Intan merupakan anak dari pasangan Jamil MZ (43) dan Nunuk Nurhayati (30), warga Desa Ngogri Kecamatan Megaluh, Jombang. Sama halnya den...
Intan merupakan anak dari pasangan Jamil MZ (43) dan Nunuk Nurhayati
(30), warga Desa Ngogri Kecamatan Megaluh, Jombang. Sama halnya dengan
Intan, baik Jamil maupun Nunuk juga cukup bersahabat dengan binatanag
melata tersebut. Praktis, warga setempat kerap menyebut keluarga Jamil
dengan keluarga ular.
Kecintaan Intan terhadap hewan berbisa itu bukan sekedar main-main. Setiap sore, bocah yang masih duduk di kelas 5 SD ini berlatih menari. Sedangkan ular sahabatnya itu bergelantung di pundak sang bocah. "Saya dari kecil ingin menjadi penari ular," kata Intan ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (9/6/2012).
Anehnya, meski diajak menari dengan iringan musik, ular seukuran lengan anak kecil itu tidak berontak. Bahkan, mematuk juga tidak. Padahal, mulut hewan yang dikenal ganas itu tidak dipasang lakban atau plester. Praktis, penampilan bocah kelas 5 SD di halaman rumahnya itu selalu menjadi tontonan gratis bagi warga sekitar.
Jamil sendiri tidak pernah khawatir kalau anaknya dipatuk hewan reptil tersebut ketika menari atau bermain-main. Dia beralasan, sejak masih bayi antara Intan dan ular-ular itu sudah bersahabat. "Meski berbisa, namun kalau kita pelihara dengan baik bisa menjadi sahabat," ujar pimpinan ludruk Jombang Jaya ini sembari mengatakan bahwa ular tersebut juga kerap dibawa ke sekolah oleh Intan.
Jamil mengatakan, ia memelihara delapan ekor ular di rumahnya, di antaranya, jenis sanca kembang, piton, dan weling. Bapak satu anak ini juga berencana menambah koleksinya lagi. "Yang di rumah sudah ada delapan ular. Rencananya akan saya tambah lagi," katanya sembari memperlihatkan ular yang dimaksud.
Apakah ada keahlian khusus untuk menjinakkan ular-ular itu? Seniman ludruk ini hanya menggelengkan kepala. Menurutnya, jika hewan berbisa itu diperlakukan dengan baik, maka hasilnya juga baik alias tidak liar. "Saya bukan pawang ular. Ya sekedar insting saja untuk menjinakkannya," katanya merendah.
Soal kedekatan Intan dengan ular-ular piarannya, Jamil punya cerita tersendiri. Saat itu, istrinya sedang hamil tiga bulan. Waktu mengandung Intan itulah, istrinya ngidam memelihara ular. Tak ingin mengecewakan sang istri, Jamil kemudian memelihara hewan reptil tersebut. Sejak itulah keluarga Jamil akrab dengan ular. "Jadi sejak balita anak saya sudah akrab dengan ular-ular itu," katanya berkisah.
Jamil juga bercerita, pernah suatu hari ular peliharaannya mati karena terkena penyakit. Ketika mengetahui hal itu, Intan menangis sedih selama tiga hari. "Jadi saya akan terus memelihara ular-ular itu. Kalau bisa malah saya tambah koleksi lagi, bukan hanya 8 ekor," katanya mengulang. | Inilah.com
Kecintaan Intan terhadap hewan berbisa itu bukan sekedar main-main. Setiap sore, bocah yang masih duduk di kelas 5 SD ini berlatih menari. Sedangkan ular sahabatnya itu bergelantung di pundak sang bocah. "Saya dari kecil ingin menjadi penari ular," kata Intan ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (9/6/2012).
Anehnya, meski diajak menari dengan iringan musik, ular seukuran lengan anak kecil itu tidak berontak. Bahkan, mematuk juga tidak. Padahal, mulut hewan yang dikenal ganas itu tidak dipasang lakban atau plester. Praktis, penampilan bocah kelas 5 SD di halaman rumahnya itu selalu menjadi tontonan gratis bagi warga sekitar.
Jamil sendiri tidak pernah khawatir kalau anaknya dipatuk hewan reptil tersebut ketika menari atau bermain-main. Dia beralasan, sejak masih bayi antara Intan dan ular-ular itu sudah bersahabat. "Meski berbisa, namun kalau kita pelihara dengan baik bisa menjadi sahabat," ujar pimpinan ludruk Jombang Jaya ini sembari mengatakan bahwa ular tersebut juga kerap dibawa ke sekolah oleh Intan.
Jamil mengatakan, ia memelihara delapan ekor ular di rumahnya, di antaranya, jenis sanca kembang, piton, dan weling. Bapak satu anak ini juga berencana menambah koleksinya lagi. "Yang di rumah sudah ada delapan ular. Rencananya akan saya tambah lagi," katanya sembari memperlihatkan ular yang dimaksud.
Apakah ada keahlian khusus untuk menjinakkan ular-ular itu? Seniman ludruk ini hanya menggelengkan kepala. Menurutnya, jika hewan berbisa itu diperlakukan dengan baik, maka hasilnya juga baik alias tidak liar. "Saya bukan pawang ular. Ya sekedar insting saja untuk menjinakkannya," katanya merendah.
Soal kedekatan Intan dengan ular-ular piarannya, Jamil punya cerita tersendiri. Saat itu, istrinya sedang hamil tiga bulan. Waktu mengandung Intan itulah, istrinya ngidam memelihara ular. Tak ingin mengecewakan sang istri, Jamil kemudian memelihara hewan reptil tersebut. Sejak itulah keluarga Jamil akrab dengan ular. "Jadi sejak balita anak saya sudah akrab dengan ular-ular itu," katanya berkisah.
Jamil juga bercerita, pernah suatu hari ular peliharaannya mati karena terkena penyakit. Ketika mengetahui hal itu, Intan menangis sedih selama tiga hari. "Jadi saya akan terus memelihara ular-ular itu. Kalau bisa malah saya tambah koleksi lagi, bukan hanya 8 ekor," katanya mengulang. | Inilah.com