Lentera24.com - Setiap kali kebakaran hutan terjadi, fokus utama yang sering disorot adalah seberapa luas lahan yang terbakar, dampak terha...
Lentera24.com - Setiap kali kebakaran hutan terjadi, fokus utama yang sering disorot adalah seberapa luas lahan yang terbakar, dampak terhadap kerusakan lingkungan, dan upaya untuk memadamkannya. Padahal, ada suatu hal yang tak kalah penting namun sering kita lupakan, yakni nasib pendidikan yang harus dikorbankan akibat kabut asap. Ketika udara tidak lagi aman untuk dihirup, dan berakhir sekolah tidak dapat berjalan seperti biasa. Anak-anak yang seharusnya melakukan pembelajaran diruang kelas justru mengalami ketidakpastian dalam pembelajaran, seperti perubahan jadwal pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi hingga ketetapan pembelajaran dilakukan dari jarak jauh (PJJ). Dalam situasi ini, api bukan hanya membakar vegetasi dan gambut dihutan, melainkan bisa mengancam pada kesempatan pendidikan anak yang layak.
Persoalan tersebut bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Pada 8 September 2026, Save the Children Indonesia menerbitkan laporan mengenai dampak kabut asap terhadap anak-anak. Organisasi tersebut menyebut lebih dari 1,4 juta siswa di wilayah terdampak Indonesia telah beralih ke pembelajaran daring atau jarak jauh ketika kualitas udara berada pada tingkat berbahaya. Laporan yang sama menyebut sekitar 12.800 sekolah di Kalimantan dan Sumatra masih ditutup berdasarkan data pemerintah. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga mengganggu keberlangsungan pendidikan dalam skala besar.
Situasi nyata bisa kita lihat di Kalimantan yang memperlihatkan betapa seriusnya persoalan ini. Dalam laporan pada 1 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai sekitar 38.310,86 hektare hingga 28 September 2026. Penanganannya pun masih berlangsung hingga hari ini. Bahkan, pemberitaan pada pertengahan Oktober melaporkan bahwa kabut asap dari Kalimantan dan Sumatra meluas hingga Malaysia dan Singapura. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dampak dari kurhutla tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi masyarakat yang beraktivitas sehari-hari, termasuk aktivitas anak-anak yang menempuh pendidikan.
Masalahnya ketika sekolah terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh dan seringkali dianggap bahwa hal tersebut adalah sebuah solusi yang terbaik guna memepertahankan pembelajaran tetap berlangsung. Padahal, realitanya memindahkan pembelajaran kerumah atau media online belum tentu pemahaman yang didapat bisa setara dengan pembelajaran tatap muka. Keberhasilan pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada ketersediaan perangkat, jaringan internet, listrik, dan kondisi rumah yang mendukung. Semua hal tersebut tidak semua siswa memilikinya, anak-anak dari keluarganya berpenghasilan rendah dan masyarakat yang sulit dijangkau berpotensi menghadapi hambatan yang lebih besar dibandingkan dengan siswa yang memiliki akses teknologi yang memadai.
Dampak karhutla terhadap pendidikan berkaitan erat pula dengan kesehatan anak. Anak-anak termasuk kelompok paling rentan terhadap pencemaran udara karena organ pernapasan dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Save the Children Indonesia menjelaskan paparan partikel halus PM2.5 bisa menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama bagi anak-anak. Batuk dan sesak napas akibat kabut asap jelas membuat anak sulit beraktivitas, termasuk mengikuti pelajaran. Pendidikan dalam kondisi seperti ini tidak bisa dinilai sekadar dari ada tidaknya materi dan tugas dari guru. Kesehatan yang terganggu membuat proses belajar mustahil berjalan maksimal. Keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan pendidikan selama karhutla.
Pemerintah perlu menyadari kondisi ini bahwa karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan, tetapi menyangkut masa depan pendidikan anak. Penanganan selama ini belum cukup jika hanya berfokus memadamkan api setelah kebakaran meluas. Pencegahan harus berjalan sejak awal, mulai dari pengawasan pembukaan lahan, perlindungan kawasan gambut, sampai penegakan hukum terhadap pihak pelanggar. Kebijakan pendidikan di daerah terdampak pun harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pembelajaran jarak jauh bisa menjadi pilihan saat udara tidak memungkinkan anak datang ke sekolah, tetapi pelaksanaannya wajib mempertimbangkan kendala nyata seperti keterbatasan akses internet, fasilitas belajar di rumah, dan kemampuan orang tua mendampingi anak. Kebijakan yang niatnya menjadi solusi tidak boleh malah melahirkan masalah baru bagi siswa dengan fasilitas terbatas.
