HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Dilema Guru Madrasah: Terjepit di Antara Tugas Mengajar dan Gunungan Administrasi

Oleh: T. Mifta Khurohmah Mahasiswi Semester VI, Prodi PAI, STIT Madani Yogyakarta Lentera24.com - Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, namun ...



Oleh: T. Mifta Khurohmah
Mahasiswi Semester VI, Prodi PAI, STIT Madani Yogyakarta

Lentera24.com - Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, namun cahaya lampu dari ruang kerja seorang guru madrasah masih benderang. Di hadapannya bukan tumpukan kertas ujian yang sedang dikoreksi, melainkan layar laptop yang menampilkan barisan kolom aplikasi pendataan. Ada rasa lelah yang menggelayut, bukan karena letih mendidik santri di kelas, melainkan karena "tuntutan administratif" yang seolah tidak pernah ada habisnya.

Potret ini adalah cermin dari realitas guru madrasah di Indonesia saat ini. Mereka sedang berada dalam dilema besar: di satu sisi harus menjaga kualitas pengajaran dan karakter santri, di sisi lain mereka "dipaksa" menjadi administrator yang handal.

Beban Ganda Kurikulum

Guru di bawah naungan madrasah atau sekolah Islam memiliki tantangan yang unik dan jauh lebih kompleks dibanding sekolah umum. Mereka sering kali harus berhadapan dengan dualisme kebijakan kurikulum. Sebagai lembaga di bawah Kementerian Agama, madrasah wajib mengisi aplikasi EMIS, namun di saat yang sama, sinkronisasi dengan Dapodik atau sistem lainnya sering kali menambah daftar panjang pekerjaan di depan layar.

Belum lagi jika kita bicara soal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), laporan evaluasi, hingga administrasi sertifikasi yang prosedurnya kerap berganti. Energi guru yang seharusnya habis untuk memikirkan metode mengajar yang kreatif, justru terkuras untuk memastikan setiap kolom data terisi dengan benar.

Saat "Kertas" Menggeser "Karakter"

Madrasah dan sekolah Islam dikenal dengan kelebihannya dalam penanaman akhlak dan pembinaan karakter. Hubungan antara guru dan santri bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transfer nilai. Namun, apa yang terjadi jika sang guru terlalu sibuk dengan urusan administratif?

"Administrasi memang penting sebagai indikator kualitas, namun ia jangan sampai membunuh kreativitas guru dalam mendidik."

Ketika seorang guru lebih mengkhawatirkan kelengkapan dokumen daripada pemahaman santrinya, maka esensi dari pendidikan Islam sedang dipertaruhkan. Guru yang stres karena tekanan administrasi akan sulit memberikan energi positif dan kesabaran ekstra yang dibutuhkan dalam membina karakter santri.

Digitalisasi: Solusi atau Beban Baru

Pemerintah dan lembaga pendidikan sering kali menawarkan digitalisasi sebagai solusi. Namun, tanpa infrastruktur yang memadai dan penyederhanaan birokrasi, digitalisasi justru bisa menjadi beban baru. Guru madrasah yang berada di pelosok atau yang sudah senior sering kali kesulitan beradaptasi dengan sistem yang dinamis.

Solusi yang dibutuhkan bukanlah menambah aplikasi baru, melainkan integrasi data. Cukup satu pintu pendataan yang efektif. Selain itu, sudah saatnya setiap madrasah memiliki tenaga administrasi khusus yang kompeten, sehingga tugas guru murni kembali ke khitahnya: mengajar, mendidik, dan menginspirasi.

Mengembalikan Senyum Guru Kita semua mendambakan madrasah yang maju dan modern. Namun, modernitas tidak boleh diukur hanya dari rapinya berkas administrasi, melainkan dari seberapa berkualitas interaksi di dalam kelas.Memerdekakan guru dari "gunungan" administrasi adalah langkah awal untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam. Biarkan mereka kembali ke kelas dengan senyum yang tulus, energi yang penuh, dan pikiran yang jernih untuk mencetak generasi Rabbani. Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun di atas tumpukan dokumen, melainkan di dalam hati dan pikiran para santri.(*)