HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Jangan Sampai Tergantikan: Menjaga Peran Manusia dalam Pendidikan Berbasis Teknologi

Ferna Deflinda Jamon Semester 1 FKIP Unika St.Paulus Ruteng  Lentera24.com - Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dun...


Ferna Deflinda Jamon Semester 1 FKIP Unika St.Paulus Ruteng 

Lentera24.com - Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kehadiran internet, platform pembelajaran digital, dan kecerdasan buatan (*Artificial Intelligence/AI*) memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh informasi dan memahami materi pelajaran. Proses belajar yang dahulu terbatas pada ruang kelas dan buku kini dapat dilakukan melalui berbagai perangkat digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar membuat manusia semakin cerdas, atau justru membuatnya semakin bergantung pada kemudahan yang ditawarkan?

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk dalam bidang pendidikan. Peserta didik dapat memanfaatkan teknologi untuk mencari referensi, memahami konsep yang sulit, dan mengembangkan kreativitas. Guru pun dapat menggunakan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Akan tetapi, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan secara optimal apabila teknologi digunakan secara tepat. Ketika peserta didik mulai mengandalkan teknologi untuk menjawab setiap pertanyaan tanpa berusaha memahami persoalannya, proses belajar berisiko kehilangan makna.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya ketergantungan terhadap kecerdasan buatan dalam mengerjakan tugas akademik. Dengan beberapa perintah sederhana, peserta didik dapat memperoleh rangkuman, jawaban soal, bahkan tulisan yang tampak lengkap dan sistematis. Kemudahan ini memang menghemat waktu, tetapi tidak selalu menjamin terjadinya proses belajar. Peserta didik yang hanya menyalin jawaban tanpa memeriksa kebenaran dan memahami isinya mungkin dapat menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu menguasai materi yang dipelajari. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada penyelesaian tugas, melainkan membentuk kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Di sinilah pentingnya menjaga peran manusia dalam pendidikan berbasis teknologi. Kecerdasan buatan dapat mengolah informasi dan menghasilkan jawaban, tetapi hasil tersebut tetap perlu diperiksa, dipertimbangkan, dan dipahami oleh manusia. Peserta didik harus mampu menilai apakah informasi yang diperoleh dapat dipercaya, apakah argumen yang disampaikan masuk akal, dan apakah jawaban yang diberikan sesuai dengan persoalan. Kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya dengan menerima informasi, tetapi melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, bertanya, menganalisis, dan mengemukakan pendapat berdasarkan pemahaman sendiri.

Selain peserta didik, guru juga memiliki peran yang tidak dapat diabaikan. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik membangun pengetahuan, mengembangkan karakter, dan memahami nilai-nilai kehidupan. Teknologi dapat menyediakan materi pembelajaran, tetapi pendidikan juga membutuhkan keteladanan, empati, komunikasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan setiap peserta didik. Oleh karena itu, penggunaan teknologi tidak seharusnya menghilangkan hubungan manusiawi antara guru dan peserta didik. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk mendukung peran guru agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna.

Namun, tanggung jawab menghadapi perkembangan teknologi tidak dapat dibebankan kepada peserta didik dan guru saja. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menyediakan fasilitas digital yang memadai, meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, serta menyusun pedoman penggunaan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Literasi digital juga harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Peserta didik perlu diajarkan cara memeriksa sumber informasi, melindungi data pribadi, menghargai hak cipta, dan menghindari plagiarisme. Dengan demikian, mereka tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga memahami konsekuensi dari penggunaannya.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman yang harus ditolak, tetapi sebagai perkembangan yang perlu disikapi secara kritis dan bijaksana. Tantangan terbesar pendidikan saat ini bukanlah sekadar mengikuti kecanggihan teknologi, melainkan memastikan bahwa manusia tetap menjadi pengendali atas penggunaannya. Jangan sampai kemudahan memperoleh jawaban membuat kita kehilangan keberanian untuk berpikir, bertanya, dan mencari kebenaran. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus terus belajar menjadi bijaksana. Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan generasi yang mampu menggunakan teknologi, melainkan generasi yang mampu berpikir mandiri, bertindak bertanggung jawab, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.(*)