HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Sekolah Kejar Angka, Karakter Ketinggalan: Catatan Seorang Mahasiswi PBSI di Ruteng

Fransiska Natasya Ego, Mahasiswi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng Lentera24.com - Pendidikan di Nusa Tenggara Timur berada di persimpangan ja...

Fransiska Natasya Ego, Mahasiswi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng



Lentera24.com - Pendidikan di Nusa Tenggara Timur berada di persimpangan jalan. Akses pendidikan semakin terbuka, tetapi orientasinya masih terjebak pada angka di atas kertas.

Banyak sekolah mengukur keberhasilan hanya dari nilai ujian. Siswa dengan nilai 90 dianggap berhasil, sedangkan siswa dengan nilai 60 dianggap gagal. Padahal, nilai tinggi tidak selalu menjamin karakter yang baik.

Kalimat efektif seharusnya menjadi fondasi pendidikan. Namun, masih banyak siswa yang belum mampu menyusun kalimat yang jelas, padat, dan logis. Kondisi ini menunjukkan pembelajaran belum menyentuh keterampilan /critical thinking/ atau berpikir kritis.

Menurut Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), kalimat efektif harus memenuhi lima syarat: kesepadanan struktur, kehematan kata, kecermatan diksi, kejelasan makna, dan kelogisan. Jika syarat tersebut diterapkan secara konsisten, kualitas literasi siswa di NTT akan meningkat.

Persoalan lain adalah kesenjangan antara teori dan praktik. Banyak lulusan belum mampu menerapkan /literacy/ secara kontekstual dan menulis sesuai kaidah EBI. Untuk itu, mahasiswa PBSI perlu turun langsung melalui /field study/ dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).

Melalui PLP, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan empati di sekolah mitra. PLP bukan formalitas, melainkan ruang /humanis/ untuk membentuk karakter.

Pendidikan yang baik bukan menghasilkan siswa yang pintar menghafal, melainkan manusia yang jujur, peduli, dan mampu berkarya. Jika karakter terbangun, nilai akan mengikuti dengan sendirinya.(*)