Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Tiga bulan sudah berlalu sejak banjir bandang November 2025 meluluhlantakkan Bumi Muda Sedia. Namun, bagi pa...
Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Tiga bulan sudah berlalu sejak banjir bandang November 2025 meluluhlantakkan Bumi Muda Sedia. Namun, bagi para atlet dan pemuda di Aceh Tamiang, luka itu tak kunjung mengering. Bukan hanya karena rumah yang terendam, melainkan karena "rumah kedua" mereka lapangan olahraga kini dibiarkan mati suri tanpa kepastian.
Kekecewaan mendalam menyelimuti para pegiat olahraga. Hingga Maret 2026, aktivitas olahraga di daerah ini nyaris vakum total. Lapangan sepak bola, futsal, basket, hingga tenis yang dulu riuh dengan tawa dan prestasi, kini hanya menyisakan hamparan lumpur kering dan kerusakan yang memilukan.
Kelambanan Pemerintah: Dimana Nurani untuk Pemuda?
Tokoh olahraga Aceh Tamiang, Saiful Alam, SE, tidak mampu lagi membendung keresahannya. Sosok yang dinobatkan sebagai Pelaku Olahraga Terbaik se-Aceh 2025 ini menilai pemerintah daerah seolah menutup mata terhadap matinya nadi olahraga di Tamiang.
"Sudah lebih dari seratus hari pasca bencana, tapi tidak ada satu pun sarana olahraga yang perbaikan. Seolah-olah olahraga ini hanya sekadar hobi sampingan, padahal ini adalah nyawa bagi generasi muda kita agar terhindar dari pengaruh negatif," ujar Saiful dengan nada bergetar.
Ketua DPC Porlasi Aceh Tamiang ini mengkritik keras ketiadaan langkah konkret, bahkan untuk hal sekecil pendataan. Tanpa data kerusakan yang akurat, mustahil bantuan dari pemerintah pusat bisa dikucurkan.
"Logikanya sederhana: bagaimana pusat mau bantu kalau kita sendiri malas mendata? Jangan diamkan masalah ini seolah-olah lapangan akan sembuh dengan sendirinya. Rakyat butuh kerja nyata, bukan pembiaran," tegas Sekretaris PS Muda Sedia tersebut.
Ironi Huntara: Lapangan Bola Dirusak, Tanah HGU Melimpah
Kritik paling tajam tertuju pada kebijakan pembangunan Hunian Sementara (Huntara). Saiful menyayangkan kebijakan penyedia yang justru merusak fasilitas sepak bola untuk dijadikan lokasi pengungsian atau Huntara.
Ini adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Di tengah luasnya lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang mendominasi 80% wilayah Aceh Tamiang, pemerintah justru "mengorbankan" lapangan bola yang sulit dibangun kembali.
"Mengapa harus lapangan bola yang dikorbankan? Kita punya tanah HGU yang sangat luas. Merusak lapangan untuk Huntara itu seperti mematikan masa depan atlet demi solusi jangka pendek yang dipaksakan. Ini kebijakan yang tidak punya visi," cetusnya kecewa.
Kini, para pemuda Aceh Tamiang hanya bisa menatap nanar ke arah lapangan yang berubah fungsi menjadi puing dan bangunan darurat. Mereka kehilangan ruang untuk berekspresi, sementara birokrasi tampak masih terlelap dalam kelambanan.
Masyarakat kini menagih janji: Apakah pemerintah akan terus membiarkan generasi muda "berolahraga" di atas lumpur, atau segera bertindak sebelum bakat-bakat emas daerah ini hilang ditelan abainya kebijakan?[]
