HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Sejumlah Rumah Terendam Pasang Purnama di Bireun

Sejumlah rumah di Desa Alue Buya Pasie, Kecamatan Jangka, Bireuen terendam air laut akibat pasang purnama, Rabu 6 Juni 2012. Peristiwa itu...

Sejumlah rumah di Desa Alue Buya Pasie, Kecamatan Jangka, Bireuen terendam air laut akibat pasang purnama, Rabu 6 Juni 2012. Peristiwa itu merupakan musibah tahunan yang menjadi langganan warga di pesisir tersebut.

Camat Jangka, Amiruddin, ketika dihubungi melalui telepon seluler sekitar pukul 11.45 WIB tadi mengatakan pasang purnama merendam pemukiman, pekarangan rumah dan kebun warga terendam dan ada beberapa rumah yang dimasuki air laut.

“Itu terjadi setiap tahun selama tiga tahun terakhir, air laut itu hanya bertahan beberapa jam, lalu surut, ini memang sangat mengganggu masyarakat, air pasang itu tidak sampai membuat rumah warga rusak sebagaimana informasi berkembang,” ujarnya.

Dia mengatakan pasang purnama seperti yang terjadi Rabu siang itu juga sama yang terjadi Selasa kemarin. Tetapi sebut Amiruddin, selama dua hari ini abrasi pantai di kawasan tersebut kembali terjadi, daratan semakin digerus air laut.

Bahkan katanya, bangunan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Desa Alue Buya Pasie kini bagian pondasinya digerus air dan pagarnya tumbang. “Saya sudah melihat ke lokasi,” ujar Amiruddin.

Persoalan yang memicu air pasang purnama hingga merendam pemukiman, secara teknis sesuai disampaikan tenaga teknis instansi terkait kepadanya, air pasang seperti itu terjadi sebab bagian pantai Desa Alue Buya Pasie belum dibangun tanggul pemecah ombak.

“Sementara di pantai desa tetangganya, di Kuala Raja, Kecamatan Kuala, sudah dibangun tanggul batu, jadi gelombang pasang tidak mampu menembus tanggul batu lalu beralih ke Alue Buya Pasie yang belum ada tanggul,” kata Amiruddin.

Menurut survey, ujar camat, untuk mengatasi masalah rendaman air laut di Desa Alue Buya Pasie yang terulang saat  pasang purnama yaitu dengan membangun tanggul pemecah ombak. “Untuk itu minimal butuh dana Rp30 miliar,” katanya. | Atjehpost