HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Menimbang Ruh dalam Angka: Krisis "Skizofrenia" Asesmen Agama

Muhamad Shendyka Lentera24.com - Pendidikan Agama Islam (PAI) hari ini sedang berdiri di depan cermin yang retak. Di tengah gemuruh transfo...

Muhamad Shendyka

Lentera24.com - Pendidikan Agama Islam (PAI) hari ini sedang berdiri di depan cermin yang retak. Di tengah gemuruh transformasi digital, ada satu noktah yang luput dari evaluasi serius namun menjadi penentu denyut nadi pendidikan: asesmen. Dalam PAI, asesmen bukan sekadar urusan angka di atas kertas, melainkan sebuah pertanggungjawaban teologis. Namun, jika kita jujur secara radikal, praktik penilaian kita saat ini sedang mengalami krisis identitas yang akut.

Labirin Administratif yang Dingin

Kita terjebak dalam labirin administratif yang kaku. Keberagamaan siswa diukur lewat kemampuan menghafal definisi, sementara getaran iman di dalam dada seolah tak punya tempat dalam skala penilaian. Kita menyederhanakan kompleksitas spiritualitas manusia ke dalam soal pilihan ganda yang kering.

Kita menuntut siswa memilih jawaban "paling tepat" tentang konsep keikhlasan, padahal ikhlas adalah laku batin yang hanya bisa dirasakan dalam amal nyata. Kita menguji fikih lewat hafalan rukun dan syarat, namun gagap mengukur sejauh mana ibadah itu membentuk karakter yang welas asih. Fenomena ini menciptakan "skizofrenia edukatif": siswa cerdas secara kognitif dalam materi agama, namun mengalami kekeringan spiritual dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan Agama: Menjadi, Bukan Mengisi

Kelemahan mendasar asesmen kita adalah sifatnya yang mekanistik. Kita memperlakukan siswa layaknya bejana kosong yang diisi data. Padahal, pendidikan agama adalah sebuah perjalanan ontologis—proses untuk menemukan hakikat diri di hadapan Sang Pencipta.

Jika asesmen hanya berhenti pada level kognitif, kita sebenarnya sedang mencetak "ahli agama" yang hampa. Mereka fasih bicara dalil, tapi gagap memberi solusi atas problem kemanusiaan. Keanggunan sebuah penilaian seharusnya terletak pada kemampuannya menangkap keunikan perkembangan spiritual setiap individu. Memaksakan satu ukuran seragam untuk semua siswa adalah bentuk ketidakadilan intelektual yang terbungkus rapi dalam jubah kurikulum.

Dari "Algojo Nilai" Menuju Mursyid Pembimbing

Asesmen seringkali menjadi momok yang menciptakan jarak antara guru dan murid. Ketika fungsi guru bergeser dari seorang mursyid (pembimbing rohani) menjadi sekadar "algojo nilai", maka hubungan spiritual itu seketika retak.

Asesmen seharusnya menjadi dialog yang hangat. Sudahkah umpan balik yang kita berikan menyentuh motivasi batiniah, atau hanya koreksi teknis atas kesalahan tulis? Penilaian yang berkarakter adalah yang mampu membangkitkan rasa muhasabah (introspeksi). Siswa seharusnya tergerak memperbaiki diri bukan karena takut angka merah, melainkan karena kesadaran sebagai hamba Allah.

Tantangan Zaman dan Luka Integritas

Di era Generasi Z dan Alpha, asesmen PAI harus berevolusi. Kita tidak bisa lagi terjebak pada romantisme masa lalu tanpa menghubungkannya dengan realitas modern. Kurangnya inovasi seperti penilaian berbasis proyek sosial atau portofolio pengabdian membuat PAI kehilangan daya tarik.

Lebih ironis lagi, dalam mata pelajaran yang paling kencang menyuarakan kejujuran, praktik ketidakjujuran seringkali terjadi demi mengejar prestise sekolah. Ini adalah luka di jantung pendidikan kita. Jika seorang siswa mendapat nilai sempurna dalam ujian tauhid dengan cara menyontek, maka ia telah gagal secara fundamental. Kita tidak boleh lebih merayakan angka seratus hasil kecurangan daripada angka enam puluh hasil kejujuran yang berdarah-darah.

Penutup

Menghadirkan asesmen PAI yang penuh karakter berarti menempatkan siswa sebagai subjek yang merdeka. Kita perlu membiasakan self-assessment untuk melatih otot nurani mereka. Inilah esensi dari Ihsan: menyadari pengawasan Ilahi sehingga pengawasan manusia dalam ujian tertulis tidak lagi krusial.

Berhentilah mendewakan hasil akhir dan mulailah menghargai peluh dalam proses. Jangan biarkan angka-angka dingin di rapor membunuh semangat pencarian Tuhan dalam diri siswa. Kita memerlukan reformasi asesmen yang berbasis pada cinta dan kebijaksanaan, bukan ancaman dan ketakutan. Mari jadikan evaluasi sebagai jembatan menuju langit—sebuah langkah nyata membumikan nilai-nilai suci dalam realitas kemanusiaan.(*)

Penulis Muhamad Shendyka adalah Mahasiswa Semester 2 Fakultas FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia