HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Menembus Isolasi: Peran ORARI Wilayah Timur Aceh dalam Komunikasi Darurat Banjir Aceh Tamiang

Lentera24.com - Bencana banjir dan banjir bandang yang menghantam Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 memicu kelumpuhan total (...

Lentera24.com - Bencana banjir dan banjir bandang yang menghantam Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 memicu kelumpuhan total (blackout) pada infrastruktur telekomunikasi dan jaringan listrik. Kondisi isolasi ini menghambat alur informasi mengenai situasi kritis daerah terdampak kepada Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendokumentasikan peran strategis Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Wilayah Timur Aceh, khususnya inisiatif Ichsan (YB6CX), dalam membangun saluran komunikasi darurat berbasis frekuensi radio High Frequency (HF). 

Melalui pemanfaatan radio amatir dan catu daya mandiri, informasi kondisi riil masyarakat berhasil ditransmisikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Aceh, yang kemudian menjadi penentu utama dikirimkannya bantuan logistik udara pertama. Kajian ini juga menekankan urgensi dukungan Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi perangkat radio komunikasi di pos-pos pantau kawasan hulu, tengah, dan hilir guna membentuk sistem peringatan dini (early warning system) yang tangguh dan berkelanjutan.

Kata Kunci: Radio Amatir, ORARI Wilayah Timur Aceh, Komunikasi Darurat, Banjir Aceh Tamiang, Sistem Peringatan Dini, Pos Pantau.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara geografis dan topografis, Kabupaten Aceh Tamiang merupakan wilayah yang dialiri oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang yang membentang dari kawasan pegunungan hulu hingga ke wilayah pesisir hilir. Kondisi fisiografis ini menjadikan Aceh Tamiang sebagai salah satu kawasan yang tergolong sangat rawan terhadap bencana hidro-meteorologi, khususnya banjir dan banjir bandang.

Pada akhir November 2025, banjir skala besar melanda wilayah ini. Selain merusak permukiman dan fasilitas umum, dampak paling krusial pada fase awal bencana adalah lumpuhnya seluruh infrastruktur telekomunikasi seluler, jaringan internet, serta pasokan listrik secara total sejak tanggal 26 November 2025. Terputusnya sarana komunikasi modern menciptakan kondisi isolasi (blackout), sehingga laporan kebencanaan tidak dapat ditransmisikan keluar daerah. Asumsi awal di tingkat provinsi yang menganggap kondisi Aceh Tamiang masih relatif aman berpotensi menghambat pengambilan keputusan tanggap darurat.

Dalam situasi krisis ketika teknologi telekomunikasi modern mengalami kegagalan fungsi (single point of failure), jaringan radio amatir hadir sebagai sarana komunikasi darurat yang paling andal. Aksi sigap ORARI Wilayah Timur Aceh, khususnya melalui dedikasi saudara Ichsan (call sign YB6CX), menjadi faktor penentu dalam menembus barikade isolasi informasi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana alur pembentukan dan operasionalisasi jaringan komunikasi darurat oleh ORARI Wilayah Timur Aceh di tengah kelumpuhan infrastruktur telekomunikasi?

Bagaimana peranan inisiatif Ichsan (YB6CX) dan ORARI Wilayah Timur Aceh dalam menyampaikan kondisi riil bencana Aceh Tamiang kepada pihak BNPB dan Pemerintah Provinsi Aceh?

Apa dampak langsung dari terhubungnya jaringan radio darurat tersebut terhadap percepatan penanganan tanggap darurat dan penyaluran bantuan?

Mengapa diperlukan dukungan dan fasilitasi perangkat radio dari Pemerintah Daerah untuk pos-pos pantau di kawasan hulu, tengah, dan hilir Aceh Tamiang?

1.3 Tujuan Penulisan

Menganalisis langkah teknis dan taktis pengoperasian radio amatir dalam kondisi darurat bencana.

Mendokumentasikan kontribusi historis ORARI Wilayah Timur Aceh sebagai penyambung informasi utama antara Pemkab Aceh Tamiang, Pemprov Aceh, dan BNPB.

Merumuskan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Daerah dalam memperkuat sistem mitigasi dan peringatan dini berbasis radio amatir di sepanjang aliran hulu, tengah, dan hilir.

