HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Menjaga "Rasa" Indonesia: Membumikan Pancasila di Era Layar Kaca dan Individualisme

Dea Notalia Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang, D...

Dea Notalia Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang, Dosen Pengampu: Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H.

Pendahuluan: Ketika Dunia Melipat Jarak

Globalisasi tidak sekadar membawa teknologi baru ke genggaman tangan kita; ia membawa cara berpikir, gaya hidup, dan budaya baru yang langsung mengetuk pintu kesadaran masyarakat Indonesia setiap detiknya. Melalui algoritma media sosial dan arus digitalisasi yang tanpa batas, sekat-sekat kultural perlahan memudar. Kita hari ini bisa dengan mudah merasa dekat dengan tren di belahan bumi lain, namun di saat yang sama, ironisnya, kita justru kerap merasa asing dengan tetangga di sebelah rumah.

Di tengah derasnya infiltrasi budaya luar ini, nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi pengikat kita sebagai satu bangsa sedang menghadapi ujian yang sesungguhnya. Pertanyaannya bukan lagi tentang seberapa canggih kita mengadopsi modernitas, melainkan tentang bagaimana kita menjaga identitas diri agar tidak hanyut dan kehilangan arah. Di sinilah Pancasila harus diposisikan bukan lagi sekadar sebagai lambang yang dipajang di dinding kelas, melainkan sebagai benteng hidup sekaligus kompas moral dalam menjaga karakter bangsa.

Membaca Pancasila Sebagai Ruh, Bukan Dokumen Kaku

Pancasila seringkali keliru dimaknai hanya sebagai teks formalitas kenegaraan. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, Pancasila adalah kristalisasi dari keringat, air mata, dan kearifan lokal yang sudah hidup berabad-abad di nusantara. Senada dengan pemikiran Kaelan (dalam Dewantara, 2023), Pancasila bukanlah ideologi yang mendadak jatuh dari langit atau sekadar deretan kalimat normatif dalam dokumen negara. Ia adalah cerminan dari jiwa (volksgeist) yang hidup, tumbuh, dan berkembang secara alami dalam rahim masyarakat Indonesia sejak lama.

Ketika kita berbicara tentang sila kelima, misalnya, kita sedang membicarakan sebuah filosofi hidup yang sangat indah tentang keseimbangan. Di dalamnya ada tuntutan moral untuk menyeimbangkan antara hak pribadi dan kewajiban sosial, serta menjembatani kepentingan individu dengan kemaslahatan bersama. Relevansi Pancasila sebagai fondasi karakter terletak pada sifatnya yang humanis ini—ia tidak menafikan kebebasan manusia, namun ia mengingatkan bahwa manusia hanya akan menjadi utuh saat ia memanusiakan manusia lainnya.

Tantangan Generasi "Layar": Memudarnya Gotong Royong

Salah satu paradoks terbesar yang kita saksikan pada generasi muda hari ini adalah fenomena kesepian di tengah keramaian digital (connected but alone). Arus globalisasi membawa serta paham individualisme yang akut. Dampaknya sangat nyata: rasa kebersamaan, kepedulian sosial, dan tradisi gotong royong yang dahulu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kini perlahan mulai mengikis, digantikan oleh sikap pragmatis dan egosentris.

Kondisi ini jelas menjadi alarm bahaya karena bertolak belakang dengan hakikat sila keempat dan kelima Pancasila. Ketika ruang-ruang dialog, musyawarah untuk mufakat, dan empati sosial mulai digantikan oleh riuh rendah perdebatan yang saling menjatuhkan di media sosial, kita sedang mengalami krisis karakter yang serius. Karakter yang tercerabut dari akarnya hanya akan melahirkan generasi pintar secara intelektual, namun tumpul secara sosial dan emosional.

Menembus Batas Kelas: Internalisasi Pancasila yang Humanis

Menghadapi tantangan tersebut, kita tidak bisa lagi mengandalkan metode indoktrinasi atau pembelajaran formal yang kaku di bangku sekolah semata. Penguatan karakter berbasis Pancasila harus diorkestrasi secara menyeluruh, menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar, dan dilakukan secara berkesinambungan.

Pancasila harus mewujud dalam tindakan nyata di tiga ranah utama:

Lingkungan Keluarga: Sebagai madrasah pertama dalam menanamkan empati, pembagian peran yang adil, dan rasa hormat.

Tempat Kerja dan Komunitas: Sebagai ruang aktualisasi etika professional, kejujuran, dan solidaritas sosial.

Ruang Publik: Di mana keteladanan dari para pemimpin, orang tua, dan tokoh masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa adanya keteladanan nyata dari elite dan teladan sosial, narasi tentang Pancasila hanya akan menjadi retorika kosong yang membosankan bagi generasi muda.

Kesimpulan: Bertumbuh Tanpa Kehilangan Jati Diri

Pancasila sebagai landasan karakter bangsa terbukti tetap memiliki daya hidup (vitalitas) dan relevansi yang kokoh di era globalisasi. Kekuatan sejati Pancasila bukan terletak pada kemampuannya menutup diri dari dunia luar, melainkan pada fungsinya sebagai penyaring (filter) yang cerdas. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila, masyarakat Indonesia akan mampu memilah mana pengaruh luar yang merusak dan mana hal-hal positif yang dapat diadopsi demi kemajuan peradaban.

Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa megah infrastruktur fisik yang kita bangun, melainkan oleh seberapa kuat karakter manusia-manusia di dalamnya. Generasi penerus yang berkarakter Pancasila adalah kunci utama bagi Indonesia untuk terus melangkah maju, memimpin di panggung dunia, tanpa pernah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berdaulat, bersatu, dan berkeadilan sosial.(*)

Referensi

Dewantara, A. W. (2023). Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 10(1), 1–12.