Hingga hari ini, hubungan warga empat Kampung yang mendiami Kampung terpencil di Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang belum dikateg...
Hingga hari ini, hubungan warga empat Kampung yang mendiami Kampung terpencil di Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang belum dikategorikan lancar dan maksimal. Pasalnya Alur (Parit) berada dijalan menuju ke Kampung Suka Makmur, Kampung Sulum, Kampung Juar dan Kampung Pematang Durian belum memiliki jembatan.
Meski dulu di Alur Mengkloah pernah dibangun jembatan secara swadaya oleh masyarakat, namun setelah jembatan yang hanya terbuat dari batang kelapa (tanpa lantai) tersebut sudah lapuk karena termakan usia dan bergeser terbawa arus air ketika banjir, kini jalan tersebut sudah mati karena tidak dilalui lagi.
Datok Penghulu Kampung Sulum, Saparuddin baru-baru ini di Karang Baru menyatakan, karena sudah tidak ada jalan darat lagi, jika warga di empat Desa tersebut ingin mengunjungi salah satu Desa diantaranya, mereka terpaksa memilih lewat jalur air dengan armada sampan maupun melalui Kecamatan Bandar Pusaka.
Namun Kata Saparuddin lagi, jika ingin mencapai jalan Kecamatan Bandar Pusaka warga harus menyeberang sungai terlebih dahulu dengan menumpang Boat sebagai sarana penyeberangan. Yang kemudian harus menyeberang sungai lagi ke Kampung yang dituju.
“Bayangkan saja, bagaimana sulitnya warga kami disana. Dari Satu Kampung ke Kampung lainnya saja sangat sulit. Kami berharap agar Pemerintah segera membangun jembatan, agar kami bisa memiliki jalan darat sebagai sarana penghubung antar warga”, papar Saparuddin.
Dengan tidak lancarnya arus hubungan antar warga Kampung, Saparuddin beranggapan kalau warganya serta warga tiga Desa lainnya seperti layaknya sebagai warga marjinal yang terbuang dan tersisi dari warga lainnya.
“Kami berharap dengan sangat kepada Pemerintah agar memberikan solusi dan kemudahan kepada kami, agar kami bisa terhindar dari anggapan bahwa kami sebagai masyarakat yang paling terasing di Bumi Muda Sedia ini”, keluh Saparuddin. | Soeparmin
Meski dulu di Alur Mengkloah pernah dibangun jembatan secara swadaya oleh masyarakat, namun setelah jembatan yang hanya terbuat dari batang kelapa (tanpa lantai) tersebut sudah lapuk karena termakan usia dan bergeser terbawa arus air ketika banjir, kini jalan tersebut sudah mati karena tidak dilalui lagi.
Datok Penghulu Kampung Sulum, Saparuddin baru-baru ini di Karang Baru menyatakan, karena sudah tidak ada jalan darat lagi, jika warga di empat Desa tersebut ingin mengunjungi salah satu Desa diantaranya, mereka terpaksa memilih lewat jalur air dengan armada sampan maupun melalui Kecamatan Bandar Pusaka.
Namun Kata Saparuddin lagi, jika ingin mencapai jalan Kecamatan Bandar Pusaka warga harus menyeberang sungai terlebih dahulu dengan menumpang Boat sebagai sarana penyeberangan. Yang kemudian harus menyeberang sungai lagi ke Kampung yang dituju.
“Bayangkan saja, bagaimana sulitnya warga kami disana. Dari Satu Kampung ke Kampung lainnya saja sangat sulit. Kami berharap agar Pemerintah segera membangun jembatan, agar kami bisa memiliki jalan darat sebagai sarana penghubung antar warga”, papar Saparuddin.
Dengan tidak lancarnya arus hubungan antar warga Kampung, Saparuddin beranggapan kalau warganya serta warga tiga Desa lainnya seperti layaknya sebagai warga marjinal yang terbuang dan tersisi dari warga lainnya.
“Kami berharap dengan sangat kepada Pemerintah agar memberikan solusi dan kemudahan kepada kami, agar kami bisa terhindar dari anggapan bahwa kami sebagai masyarakat yang paling terasing di Bumi Muda Sedia ini”, keluh Saparuddin. | Soeparmin
