Oleh: Lugina Auliya Salwa Mahasiswi Semester VI, Prodi Pendidikan Agama Islam, STIT Madani Yogyakarta “ Dan katakanlah: bekerjalah kamu, m...
Oleh: Lugina Auliya Salwa Mahasiswi Semester VI, Prodi Pendidikan Agama Islam, STIT Madani Yogyakarta
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105)
Lentera24.com - Administrasi pendidikan sering dipandang sebagai urusan yang bersifat teknis dan dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.(Mustari, 2022) Namun, di lembaga pendidikan Islam, administrasi memiliki peran krusial dalam memastikan keteraturan sistem pendidikan serta mencerminkan nilai-nilai disiplin yang ada dalam Islam.
Di sisi lain, kemajuan zaman memerlukan sistem administrasi yang lebih teratur, cepat, dan berorientasi pada data. Sekolah-sekolah Islam juga tidak dapat menghindari tuntutan ini. Walau demikian, dalam penerapannya, tidak semua institusi mampu beradaptasi dengan perubahan ini secara maksimal.
Daripada berfungsi sebagai alat yang mendukung, terkadang administrasi berubah menjadi tugas yang menyita waktu dan perhatian. Hal ini menyebabkan munculnya masalah antara menjaga keteraturan administrasi dan mempertahankan mutu pembelajaran.(Bijani et al., 2024)
Beberapa dinamika yang sering muncul di lapangan:
Ketergantungan pada sistem lama.
Sebagian lembaga pendidikan masih menggunakan sistem administrasi tradisional. Keadaan ini menyebabkan kegiatan pencatatan dan pelaporan menjadi kurang efisien di tengah tuntutan yang semakin rumit.(Hidayatullah, 2025)
Pembagian tugas yang belum proporsional.
Sering kali, seorang guru menjalankan berbagai fungsi, mulai dari memberikan pelajaran hingga menangani urusan administrasi. Situasi ini dapat mengurangi konsentrasi dan efektivitas di salah satu bidang.(Kusumawati, 2023)
Tuntutan akuntabilitas yang semakin tinggi.
Sekolah perlu untuk lebih terbuka mengenai berbagai aspek, seperti laporan anggaran, kemajuan siswa, hingga penilaian program. Hal ini menjadi suatu tantangan khusus jika tidak didukung oleh sistem yang memadai.(Muktamar et al., 2023)
Dalam pandangan pendidikan Islam, manajemen tidak hanya terbatas pada pencatatan atau penyimpanan, melainkan merupakan upaya untuk mempertahankan ketertiban (nizham) dalam kehidupan.(Rachman, 2021) Ketertiban ini merupakan salah satu faktor utama yang mendukung terbentuknya suasana belajar yang baik.
Namun, perlu diperhatikan bahwa pengelolaan yang baik tidak selalu berkaitan dengan jumlah dokumen yang dihasilkan, melainkan seberapa baik sistem tersebut dapat mendukung tujuan pendidikan dengan cara yang efektif.
Karena alasan tersebut, lembaga pendidikan Islam harus mulai mengembangkan sistem manajemen yang lebih responsif, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang menjadi identitasnya. Keselarasan antara kompetensi dan aspek spiritual menjadi faktor penting agar pengelolaan tidak hanya teratur, tetapi juga memiliki makna sebagai ibadah.
Akhirnya, pengelolaan yang efisien akan memungkinkan lembaga pendidikan Islam tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk tumbuh di tengah tantangan zaman.(*)&
Referensi Utama
Bijani, H. L., Siregar, E. N., Mutia, Z., & Rizqa, M. (2024). Urgensi administrasi pendidikan bagi peningkatan mutu pendidikan. PANDU: Jurnal Pendidikan Anak Dan Pendidikan Umum, 2(2), 29–43.
Hidayatullah, M. S. (2025). Transformasi administrasi pendidikan di sekolah dasar: Menuju pengelolaan sekolah yang modern dan adaptif. Khatulistiwa, 6(1), 1–14.
Kusumawati, E. (2023). Efektivitas kerja guru. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(3), 1487–1492.
Muktamar, A., Iswahyudi, M. S., Salong, A., Wote, A. Y. V., Rahmatiyah, R., Riyadi, S., Kusumawati, M., Rohaeti, L., & Leuwol, F. S. (2023). Manajemen pendidikan: Konsep, tantangan, dan strategi di era digital. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Mustari, M. (2022). Administrasi dan manajemen pendidikan sekolah. Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Rachman, F. (2021). Modernisasi Manajemen Pendidikan Islam. IRCiSoD.
