2020). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Prasetyo, A., & Zulhazmi, A. Z. (2021). Pancasila di Dunia Maya: Tantangan dan Peluang dalam Mempertahankan Jati Diri Bangsa. Jurnal Pemikiran Pancasila, 12(2), 45-58.

Rahmawati, D., dkk. (2023). Etika Komunikasi Netizen Indonesia:Analisis Perilaku Digital Pasca-Pandemi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sutrisno,S. (2019). Reaktualisasi Pancasila di Era Disrupsi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yudhasasanti, R. (2024). Demokrasi Digital dan Hikmat Kebijaksanaan dalam Ruang Publik Kontemporer. Jurnal Sosial Politik Indonesia, 15(1), 102-115.