Triana Salsabila Hanafah NIM : 251010550730 Kelas : SMJK 004 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang Lentera24.com - Perkembanga...
Lentera24.com - Perkembangan teknologi digital telah merombak total wajah dunia bisnis. Kehadiran sistem kerja remote dan hybrid kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan standar baru yang menawarkan fleksibilitas ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan ini, muncul sebuah tantangan psikologis dan operasional yang paradoks: Fake Productivity.
Ilusi Kesibukan di Balik Layar
Fake productivity adalah kondisi di mana seseorang terjebak dalam aktivitas yang tampak "sibuk"—seperti membalas chat dengan cepat, menghadiri rentetan rapat virtual, atau melakukan multitasking—namun gagal menghasilkan output yang substansial. Dalam dunia digital, garis antara produktivitas nyata dan sekadar "terlihat aktif" menjadi sangat tipis.
Mengapa Kita Terjebak?
Ada beberapa faktor yang menyuburkan fenomena ini dalam ekosistem kerja modern:
Budaya Absensi Digital: Adanya tekanan sosial untuk selalu terlihat online atau segera membalas pesan agar dianggap bekerja keras.
Kelelahan Rapat (Zoom Fatigue): Rapat virtual yang beruntun sering kali hanya menghabiskan energi tanpa keputusan yang konkret.
Obsesi pada Aktivitas, Bukan Hasil: Manajemen yang masih menilai kinerja berdasarkan jam kerja atau intensitas interaksi di platform komunikasi, bukan pada kualitas capaian.
Dampak Nyata bagi Bisnis
Jika dibiarkan, fake productivity bukan hanya sekadar masalah individu, tapi ancaman bagi organisasi. Inefisiensi operasional akan meningkat sementara kualitas kerja justru merosot. Lebih jauh lagi, karyawan berisiko mengalami burnout atau kelelahan mental karena mereka merasa terus bekerja tanpa benar-benar menyelesaikan sesuatu yang berarti.
Beralih ke Kualitas, Bukan Kuantitas
Untuk menghadapi tantangan ini, dunia bisnis perlu melakukan pergeseran paradigma dalam strategi manajemen:
Orientasi Hasil (Output-Based): Berhenti memantau seberapa lama karyawan online dan mulai fokus pada target yang tercapai.
Rapat yang Efektif: Kurangi frekuensi rapat dan pastikan setiap pertemuan memiliki agenda serta tujuan yang jelas.
Budaya Kerja Fokus (Deep Work): Memberikan ruang bagi karyawan untuk bekerja tanpa gangguan pesan instan agar mereka bisa menghasilkan karya yang lebih dalam dan berkualitas.
Kesimpulan
Era digital menuntut kita untuk bekerja lebih cerdas, bukan sekadar lebih keras. Kesibukan tidak pernah menjadi sinonim dari produktivitas. Tanpa kesadaran untuk membedakan keduanya, kita hanya akan terjebak dalam rutinitas tanpa makna yang perlahan mengikis kesehatan mental dan performa bisnis secara keseluruhan.(*)
Referensi:
Drucker, P. F. (2018). The Effective Executive.
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Burnout at Work.
Robbins, S. P., & Coulter, M. (2020). Management.

