HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Benteng Kepribadian Bangsa: Peran strategis ideologi pancasila di tengah Arus Globalisasi Dalam Kehidupan Bernegara

Khoeriah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang, Dose...

Khoeriah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang, Dosen Pengampu: Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H.

ABSTRAK

Lentera24.com - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis Pancasila sebagai ideologi negara dalam menyaring arus globalisasi dan modernisasi yang melanda Indonesia. Globalisasi yang dipicu oleh kemajuan teknologi informasi, keterbukaan ekonomi, dan interaksi internasional membawa perubahan besar pada karakter, moral, dan jiwa nasionalisme generasi muda. Melalui metode analisis deskriptif kualitatif berbasis studi literatur, artikel ini mengkaji tantangan internal berupa rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) serta tantangan eksternal berupa infiltrasi nilai-nilai asing. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Pancasila yang berbasis Ketuhanan dan menjunjung tinggi kebudayaan ketimuran wajib diimplementasikan secara dinamis agar nilainya tidak terkikis. Pancasila bertindak sebagai filter aktif yang memilah inovasi positif dan membuang ekses negatif globalisasi demi menjaga eksistensi dan kedaulatan moral bangsa.

Kata Kunci: Ideologi Pancasila, Globalisasi, Filter Budaya, Karakter Bangsa, Nasionalisme.

I. PENDAHULUAN

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu pengetahuan, manusia menjadi terus berkembang menciptakan berbagai jenis inovasi dalam kehidupannya. Kehidupan manusia kontemporer menjadi semakin modern, ditandai dengan berbagai perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, sosial budaya, serta teknologi informasi dan komunikasi. Akselerasi perkembangan ini menjadi pemicu utama terjadinya arus globalisasi yang masif. Secara umum, globalisasi dapat terjadi dikarenakan adanya integrasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, penguatan kerja sama internasional, keterbukaan ekonomi dalam sistem perdagangan global, serta semakin mudahnya akses transportasi antarnegara yang memangkas jarak geografis.

Globalisasi merupakan suatu proses yang tidak bisa dihindarkan dan tidak dapat ditangguhkan oleh bangsa mana pun di dunia. Konsekuensinya, negara-negara kini harus menghadapi tekanan kuat untuk beradaptasi secara cepat dengan dinamika perubahan dunia global. Hal ini memaksa pemangku kebijakan untuk mempertimbangkan arah politik dan kebijakan yang lebih terbuka terhadap perdagangan internasional, serta menjalani diplomasi yang jauh lebih intensif. Di sisi lain, globalisasi juga membawa dampak positif bagi masyarakat internasional, seperti menjadikan dunia lebih terhubung, sehingga mengakibatkan peningkatan kesadaran akan isu-isu global yang krusial layaknya perubahan iklim, penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), dan perdamaian dunia.

Namun, di balik peluang-peluang tersebut, globalisasi membawa pergeseran fundamental yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan. Globalisasi telah merubah segalanya, mulai dari aktivitas keseharian bahkan hingga karakter dan moral manusia pun dapat dirubahnya, termasuk jiwa nasionalisme generasi muda kita. Masuknya paham-paham baru, gaya hidup konsumtif, individualis, dan sekuler menjadi ancaman nyata bagi tatanan nilai lokal. Oleh karena itu, Pancasila sebagai ideologi negara harus mampu menjadi filter utama bagi budaya maupun nilainilai asing yang masuk ke Indonesia. Pancasila harus menyaring mana budaya dan nilai-nilai dari bangsa asing yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, sehingga identitas nasional tetap terjaga dengan utuh.

II. PEMBAHASAN

A. Tantangan Eksistensi Pancasila di Era Modernisasi

Arus globalisasi dan modernisasi yang sangat hebat memicu tantangan berlapis bagi ketahanan ideologi negara. Ketika sekat-sekat antarnegara mulai memudar secara digital, kebudayaan transnasional dengan mudah menginfiltrasi ruang domestik masyarakat melalui media sosial dan platform digital. Hal tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi Ideologi Pancasila untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran hebat tersebut.

