HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Ketika Bahasa Kehilangan Etika di Media Sosial

Foto/Ilustrasi Kehadiran media sosial telah mengubah cara orang Indonesia berinteraksi. Platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook ...

Foto/Ilustrasi

Kehadiran media sosial telah mengubah cara orang Indonesia berinteraksi. Platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memberikan kesempatan bagi semua orang untuk mengungkapkan pendapat, berbagi informasi, dan mengekspresikan perasaan dengan leluasa. Kebebasan ini tentunya memberikan manfaat karena memperbesar ruang untuk berdiskusi dan ikut serta dalam perdebatan umum. Namun, di sisi lain, ada masalah yang tidak kalah penting, yaitu semakin memudarnya norma-norma dalam berkomunikasi di zaman digital ini.

Bahasa tidak hanya memiliki tugas untuk berkomunikasi, namun juga menggambarkan pandangan dan nilai-nilai dalam budaya seseorang. Cara orang memilih dan menyampaikan kata-kata menunjukkan seberapa besar penghargaan mereka kepada orang lain. Di dalam media sosial yang bersifat umum, penggunaan bahasa yang sopan seharusnya tetap dijaga. 

Namun, yang terjadi adalah kolom komentar sering kali dipenuhi dengan ucapan yang kasar, pernyataan penuh kebencian, sindiran yang berlebihan, hingga perilaku cyberbullying. Situasi saat ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang pentingnya etika dalam berbahasa masih cukup rendah dalam budaya komunikasi.

Turunnya etika penggunaan bahasa di media sosial tidak bisa dipisahkan dari adanya anonimitas. Banyak orang merasa lebih bebas untuk menyampaikan pendapat tanpa memperhatikan efek psikologis atau sosial dari kata-kata yang mereka tuliskan. Ketidakadaan interaksi langsung membuat beberapa orang cenderung mengabaikan norma-norma kesopanan yang biasanya dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, budaya viral juga turut andil dalam membentuk cara berbahasa, di mana komentar yang provokatif sering dipakai untuk menarik perhatian dan mendapatkan tanggapan dari pengguna internet lainnya.

Kebebasan berbicara yang diberikan oleh media sosial sering kali disalah pahami sebagai kebebasan yang tanpa batas. Namun, setiap pendapat yang diungkapkan tetap membutuhkan tanggung jawab. Perbedaan pendapat dan kritik sebaiknya disampaikan dengan cara yang tidak merendahkan atau menyakiti orang lain. Menggunakan bahasa yang sopan dan mendukungnya dengan alasan yang jelas bisa mendorong terjadinya diskusi yang baik dan memperkaya perspektif di dunia digital.

Oleh karena itu, perlu ada kesadaran bersama untuk membangun etika berbahasa di platform media sosial. Setiap orang yang menggunakan platform tersebut harus merasa bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan menyenangkan. 

Sebelum memberikan komentar atau membagikan konten, penting untuk memikirkan pilihan kata dan efeknya pada orang lain. Selain itu, peningkatan kemampuan membaca dan menulis digital juga harus dilakukan agar masyarakat dapat mengerti perbedaan antara kebebasan berbicara dan tanggung jawab sosial.

Dapat diambil kesimpulan bahwa platform media sosial tidak hanya sebagai alat untuk bersenang- senang dan berbagi informasi, tetapi juga merupakan tempat budaya yang menunjukkan cara orang berbicara. Saat tata krama berbahasa diabaikan, kualitas interaksi digital pun akan menurun. Dengan menjaga sopan santun, menghormati perbedaan, dan bertanggung jawab dalam berkomunikasi, media sosial bisa menjadi tempat berkomunikasi yang lebih baik dan berbudaya seiring dengan kemajuan teknologi yang cepat.[]

Penulis :

Erliana Nuriani, mahasiswa Universitas Pamulang