Lentera24.com | ACEH TIMUR – Langit Kecamatan Julok seketika terasa abu-abu. Kabar duka yang menyayat hati itu datang begitu cepat, berhemb...
Lentera24.com | ACEH TIMUR – Langit Kecamatan Julok seketika terasa abu-abu. Kabar duka yang menyayat hati itu datang begitu cepat, berhembus di antara kepasrahan dan air mata yang tumpah. Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah, sang pelita umat, ulama kharismatik pimpinan Dayah Bustanurridha, Tgk H Abubakar Ahmad, atau yang lekat di hati masyarakat dengan panggilan hangat: Abiya Blang Mideun.
Kepergian Abiya menyisakan syok yang mendalam. Tak ada tanda, tak ada pesan terakhir yang menyiratkan perpisahan. Selama ini, Abiya dikenal sebagai sosok yang bugar dan jarang mengeluh sakit.
Bahkan, seolah ingin memberikan kenangan terindah yang penuh berkah sebelum kembali ke pangkuan-Nya, tepat sehari sebelum menghembuskan napas terakhir, Abiya masih berdiri memimpin zikir dan selawatan menyambut malam Asyura, sekaligus berbuka puasa bersama di Masjid Al Kubra Kuta Binjei. Siapa yang mengira, senyum ramah sang Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Julok di malam itu adalah lambaian perpisahan terakhirnya.
Dari Lueng Angen hingga Menjadi Sandaran Umat
Abiya Blang Mideun adalah sosok yang matang dalam tempaan ilmu agama. Beliau merupakan alumni berdedikasi dari Dayah Darul Huda Lueng Angen, Aceh Utara. Setelah menguasai khazanah keilmuan, dedikasinya berlanjut sebagai guru di Dayah Bustanul Huda, Alue Cek Doi, di bawah bimbingan langsung ulama besar Tgk H Muhammad Ali (Abu Paya Pasi).
Hingga akhirnya, beliau mengasuh Dayah Bustanurridha di Gampong Blang Mideun, tempat di mana beliau menghabiskan sisa umurnya untuk mencetak generasi Qurani dan menjadi tempat bersandar bagi masyarakat yang haus akan keteduhan jiwa.
Di mata Camat Julok, H. Muhammad, S.Pd.I, M.A, Abiya bukan sekadar pemimpin dayah, melainkan sosok ayah yang selalu ada untuk anaknya. Abiya adalah pribadi yang luar biasa rendah hati, ramah, dan merangkul siapa saja tanpa pandang bulu.
Satu hal yang paling menyentuh hati sang Camat adalah kedisiplinan dan keikhlasan luar biasa dari Abiya.
"Abiya, hana meudeh meunoe gobnyan, adak telat ta undang bak saboh-saboh acara, tapi tetap hadir tepat watee," kenang Camat Julok dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
(Artinya: Abiya itu tidak menyusahkan orang. Biarpun telat kita undang ke suatu acara, beliau tetap mengusahakan hadir tepat waktu).
Detik-Detik Terakhir Sang Ulama
Kenangan manis itu berputar cepat bak pemutaran film yang menyakitkan untuk diingat. Pada Selasa dini hari, Abiya dengan penuh khidmat memimpin prosesi tepung tawar (peusijuek) kepulangan jemaah haji BTJ-07 asal Julok di Masjid Al Kubra Kuta Binjei. Dua hari berselang, Kamis malam, beliau kembali hadir di masjid yang sama untuk mengetuk pintu langit melalui zikir dan doa malam Asyura.
Namun, takdir Allah tidak ada yang tahu. Saat melangkah mengambil air wudhu untuk menunaikan salat Maghrib, tubuh sepuh itu tiba-tiba melemas. Isyarat kepulangan itu tiba.
"Abiya merasa tidak enak badan saat berwudhuk. Beberapa jemaah yang melihat langsung memegang dan membawa Abiya ke teras masjid," tutur H. Muhammad, yang juga sesama alumni YPI Darussa'adah Cabang Idi Cut.
Suasana tenang masjid berubah menjadi kepanikan penuh doa. Usai salat Maghrib, dalam debar dada yang tak karuan, jemaah melarikan Abiya ke RSUD Dr Zubir Mahmud Aceh Timur di Idi. Namun, raga yang lelah itu rupanya sudah rindu untuk pulang. Hanya 24 jam berjuang di Ruang ICU, Abiya menghembuskan napas terakhirnya, menghadap Sang Khalik.
Ribuan Pelayat dan Isak Tangis yang Pecah
Malam itu hingga pagi menjelang, Komplek Masjid Bustanurridha Blang Mideun berubah menjadi lautan manusia yang diselimuti duka mendalam. Ribuan jemaah, santri, dan masyarakat datang mengalir tanpa henti. Mereka mengantre dengan tertib, bergantian menyalatkan jenazah sang guru tercinta dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Prosesi pelepasan jenazah dipimpin langsung oleh sang guru, Abu Paya Pasi (Tgk H Muhammad Ali), didampingi oleh Tgk H Djafar (Abi Djafar Lueng Angen) serta jajaran pimpinan dayah lainnya. Isak tangis tertahan bergemuruh di udara saat jasad suci itu perlahan dimasukkan ke liang lahat.
Camat Julok, H. Muhammad, tak mampu lagi membendung rasa kehilangan yang teramat besar saat menyampaikan salam perpisahan mewakili warganya.
"Mewakili seluruh masyarakat Julok, kepergian Abiya menjadikan kami merasa sangat kehilangan. Beliau sudah seperti orang tua kami sendiri, tempat kami mengadu dan meminta nasehat. Kini, pundak tempat kami bersandar itu telah tiada... Semoga Allah mengampuni segala khilaf dan memberikan pengganti yang sepadan bagi kami masyarakat Julok," pungkasnya lirih, menutup lembaran kisah sang ulama yang kini telah tenang di keabadian.
Selamat jalan, Abiya... Tunai sudah tugasmu di dunia, doa kami akan selalu mengalir mengiringi langkahmu menuju jannah-Nya.[]L24.Zal