Pancasila tidak lagi hanya berhadapan dengan konflik ideologi fisik, melainkan perang pemikiran (ghazwul fikr) yang perlahan namun pasti mengikis rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

Tantangan eksternal ini diperparah oleh kondisi internal bangsa Indonesia, salah satunya adalah kualitas berpikir dan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cenderung masih rendah dalam memilah informasi. Rendahnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis membuat sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi konsumen pasif dari tren global tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya bagi moralitas bangsa. Apabila Ideologi Pancasila tidak bisa menjaga nilai yang terkandung di dalamnya dan tidak diaktualisasikan secara nyata, maka semakin lama nilai Pancasila akan terkikis habis oleh globalisasi. Hal ini dikarenakan bagaimana pun juga globalisasi adalah hal nyata yang tidak dapat dihindari oleh bangsa Indonesia, sehingga strategi pertahanan terbaik bukan mengisolasi diri, melainkan memperkuat fondasi internal.

B. Pancasila sebagai Filter Kebudayaan dan Sistem Nilai Asing

Sebagai pandangan hidup bangsa (way of life), Pancasila memiliki fleksibilitas sekaligus ketegasan prinsip. Pancasila dengan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa serta menjunjung tinggi budaya ketimuran haruslah dipegang teguh oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia agar nilai-nilainya tidak tergeser oleh budaya asing. Dasar Ketuhanan mengarahkan bangsa agar kemajuan IPTEK tidak membuat manusia melupakan moralitas spiritual, sementara budaya ketimuran menekankan pada nilai kesopanan, gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan.

Pancasila tidak menutup mata dari kemajuan zaman. Kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka memungkinkannya menyerap nilai-nilai universal yang positif dari globalisasi seperti kedisiplinan, profesionalisme, etos kerja tinggi, kesadaran hukum, dan kepedulian terhadap HAM. Namun, proses penyerapan ini wajib melalui proses penyaringan (filtrasi) ketat.

Segala bentuk nilai yang bertentangan dengan Pancasila—seperti radikalisme, liberalisme ekstrem, pergaulan bebas, dan materialisme—harus ditolak secara tegas demi menyelamatkan keutuhan berbangsa dan bernegara.

C. Implementasi Nilai Pancasila bagi Generasi Muda

Menghadapi masifnya perubahan karakter akibat globalisasi, rekayasa edukasi dan implementasi nilai Pancasila harus ditanamkan secara dinamis sejak dini. 

Menurut Asmaroini (2016), implementasi nilai-nilai Pancasila di era globalisasi memegang peranan krusial sebagai pedoman perilaku siswa dan generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan sosial. Penanaman nilai ini tidak boleh lagi sekadar hafalan teoretis yang kaku, melainkan harus dikontekstualisasikan ke dalam praktik kehidupan sehari-hari dan memanfaatkan teknologi informasi itu sendiri sebagai media edukasi.

Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh untuk menguatkan jiwa nasionalisme generasi muda meliputi:

1. Revitalisasi Pendidikan Karakter: Mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan formal dengan metode pembelajaran yang interaktif dan berbasis problem-solving.

2. Pemanfaatan Media Digital: Membanjiri ruang digital dengan konten-konten edukatif kreatif yang bernuansa nasionalisme, toleransi, dan kebudayaan lokal untuk mengimbangi dominasi budaya asing.

3. Pengembangan Kualitas SDM: Meningkatkan literasi dan kemampuan berpikir kritis masyarakat agar mampu memanfaatkan globalisasi ekonomi dan teknologi demi kemajuan bangsa, bukan justru menjadi korban dari globalisasi tersebut.

III. KESIMPULAN

Globalisasi dan modernisasi membawa dinamika baru yang tidak dapat dibendung oleh bangsa Indonesia. Di satu sisi, fenomena ini membuka peluang kemajuan teknologi, keterbukaan ekonomi, dan kesadaran isu global. Di sisi lain, ia mengancam moral, karakter, dan jiwa nasionalisme generasi muda akibat infiltrasi kebudayaan asing. Dalam situasi kritis ini, Pancasila membuktikan peran vitalnya sebagai ideologi negara sekaligus filter kebudayaan. Berlandaskan nilai Ketuhanan dan kearifan budaya ketimuran, Pancasila mengarahkan masyarakat untuk tetap berdiri teguh di atas kepribadian bangsa sendiri. Agar nilai-nilai luhur Pancasila tidak terkikis zaman, diperlukan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas SDM serta mengimplementasikan nilai Pancasila secara dinamis, adaptif, dan berkelanjutan dalam kehidupan bernegara.(*)


DAFTAR PUSTAKA

Asmaroini, A. P. (2016). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi Siswa Di Era Globalisasi.

Citizenship Jurnal Pancasila Dan Kewar

ganegaraan, 4(2), 440. https://doi.org/

10.25273/citizenship.v4i2.1077