Lentera24.com | BANDA ACEH - Ada yang berbeda di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Sabtu malam (5/9/2026). Di bawah te...
Lentera24.com | BANDA ACEH - Ada yang berbeda di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Sabtu malam (5/9/2026). Di bawah temaram lampu aula bersejarah itu, apresiasi hangat mengalir untuk Pemerintah Kota Banda Aceh. Sang Wali Kota, Illiza Sa'aduddin Djamal, berdiri menerima penghargaan bergengsi sebagai Wali Kota Penggerak Inovasi Daerah dalam ajang SMSI Aceh Awards 2026 dari Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh.
Penghargaan ini bukan sekadar piala pajangan di atas meja kerja. Di baliknya, tersimpan cerita tentang ikhtiar panjang menghadirkan negara di tengah-tengah warga.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kadiskominfotik) Banda Aceh, Muhammad Zubir, memandang penghargaan tersebut sebagai cerminan kerja kolektif. Bagi Zubir, piala ini adalah milik setiap tangan yang bekerja di balik layar birokrasi hingga denyut nadi warga kota yang aktif berpartisipasi.
Lima Langkah Nyata Membangun Kota
Sebuah kota yang hebat diukur dari bagaimana ia merawat warganya yang paling rentan dan memupuk potensi anak mudanya. Di Banda Aceh, komitmen itu diterjemahkan melalui lima program unggulan yang kini menjadi sorotan publik:
Banda Aceh Academy: Wadah strategis untuk mengasah potensi, keterampilan, dan daya saing masyarakat agar siap menghadapi dinamika zaman yang terus berubah.
Puskesmas Keliling: Wujud kehadiran layanan kesehatan jemput bola, memastikan akses medis merdeka menghampiri warga hingga ke sudut-sudut permukiman.
Seniman Masuk Sekolah: Ruang temu kreatif di mana kebudayaan dan kearifan lokal dirawat langsung oleh para seniman di ruang-ruang kelas, menjaga akar identitas generasi muda agar tidak tercerabut dari budayanya.
Dokter Saweu Sikula: Program jemput sehat ke sekolah-sekolah, mengajarkan anak-anak kita sejak dini tentang pentingnya kesadaran menjaga kesehatan fisik dan mental.
Penetapan Banda Aceh sebagai Kota Parfum: Sebuah terobosan identitas berbasis ekonomi kreatif yang mengangkat keharuman lokal ke panggung yang lebih luas, memadukan tradisi wewangian Aceh dengan geliat modern.
Program-program ini dirancang bukan di atas meja birokrat yang jauh dari realitas, melainkan lahir dari kebutuhan nyata di lapangan—mulai dari layanan dasar kesehatan, pelestarian budaya, hingga penguatan ekonomi kreatif.
Keberlanjutan yang Bertumpu pada Kolaborasi
Sebuah inovasi sering kali mudah diresmikan, namun berat dipertahankan. Menyadari tantangan ini, Pemko Banda Aceh berkomitmen menjaga napas panjang dari kelima program tersebut. Tujuannya sederhana namun fundamental: memastikan manfaatnya merata tanpa ada warga yang tertinggal.
Masa depan kota tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan APBD atau instruksi dari atas meja. Pembangunan yang inklusif dan berdaya saing membutuhkan keterlibatan aktif dari semua pihak—mulai dari akademisi, pelaku usaha lokal, hingga masyarakat luas.
Ruang-ruang dialog kini dibuka lebar seluas-luasnya. Ketika warga tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan ikut merancang gagasan kreatif, di situlah sebuah kota bertransformasi menjadi rumah yang hidup dan penuh inspirasi bagi daerah lain di negeri ini.[]L24.Sai