2. METODE TINJAUAN

Tulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan metode studi kasus eksplanatoris. Rekonstruksi fakta dilakukan berdasarkan urutan kronologis peristiwa penanganan darurat bencana banjir Aceh Tamiang periode 26–30 November 2025. Sumber data meliputi dokumentasi alur komunikasi frekuensi radio, laporan lapangan BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, serta kesaksian interaksi para pihak yang terlibat meliputi personel ORARI Wilayah Timur Aceh, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, dan BNPB.

3. PEMBAHASAN DAN HASIL

3.1 Kelumpuhan Jaringan dan Inisiasi Komunikasi Darurat

Pada 26 November 2025 sekitar pukul 09.00 WIB, seluruh menara pemancar seluler dan jaringan data di Kabupaten Aceh Tamiang berhenti beroperasi akibat terendam banjir dan terputusnya arus listrik. Upaya awal tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang untuk mencari akses sinyal hingga ke daerah perbatasan Lima Mungkur, Sumatra Utara, tidak membuah hasil.

Sekitar pukul 17.30 WIB, terjadi pertemuan tanpa sengaja antara petugas BPBD dengan saudara Ichsan (YB6CX), anggota ORARI Wilayah Timur Aceh, di sebuah kawasan Payah Bedi (Bukit Rata). Mengetahui daruratnya kondisi lapangan, Ichsan menginisiasi penggunaan perangkat radio High Frequency (HF) miliknya yang memiliki jangkauan gelombang tak terbatas oleh hambatan terestrial lokal.

Dengan mengandalkan akumulator (aki) mobil pribadi sebagai sumber daya darurat di tengah pemadaman listrik total, stasiun komunikasi darurat didirikan di kediamannya di Kompleks Prabu Rifa. Tepat pukul 17.00 WIB, pengoperasian stasiun radio dimulai dengan memanfaatkan frekuensi kerja darurat ORARI pada gelombang 7.110 MHz.

Proses penembusan isolasi informasi ini bergerak secara sistematis. Berawal dari keterisolasian daerah akibat kelumpuhan listrik dan sinyal seluler, stasiun darurat milik Ichsan (YB6CX) difungsikan menggunakan aki mobil dan frekuensi radio HF 7.110 MHz. Gelombang sinyal ini kemudian berhasil ditangkap oleh ORARI Pusat dan ORARI Banda Aceh, yang selanjutnya meneruskan laporan darurat tersebut secara langsung ke pihak BNPB dan Pemerintah Provinsi Aceh.

3.2 Transmisi Informasi Riil dan Penetapan Fakta Bencana

Melalui frekuensi 7.110 MHz, pesan darurat pertama berhasil dipancarkan dan diterima oleh ORARI Pusat pada pukul 18.00 WIB untuk diteruskan secara berjenjang kepada Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB. Pada 27 November 2025, komunikasi langsung berhasil terhubung dengan Direktur Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB yang sedang bertugas memantau wilayah Sumatra Utara.

Di tingkat daerah, Jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menjadikan stasiun darurat YB6CX sebagai satu-satunya sarana komando. Bupati Aceh Tamiang melakukan komunikasi langsung dengan pihak luar dari stasiun radio tersebut. Sinyal dan percakapan suara direkam oleh anggota ORARI Banda Aceh untuk diteruskan secara resmi ke Posko Utama Gubernur Aceh. Rekaman otentik ini menjadi bukti tidak terbantahkan yang mengubah pandangan Pemerintah Provinsi Aceh mengenai keparahan kondisi di Aceh Tamiang, yang sebelumnya diinformasikan dalam kondisi aman.

3.3 Dampak Nyata: Penyelamatan dan Pemulihan Akses

Keberhasilan penyampaian data faktual melalui frekuensi radio ini memicu tindakan tanggap darurat secara masif:

Pendaratan Logistik Udara Pertama (29 November 2025): Pada pukul 15.30 WIB, helikopter pertama BNPB mendarat di lapangan bola Kompleks Prabu Rifa (500 meter dari stasiun YB6CX) dengan membawa 65 paket bantuan logistik darurat.

Pendaratan Lanjutan dan Pemulihan Jaringan (30 November 2025): Helikopter BNPB melakukan empat kali penerbangan lanjutan. Atas koordinasi Dandim 0117/Aceh Tamiang via jaringan radio, bantuan perangkat komunikasi Starlink dan generator set (genset) berhasil didaratkan untuk membuka komunikasi publik secara bertahap.