Peran sekolah dan guru tidak kalah penting untuk menjaga pendidikan tetap berjalan selama karhutla. Keputusan menggelar tatap muka atau beralih ke PJJ saat kualitas udara memburuk harus berpijak pada kondisi nyata, bukan sekadar mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan. Guru perlu menyesuaikan metode belajar dan porsi tugas saat pembelajaran dilakukan dari rumah agar siswa tidak makin terbebani. Bantuan berupa perangkat belajar, akses internet, dan materi alternatif perlu diperhatikan khusus bagi siswa dengan keterbatasan fasilitas. Sekolah juga tidak bisa langsung menganggap pembelajaran kembali normal begitu kondisi membaik. Materi yang tertinggal perlu ditinjau ulang dan siswa perlu didampingi agar ketertinggalan belajar bisa dikejar. Dampak karhutla terhadap pendidikan tidak boleh dibiarkan berlanjut meski kabut asap sudah hilang.
Kabut asap akibat karhutla mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan membawa dampak jauh lebih luas dari bayangan selama ini. Persoalan karhutla tidak cukup dihitung dari luas lahan terbakar, jumlah hutan rusak, atau biaya pemadaman. Kesempatan belajar anak yang terganggu, kesehatan yang terancam, dan kesenjangan pendidikan yang makin lebar antara siswa berkecukupan dan siswa berketerbatasan juga perlu diperhitungkan. Dampak tersebut sering tidak terlihat langsung, tetapi bisa memengaruhi keberlangsungan pendidikan anak dalam jangka panjang. Penanganan karhutla semestinya turut memperhitungkan kerugian dunia pendidikan, bukan hanya kerusakan fisik lingkungan yang kasatmata.
Anak-anak bukan pihak yang menentukan cara lahan dibuka, cara hutan dikelola, maupun cara pengawasan lingkungan dijalankan. Akan tetapi, setiap kali kebakaran terjadi dan kabut asap menyelimuti tempat tinggal mereka, anak-anak justru ikut menanggung akibatnya. Mereka harus menghadapi gangguan kesehatan, perubahan rutinitas harian, sampai ketidakpastian mengikuti pelajaran. Melindungi anak dari dampak karhutla dalam situasi ini bukan hanya soal menjaga kesehatan dan kelestarian lingkungan, melainkan wujud tanggung jawab memenuhi hak anak atas pendidikan layak. Upaya memadamkan api harus berjalan seiring dengan pencegahan kebakaran dan pemulihan pembelajaran. Musim kebakaran tidak boleh terus datang dan pendidikan anak kembali menjadi korban yang terlupakan. (*)
REFERENSI:
Save the Children Indonesia. (2026, 8 September). Kabut asap kebakaran hutan Indonesia menyebar ke Asia Tenggara, mengancam kesehatan anak dan mengganggu pembelajaran 1,4 juta siswa. https://savethechildren.or.id/artikel/kabut-asap-kebakaran-hutan-indonesia-menyebar-ke-asia-tenggara-mengancam-kesehatan-anak-dan-mengganggu-pembelajaran-14-juta-siswa
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2026, 1 Oktober). Perkembangan situasi dan penanganan bencana di Tanah Air 1 Oktober 2026. PPID BNPB. https://ppid.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-1-oktober-2026-Mju7
Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Riau. (2026, 29 Agustus). Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://bpmpriau.kemendikdasmen.go.id/2026/08/29/surat-edaran-menteri-pendidikan-dasar-dan-menengah-republik-indonesia-nomor-tahun-tentang-penyelenggaraan-layanan-pendidikan-pada-satuan-pendidikan-di-daerah-terdampak-asap-kebakaran-hutan-dan/
Wirawan, N. A. (2026, 11 Oktober). Asap Karhutla Kalimantan sampai Malaysia-Singapura, risiko masih tinggi. detikKalimantan. https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8701611/asap-karhutla-kalimantan-sampai-malaysia-singapura-risiko-masih-tinggi
Oleh: Naili Nur Fauziyah, Semester 3, Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
