Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Negara seolah-olah kehilangan indra pendengarannya di Pematang Durian. Hampir 100 hari pasca-bencana banjir ...
Lentera24.com | ACEH TAMIANG – Negara seolah-olah kehilangan indra pendengarannya di Pematang Durian. Hampir 100 hari pasca-bencana banjir November 2025 melanda, warga Kecamatan Sekerak ini masih terbelenggu krisis air bersih yang memilukan. Ironisnya, di tengah jargon "pelayanan publik", warga justru dibiarkan mengonsumsi air yang tak layak huni, sementara pemerintah daerah terkesan "mati rasa".
Kekeringan sumur massal yang melanda kampung yang memiliki 130 KK ini bukanlah fenomena alam biasa, melainkan alarm darurat yang diabaikan. Kadus Bahagia Mustadi mengungkapkan fakta pahit sumur warga mati total selama sebulan penuh. Selama itu pula, pemenuhan kebutuhan dasar warga hanya bergantung pada belas kasihan mobil tangki yang kebetulan melintas.
"Sumur kering semua sudah sebulan. Selama ini kami hanya minta bantuan kalau ada mobil tangki lewat. Tidak ada distribusi resmi yang rutin," ujar Burhanuddin dengan nada penuh keprihatinan, Rabu (11/3/2026).
Simbol paling menyayat hati terlihat di Masjid Babut Taqwa, Kampung Pematang Durian Tempat suci yang seharusnya menjadi tempat yang bersih justru tak dialiri air setetes pun.
Dampaknya, warga terpaksa turun ke sungai untuk berwudhu—menggunakan air keruh pekat yang oleh warga disebut mirip "warna kopi mix".
Ini bukan sekadar masalah teknis sumur kering, melainkan penghinaan terhadap martabat warga yang harus bersuci dengan air yang berisiko membawa penyakit kulit hingga diare. Di mana letak prioritas anggaran daerah jika untuk air wudhu saja rakyat harus berjibaku dengan lumpur?
Keterlambatan respons ini memicu kritik pedas dari Ketua Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Aceh, Nasruddin. Ia menegaskan bahwa krisis ini adalah bukti nyata pemerintah daerah gagal menjamin keberlangsungan hidup korban banjir.
"Warga Pematang Durian adalah korban bencana November lalu. Mereka belum pulih, sekarang ditambah beban tidak punya air. Pemerintah jangan cuma datang saat seremonial banjir, tapi abai pada dampak jangka panjangnya!" tegas Nasruddin. Ia menuntut tindakan nyata, bukan sekadar koordinasi di atas kertas.
Mengetuk Pintu Langit dan Tangan Dermawan
Melihat lambannya mesin birokrasi, harapan kini digantungkan pada para donatur dan pihak swasta. Warga sudah kelelahan harus "mengemis" air ke kampung tetangga demi memenuhi kebutuhan masak dan minum.
Risiko penyakit menular akibat penggunaan air sungai yang keruh meningkat setiap harinya.
Tidak adanya distribusi air rutin menjadikan warga Pematang Durian seperti terisolasi di tanah sendiri.
"Kasihan warga, mau ambil air harus ke kampung sebelah. Kami memohon, kiranya ada donatur yang tergerak hatinya. Kami hanya ingin hidup normal seperti warga lainnya," ungkap salah seorang warga yang menolak menyerah pada keadaan.
Pematang Durian hari ini adalah cermin retak pelayanan publik di Aceh Tamiang. Pertanyaannya: butuh berapa lama lagi bagi pemerintah untuk menyadari bahwa air adalah hak asasi, bukan barang mewah yang harus ditunggu hingga berbulan-bulan?[]L24.Sai