3.4 Rekomendasi Pengembangan: Optimalisasi Pos Pantau Hulu, Tengah, dan Hilir

Pengalaman bencana ini membuktikan bahwa radio amatir adalah benteng terakhir (last line of defense) sistem komunikasi bencana. Namun, pengoperasian radio amatir tidak boleh hanya bersifat insidental saat bencana terjadi.

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki karakteristik wilayah sungai yang kompleks. Untuk memaksimalkan fungsi ORARI dalam pencegahan dan mitigasi bencana, diperlukan dukungan konkret dari Pemerintah Daerah setempat melalui fasilitasi dan pengadaan perangkat radio komunikasi di pos-pos pantau strategis yang terbagi atas tiga zona utama:

Pertama, pada zona hulu yang merupakan kawasan pegunungan dan daerah tangkapan air, penempatan perangkat radio komunikasi VHF/HF sangat berguna untuk memantau curah hujan dan potensi luapan air secara dini sebelum mengalir deras ke kawasan pemukiman.

Kedua, pada zona tengah yang berfungsi sebagai kawasan penyangga dan pusat pemerintahan, penempatan stasiun pengulang (repeater) serta perangkat radio bertindak sebagai pusat pengolahan data elevasi air sekaligus stasiun penghubung (relay station) informasi antarwilayah.

Ketiga, pada zona hilir yang melingkupi kawasan pesisir dan muara sungai, penempatan perangkat radio amatir krusial untuk memantau dampak luapan air pasang (rob) serta memandu koordinasi evakuasi warga di daerah endapan terakhir.

Alur pemantauan darurat ini saling terhubung dari hulu hingga hilir. Deteksi awal curah hujan dari pos hulu ditransmisikan melalui sinyal radio ke pos tengah untuk diolah bersama BPBD dan Pemerintah Daerah. Informasi tersebut kemudian diteruskan secara cepat ke pos hilir sebagai peringatan dini evakuasi bagi masyarakat di kawasan pesisir.

Dengan adanya bantuan penyediaan perangkat terintegrasi seperti radio RIG, Handy Talkie, catu daya panel surya, dan pemeliharaan pemancar dari Pemerintah Daerah kepada ORARI di seluruh pos pantau hulu, tengah, dan hilir, sistem peringatan dini (Early Warning System) Aceh Tamiang akan bekerja jauh lebih cepat dan akurat tanpa terkendala matinya jaringan seluler.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dalam kondisi kelumpuhan infrastruktur komunikasi total saat bencana banjir Aceh Tamiang November 2025, ORARI Wilayah Timur Aceh melalui saudara Ichsan (YB6CX) berhasil menjadi satu-satunya jembatan komunikasi (single point of communication) yang menghubungkan daerah terdampak dengan dunia luar.

Transmisi informasi berbasis frekuensi radio HF 7.110 MHz membuktikan perannya dalam meluruskan disinformasi kondisi lapangan, sehingga memicu pendaratan helikopter logistik BNPB dan pemulihan alat komunikasi modern.

Ketergantungan penuh pada teknologi seluler saat bencana merupakan kerentanan besar. Oleh karena itu, radio amatir perlu dilembagakan dalam sistem pemantauan kebencanaan daerah dari hulu hingga hilir.

4.2 Saran

Pengadaan Perangkat oleh Pemda: Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama BPBD diharapkan mengalokasikan anggaran untuk penyediaan dan pemeliharaan perangkat radio komunikasi ORARI di pos-pos pantau hulu, tengah, dan hilir.

Integrasi Kebijakan: Memasukkan ORARI Wilayah Timur Aceh secara resmi dalam Rencana Kontinjensi Bencana dan Tim Satgas Peringatan Dini Bencana Daerah.

Pelatihan dan Simulasi Berkelanjutan: Menyelenggarakan latihan galang udara (field day) dan simulasi komunikasi darurat terpadu secara berkala yang melibatkan personel pos pantau hulu-hilir, BPBD, TNI/Polri, dan Relawan ORARI.(*)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2025). Pedoman Penyelenggaraan Komunikasi Darurat Penanggulangan Bencana. Jakarta: BNPB.

Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). (2025). Prosedur Operasi Standar Komunikasi Radio Kebencanaan (EmComm). Jakarta: ORARI Pusat.

Laporan Kebencanaan BPBD Kabupaten Aceh Tamiang. (2025). Dokumentasi dan Evaluasi Tanggap Darurat Bencana Banjir Aceh Tamiang November 2025. Karang Baru: BPBD Aceh Tamiang.